
FOTO-FOTO hitam putih, potongan surat kabar, dokumen keulamaan dan bahkan buku-buku lama dipajang di Lobi Gedung PAU UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pameran itu seolah membawa pengunjung ke masa-masa awal berdirinya UIN Sunan Kalijaga yang kala itu masih bernama Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri atau PTAIN.
Deretan perjalanan panjang yang mengingatkan cita-cita dan keinginan serta perjuangan para pendahulu ini dihadirkan dalam Pameran Arsip bertajuk “RINTISAN: Jejak yang Tak Terhapus, Lintas Waktu 1951-1961: Membaca Ulang Akar Identitas. Pameran yang digelar mulai Senin hingga Sabtu tersebut menjadi kado indah dies natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga.
Pembukaan pameran digelar pada Senin (21/9/2026) dan dihadiri Rektor Prof. Noorhaidi Hasan beserta jajaran pimpinan di lingkungan UIN Sunan Kalijaga. Hadir pula Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Fhaisol Muslim mewakili Pakualaman, Bimo Unggul Yudho mewakili Mangkubumi, serta keluarga Prof. K.H. R. Muhammad Adnan dan Prof. Dr. H. Muchtar Jahja, dua tokoh yang meletakkan dasar perkembangan PTAIN.
Fase perjalanan universitas

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi Hasan menyampaikan penghargaan dan apresiasi atas inisiatif tim arsiparis menghadirkan kembali fase penting dalam perjalanan universitas. Menurut dia, sejarah UIN Sunan Kalijaga memiliki akar panjang yang bahkan telah dibicarakan sebelum Indonesia merdeka.
Rektor menyebutkan, dari pameran tersebut ditemukan embrio pendidikan tinggi Islam yang bermula dari pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI), kemudian berlanjut pada kelahiran Universitas Islam Indonesia (UII). Pada 1951, Menteri Agama K.H. Wahid Hasyim menandatangani piagam yang menandai beroperasinya PTAIN.
“Tema yang diangkat dalam pameran ini sangat penting. Arsip mengingatkan kita pada jasa luar biasa para founding fathers UIN Sunan Kalijaga. Dua nama besar yang menjadi peletak dasar pembangunan UIN Sunan Kalijaga adalah K.H. R. Muhammad Adnan dan Muchtar Jahja. Keduanya selalu melekat dalam jejak sejarah perkembangan universitas ini,” ujarnya.
Bagi Prof. Noorhaidi, sejarah bukan sekadar catatan tentang masa lalu. Sejarah menjadi pijakan yang membantu sebuah lembaga memahami arah perjalanannya. Tanpa pijakan tersebut, institusi berisiko kehilangan orientasi di tengah perubahan zaman.
Penyangga republik
“Para pendahulu kita selalu berpikir dalam kerangka nasionalisme agar Indonesia dapat terwujud dengan baik. Pendirian PTAIN menjadi salah satu pilar penting dalam menyangga republik yang baru hadir. Hal ini menandai bahwa UIN Sunan Kalijaga tidak pernah lepas dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia,” katanya.
Pameran ini digelar menjelang Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga yang diperingati pada 26 September 2026. Rentang 75 tahun memperlihatkan perubahan besar, dari PTAIN yang tumbuh dalam kesederhanaan menjadi universitas dengan bidang keilmuan yang semakin luas.
“Saat ini, UIN Sunan Kalijaga memiliki 9 fakultas dan Pascasarjana dengan sekitar 84 program studi di berbagai jenjang mencakup ilmu-ilmu keagamaan, sosial-humaniora, sains, teknologi, hingga kedokteran. Perkembangan tersebut menempatkan UIN Sunan Kalijaga dalam peta akademik nasional dan internasional, tanpa meninggalkan akar sejarah yang membentuk identitasnya,” ungkap Rektor.
Kreativitas arsiparis
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pelaksana Pameran Arsip, Wahyu Setyaningsih, menjelaskan bahwa pameran tersebut merupakan persembahan Unit Arsip Universitas dalam rangka Dies Natalis ke-75. Pameran sekaligus menjadi bentuk kreativitas arsiparis dalam membawa dokumen keluar dari ruang penyimpanan agar dapat berbicara kepada generasi hari ini.
“Arsip bukan sekadar tumpukan dokumen yang disimpan, melainkan memori kolektif, sumber pengetahuan, dan bagian dari identitas kelembagaan,” katanya.
Figur yang juga pernah mendapat penghargaan Arsiparis Teladan Kemenag ini juga menyampaikan, pameran tersebut menjadi pameran arsip pertama yang diselenggarakan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri. Untuk mewujudkannya, tim melakukan penelusuran terhadap berbagai sumber sejarah perjalanan PTAIN.
Sebanyak 48 foto historis berhasil dikumpulkan dan 38 di antaranya ditampilkan. Tim juga menelusuri 36 surat kabar lama, dengan 16 terbitan terpilih untuk dipamerkan. Selain itu, terdapat 17 dokumen arsip keulamaan dengan sembilan dokumen yang ditampilkan, dua dokumen peraturan, serta sejumlah buku karya para tokoh.
Membaca ulang akar identitas
Enam buku karya yang belum dapat diakuisisi dihadirkan melalui foto sampul. Adapun tiga buku lainnya dipinjam dari keluarga tokoh dan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Pameran juga dilengkapi sebuah video dokumenter yang merekam kesaksian keluarga Prof. Muhammad Adnan, Prof. Muchtar Jahja, dan Dr. Mohammad Damami.
Seluruh materi tersebut, lanjut Aning — sapaan Wahyu Setyaningsih disusun dalam sejumlah bagian, yakni Timeline, PTAIN dalam Berita, PTAIN dalam Foto, PTAIN dalam Rekam Arsip Keulamaan, Karya Buku, serta PTAIN dalam Video Dokumenter.
“Melalui berbagai arsip tersebut, kami mengajak pengunjung melihat kembali bagaimana PTAIN dirintis, bagaimana para tokoh membangun pendidikan tinggi Islam, serta bagaimana perjalanan itu menjadi bagian dari sejarah UIN Sunan Kalijaga hingga hari ini,” ujarnya.
Membaca ulang akar identitas, lanjut dia, berarti memahami bahwa UIN Sunan Kalijaga tidak lahir dalam satu malam. Universitas ini dibangun melalui perjalanan panjang yang melibatkan pemikiran, perjuangan, dan kontribusi banyak tokoh.
Pemanfaatan arsip sebagai sumber pengetahuan
Figur yang juga merupakan Kepala Unit Arsip UIN Sunan Kalijaga ini berharap pameran tersebut menjadi awal dari tradisi pemanfaatan arsip sebagai sumber pengetahuan dan pembelajaran sejarah di lingkungan universitas. Kesadaran merawat arsip perlu tumbuh bersama pemahaman bahwa setiap dokumen menyimpan bagian dari memori dan identitas lembaga.
“Sejarah adalah jejak yang ditinggalkan, arsip adalah cara kita menjaganya, dan generasi hari ini adalah penyambungnya,” tuturnya.
Mewakili Pakualaman, Fhaisol Muslim menilai pameran arsip imi berhasil mengajak masyarakat melihat masa lalu dengan cara yang tetap relevan bagi masa depan. Surat, foto, catatan rapat, dan dokumen lama dapat menunjukkan bagaimana sebuah lembaga bertumbuh, bagaimana keputusan dibuat, serta nilai apa yang diwariskan para perintisnya.
Peran arsip, menurut dia, justru semakin penting ketika kecerdasan artifisial mampu menghasilkan teks, gambar, suara, dan video yang tampak meyakinkan. Di tengah perkembangan tersebut, masyarakat membutuhkan sumber autentik, jejak asal-usul yang jelas, metadata yang tertib, serta tata kelola digital yang dapat dipertanggungjawabkan.
Aset strategis universitas
Arsip pun perlu ditempatkan sebagai aset strategis universitas. Digitalisasi, pencarian semantik, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial dinilai dapat membuka hubungan baru antardokumen, memperkaya penelitian, serta membantu universitas membaca perjalanan kelembagaannya secara lebih utuh.
“Setiap generasi sesungguhnya sedang menulis arsipnya sendiri. Hari ini kita membaca jejak para perintis. Kelak, generasi berikutnya akan membaca jejak kita,” katanya.
Ia berharap UIN Sunan Kalijaga terus mengembangkan arsip sebagai infrastruktur pengetahuan yang terdigitalisasi, mudah ditelusuri, aman, dan dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang.
Merekonstruksi peristiwa
Sementara itu, Bimo Unggul Yudho mewakili Mangkubumi menekankan pentingnya membawa arsip keluar dari sekadar ruang penyimpanan. Arsip harus dimanfaatkan untuk merekonstruksi peristiwa, membaca karya para pendahulu, dan membangun pengetahuan baru.
“Kita ingin menghadirkan kesadaran bahwa arsip bukan sekadar disimpan atau didapatkan, tetapi juga harus dimanfaatkan. Keadaan suatu bangsa dapat diukur dari bagaimana bangsa tersebut menghargai dan merawat arsipnya,” ujarnya.
Tujuh puluh lima tahun setelah UIN Sunan Kalijaga berdiri, arsip-arsip tersebut mengingatkan bahwa kemajuan UIN Sunan Kalijaga hari ini bertumpu pada keberanian generasi terdahulu dalam merintis pendidikan tinggi Islam. Dari jejak yang mereka tinggalkan, generasi sekarang memperoleh pijakan untuk menentukan arah, menjaga akar identitas sekaligus membangun masa depan. (Agt/M-01)







