
SEBAGAI daerah tujuan wisata, Bali memang sudah lama membutuhkan transportasi massal. Hal itu untuk mengurangi kemacetan yang kerap terjadi di Pulau Dewata tersebut.
Salah satu transportasi massal yang siap dibangun adalah kereta. Untuk merealisasikan rencana, pemerintah menyiapkan anggaran kurang lebih Rp2 triliun untuk proyek pembangunan layanan kereta api di Bali.
Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin. Ia menyebut rencana pembangunan kereta api atau trem Bali akan memakan waktu pengerjaan sekitar 2 tahun. Proyek tersebut akan dibagi menjadi dua fase yakni Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju kawasan Legian, serta Legian ke Canggu.
“Kami sampaikan anggaran yang untuk kereta Bali itu sekitar Rp2 triliun lebih,” ujar Bobby seusai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.
Selain melaporkan terkait proyek pembangunan layanan kereta api di Bali, Bobby juga membahas percepatan program revitalisasi Stasiun Gambir, Jakarta, yang akan diintegrasikan dengan penataan kawasan Monumen Nasional (Monas) bersama Presiden Prabowo.
Penandatanganan kerja sama
Sebelumnya Pemprov Bali bersama Pemerintah Kabupaten Badung dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) resmi menandatangani kerja sama pengembangan transportasi massal trem listrik berbasis baterai rute Bandara I Gusti Ngurah Rai-Canggu untuk mengatasi kemacetan dan mendukung kepariwisataan.
“Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga, keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali,” kata Gubernur Bali Wayan Koster usai penandatanganan kerja sama di Denpasar, Selasa (1/9).
Moda trem listrik sendiri dinilai semakin konkret menjadi solusi kemacetan di koridor Bandara I Gusti Ngurah Rai-Canggu. Ia memastikan selain mendukung kepariwisataan, nantinya jalur trem listrik sepanjang 12 kilometer akan memperhatikan keberadaan hotel, akomodasi wisata, objek wisata, lingkungan, permukiman, hingga kehidupan masyarakat setempat. (*/N-01)






