PTS di Yogyakarta Tuding PTNBH Jadi Alat PTN Rekrut Mahasiswa Baru

SEJUMLAH perguruan tinggi swasta (PTS) di Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluhkan sikap ugal-ugalan perguruan tinggi negeri (PTN), terutama yang berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) dalam menjaring mahasiswa baru.

Hal itu terungkap dalam Wicara Akademik Pendidikan Tinggi – Higher Education Roundtable bertema “PTS Mendidik Bangsa: Merefleksikan Kontribusi, Peluang, dan Tantangan” yang diselenggarakan  Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia (BKSPTIS) dan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia (APTIK) di kampus Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Sleman.

Dalam kesempatan tersebut Prof. Hamam Hadi, Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta mengungkapkan dirinya termasuk orang yang ikut mempersiapkan pembentukan Universitas Gadjah Mada berstatus PTNBH.

Swastanisasi PTN

Namun, ujarnya setelah sekian tahun pembentukan tersebut, ternyata PTNBH menjadi langkah swastanisasi perguruan tinggi negeri. Dengan status tersebut, ujarnya, PTNBH kemudian merekrut mahasiswa baru dalam jumlah yang sangat banyak.

“Ugal-ugalan, jumlahnya ada yang bisa mencapai 21.000 mahasiswa baru,” kata Prof Hamam.

Namun yang lebih memrihatinkan, ujarnya, mahasiswa baru yang diterima oleh PTNBH ini terbanyak adalah untuk S1 atau jenjang sarjana.Hal ini, menurut Prof. Hamam menjadi beban berat bagi dosen dan kinerja perguruan tinggi yang tidak mengalami kenaikan kinerja.

BACA JUGA  BKSPTIS dan Aptik Dorong Ekosistem Pendidikan Tinggi Berkeadilan

Sesungguhnya, imbuhnya, menjadi PTNBH tidak banyak berubah dan tidak menjadi lebih maju.

PTS sulit dapat mahasiswa baru

Senada,  Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Prof. Muchlas mengemukakan seharusnya PTNBH tidak menjadi kapal keruk, karena PTN berkembang dengan dana dari pemerintah.

Tak cukup itu, untuk menuju cita-cita mencapai “world class university” PTNBH seharusnya memperkuat dan memperbanyak program-program studi S2 dan S3, bukan S1.

Dengan berubah menjadi kapal keruk, lanjutnya, perguruan tinggi swasta kesulitan untuk mendapatkan mahasiswa baru. Ia kemudian menyontohkan yang terjadi di sejumlah perguruan tinggi swasta.

Fokus ke pascasarjana

“Banyak yang sudah diterima di PTS kemudian mengundurkan diri dengan alasan diterima di PTN melalui program  mandiri,” katanya.

Prof. Muchlas mengaku memiliki banyak data tentang kejadian semacam ini. Ia pun mendesak agar PTNBH dilepaskan saja status BH-nya dan kemudian lebih berkonsentrasi ke penyelenggaraan pendidikan Pascasarjana serta membatasi penerimaan mahasiswa baru untuk S1.

BACA JUGA  12 PTN LPTK Ikuti pra-KONASPI XII 2026 di UNY

Tidak fair

Pada kesempatan sama, Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta Prof. Edy Suandi Hamid mengungkapkan berbeda dengan tahun-tahun lalu, meski tanpa iklan banyak lulusan SLTA yang mendaftar ke PTS.

Namun sekarang kondisinya sudah berubah dan persaingan menjadi tidak fair. Ia menegaskan, dalam kondisi ini pemerintah harus memberikan dukungan kepada PTS.

Prof. Edy kemudian menyontohkan situasi di  Australia. Pemerintah setempat menempatkan lembaga pendidikan swasta sebagai mitra  pemerintah sehingga kucuran dana dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan sangat besar.

Di Indonesia, jelasnya, tidak seperti itu. Bahkan untuk akreditasi saja harus membayar.

Sampaikan petisi

Ketua Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKPTIS) Prof. Fathul Wahid mengemukakan, pertemuan yang diselenggarakan kali ini karena adanya kegelisahan serupa di kalangan perguruan tinggi swasta.

Menurut dia, setelah pertemuan ini akan dibuat rekomendasi yang selanjutnya akan dikirim ke pemerintah. “Atau mungkin akan kami sampaikan petisi,” katanya.

BACA JUGA  UPN Veteran Yogyakarta Buka Jalur Seleksi Mandiri

Prof. Fathul Wahi mengemukakan dalam persaingan antara PTN dengan PTS, pola persaingan tidak sehat sudah terjadi sebelum anak-anak lulus SLTA.

Indikasinya, ujarnya, salah satu hal nilai yang diunggulkan oleh SMA/SMK adalah jumlah lulusannya yang diterima di PTN. “Apapun kualitas PTN-nya,” katanya.

Tidak boleh  ada favoritisasi

Karena itu diharapkan ke depan tidak ada lagi model favoritisasi semacam ini, karena menempatkan PTS dalam posisi yang dinilai kurang dibanding PTN.

Padahal, katanya, masih banyak PTS yang kualitasnya jauh lebih unggul dibanding PTN.Ia kemudian mengingatkan, keberadaan PTS ini sangat menyebar dan benar-benar menjadi penyambung tangan pemerintah, ketika satu kawasan tidak mampu dijangkau oleh pemerintah. (AGT/M-01)

Related Posts

MU Dipermak Bournemouth di Old Trafford, Liverpool Menang di Anfield

MANCHESTER United kembali harus menelan pil pahit. Setelah babak belur di kompetisi Eropa seusai dibekap Como 1-4, kali ini Setan Merah harus menelan kenyataan pahit di kompetisi domestik. Betapa tidak?…

Kewajiban Sertifikasi Halal UMKM Resmi Ditunda

PEMERINTAH akhirnya memutuskan untuk menunda kewajiban sertifikasi halal bagi pelaku UMKM berlangsung hingga 2028 mendatang. Keputusan itu diambil setelah merespon aspirasi dari para pelaku usaha dan target sertifikasi yang belum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

MU Dipermak Bournemouth di Old Trafford, Liverpool Menang di Anfield

  • October 26, 2026
MU Dipermak Bournemouth di Old Trafford, Liverpool Menang di Anfield

Kewajiban Sertifikasi Halal UMKM Resmi Ditunda

  • October 25, 2026
Kewajiban Sertifikasi Halal UMKM Resmi Ditunda

Indonesia Borong Tiga Gelar dari Turnamen Indonesia Masters

  • October 25, 2026
Indonesia Borong Tiga Gelar dari Turnamen Indonesia Masters

Singo Edan Ngamuk, Persib Redam Garudayaksa

  • October 25, 2026
Singo Edan Ngamuk, Persib Redam Garudayaksa

KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas

  • October 25, 2026
KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas

Peringati Hari Osteoporosis, Perwatusi Ajak Warga Rutin Bergerak

  • October 25, 2026
Peringati Hari Osteoporosis, Perwatusi Ajak Warga Rutin Bergerak