Fapet UGM: Begini Cara Menjaga Hijauan Pakan Ternak saat Kemarau

  • Edukasi
  • September 10, 2026
  • 0 Comments

SELAMA musim kemarau panjang keberlangsungan lahan hijauan pakan ternak bisa terganggu. Kondisi ini menuntut pengelolaan budi daya yang tepat agar tanaman tetap bertahan hidup dan kembali bisa produktif setelah musim penghujan.

Peneliti Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura Fakultas Peternakan UGM, Dr. Miftahush S. Haq mengatakan selama puncak kekeringan prioritas utama bukan mengejar produktivitas maksimal, melainkan mempertahankan kondisi tanaman dan lahan.

“Mulsa organik dari jerami, sekam, atau sisa panen dapat digunakan di sekitar pangkal tanaman untuk menekan penguapan dan mempertahankan kelembapan tanah,” jelasnya, Kamis.

Jika ketersediaan sumber air terbatas ujarnya penyiraman perlu diprioritaskan pada bibit muda dan tanaman indukan untuk perbanyakan. Irigasi tetes atau penyiraman terbatas juga dapat diterapkan untuk menghemat penggunaan air.

BACA JUGA  Fapet UGM Kembangkan Pakan Hijauan Bernutrisi Tinggi

Penggunaan pupuk

Pengendalian gulma tetap dilakukan secara selektif, sementara penggunaan pupuk anorganik sebaiknya dikurangi saat kekeringan puncak karena dapat memperbesar risiko stres tanaman.

Penggunaan kompos atau pupuk kandang matang menjadi alternatif yang lebih aman selama musim kering. Selain menyediakan hara secara perlahan, bahan organik membantu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air.

Aplikasinya dapat dikombinasikan dengan mulsa untuk mempertahankan kelembapan di sekitar tanaman.Selain pengelolaan air dan tanah, pola pemotongan atau penggembalaan juga perlu disesuaikan.

Interval pemotongan sebaiknya diperpanjang dan tinggi sisa potong dinaikkan agar tanaman masih memiliki cukup daun untuk berfotosintesis serta mempertahankan cadangan energi di akar. Sistem rotasi dengan masa istirahat lebih panjang juga diperlukan selama musim kemarau.

BACA JUGA  Dekan Fakultas Peternakan UGM Dapat Sertifikat APEC

Pemangkasan

Dr. Miftahush menambahkan, pemangkasan pada legum pohon seperti alfalfa tropik, Indigofera, lamtoro, dan gamal sebaiknya dilakukan secara ringan selama puncak kemarau.

Ketika hujan mulai kembali, pemotongan dapat ditingkatkan secara bertahap untuk merangsang pertumbuhan tunas dan memulihkan produktivitas lahan hijauan. (AGT/M-01)

Related Posts

Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

MULAI hari ini, pengunjung Candi Borobudur bisa memilih untuk menetralkan emisi karbon dari perjalanannya, cukup dengan satu pilihan tambahan saat membeli tiket masuk. Pilihan itu dihadirkan melalui Inisiatif Strategis Dekarbonisasi…

Hore! Dua Badak Sumatera di TNWK Dilaporkan Tengah Hamil

KABAR positif datang dari Suaka Rhino Sumatera (SRS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Dua induk betina badak Sumatera Ratu dan Delilah diketahui sedang hamil. Saat ini keduanya terus menjalani pemantauan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Juarai FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Akhiri Penantian Panjang

  • October 6, 2026
Juarai FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Akhiri Penantian Panjang

Mahasiswa RPL Unisa Raih Predikat Terbaik Uji Kompetensi Keperawatan

  • October 5, 2026
Mahasiswa RPL Unisa Raih Predikat Terbaik Uji Kompetensi Keperawatan

Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

  • October 5, 2026
Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

PSI Cianjur Bidik Enam Kursi DPRD pada Pileg 2029

  • October 5, 2026
PSI Cianjur Bidik Enam Kursi DPRD pada Pileg 2029

Bawa Suara Petani, Film Dokumenter Karya Mahasiswa UGM Tembus Semifinal Inspiring Asia

  • October 5, 2026
Bawa Suara Petani, Film Dokumenter Karya Mahasiswa UGM Tembus Semifinal Inspiring Asia

Bantu Mahasiswa UTS, Fapet UGM Bagikan 2.577 Butir Telur Rebus Gratis

  • October 5, 2026
Bantu Mahasiswa UTS,  Fapet UGM Bagikan 2.577 Butir Telur Rebus Gratis