
SRI Sultan Hamengku Buwono X, menyematkan tanda kehormatan Satyalancana Karya Saya Presiden Republik Indonesia kepada 360 PNS atas pengabdian selama 10, 20 dan 30 tahun.
Dalam kesempatan itu Gubernur mengingatkan kesetiaan dalam pengabdian tidak ditentukan oleh lamanya masa kerja. Pengabdian justru diuji dari keteguhan menjaga amanah di tengah perubahan jabatan, zaman, dan tantangan pelayanan.
Atas nama Pemprov DIY, Sri Sultan menyampaikan selamat kepada seluruh penerima Satyalancana Karya Satya. Menurutnya, penghargaan tersebut bukan sekadar tanda atas lamanya masa kerja, tetapi juga pengingat akan kehormatan yang melekat dalam setiap pengabdian.
“Sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun adalah hitungan masa kerja. Tetapi satya tidak dihitung oleh kalender. Satya diuji oleh keteguhan menjaga amanah, ketika jabatan berubah, zaman berganti, dan tantangan pelayanan datang silih berganti,” ujar Sri Sultan.
Hubungan antara waktu, kesetiaan, dan keteladanan
Sri Sultan mengatakan perjalanan panjang dalam pemerintahan seharusnya menghasilkan pengalaman yang dapat memberi manfaat lebih luas. Dalam konteks tersebut, Satyalancana Karya Satya berbicara tentang hubungan antara waktu, kesetiaan, dan keteladanan.
“Waktu memberikan pengalaman. Kesetiaan memberikan makna. Keteladanan menjadikan keduanya berguna bagi generasi yang melanjutkan pengabdian,” katanya.
Sri Sultan juga mengaitkan pengabdian tersebut dengan nilai laku sepi ing pamrih, rame ing gawe, yakni bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa menjadikan penghargaan sebagai tujuan.
Karena itu, Satyalancana hendaknya menjadi cermin untuk melihat kembali apakah pengalaman panjang telah semakin mematangkan kebijaksanaan, memperhalus rasa pelayanan, dan memperteguh integritas.
AI ubah cara kerja
Di tengah perjalanan pengabdian tersebut, aparatur juga menghadapi perubahan yang berlangsung cepat. Teknologi digital dan kecerdasan artifisial mengubah cara pemerintahan bekerja, sementara tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik semakin tinggi.
Menurut Sri Sultan, kondisi tersebut menuntut aparatur untuk terus belajar dan beradaptasi. Kesetiaan kepada negara bukan berarti mempertahankan cara-cara lama, tetapi berani berubah demi memperbaiki pelayanan.
“Setia kepada pengabdian tidak berarti setia kepada cara-cara lama. Kesetiaan kepada negara justru menuntut kesediaan untuk terus belajar, keberanian untuk berubah, dan kerendahan hati untuk memperbaiki pelayanan,” tegasnya.
Pengalaman para penerima Satyalancana, lanjut Sri Sultan, tidak cukup berhenti sebagai pengalaman pribadi. ASN senior memiliki tanggung jawab moral untuk mewariskan etos kerja, integritas, dan kebijaksanaan kepada generasi penerus.
“Sebab institusi yang kuat bukan hanya memiliki pegawai yang cakap, tetapi juga memiliki mata rantai keteladanan yang tidak terputus,” ujar Sri Sultan.
Simbol dari perjalanan pengabdian
Tanda kehormatan yang disematkan di dada merupakan simbol dari perjalanan pengabdian. Kehormatan yang sesungguhnya tumbuh dari kepercayaan masyarakat yang dibangun melalui kerja dan sikap dalam menjalankan tugas.
Sultan berharap penghargaan tersebut menjadi peneguh bagi para penerima untuk meneruskan pengabdian sekaligus mewariskan keteladanan kepada generasi berikutnya.
“Pada akhirnya, tanda kehormatan dapat disematkan di dada, tetapi kehormatan yang sesungguhnya hanya dapat disematkan oleh masyarakat, melalui kepercayaan,” kata Sri Sultan. (AGT/M-01)






