
MENTERI Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Mendiktisaintek) Prof. Brian Yuliarto mengingatkan mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bahwa keberhasilan dalam pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga ketangguhan dalam menjalani proses.
Ia pun menekankan pentingnya membangun grit, persistence, perseverance, serta sikap rendah hati (humble) sebagai bekal menghadapi keberhasilan maupun tantangan selama masa perkuliahan.
Pesan tersebut disampaikan Brian dalam kuliah umum Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) UPI 2026 di Kampus UPI Bandung pada Rabu (19/8). Kuliah umum bertema “Future Ready Generation: Berkarya, Berinovasi, dan Berdampak” tersebut diikuti 13.386 mahasiswa baru UPI, termasuk mahasiswa asing dari 15 negara.
“Perjalanan menjadi mahasiswa merupakan proses yang membutuhkan ketekunan. Mahasiswa akan menghadapi berbagai tugas, ujian, perubahan lingkungan, serta tantangan dalam mengembangkan kemampuan sehingga diperlukan karakter untuk terus bertahan dan melanjutkan proses,” jelasnya.
Tiga karakter
Dalam kesempatan itu, Brian memperkenalkan tiga karakter yang perlu dibangun selama menjalani pendidikan, yakni grit (Teguh pada tujuan), persistence (Terus mencoba), dan perseverance (Bertahan dalam proses).
Grit berkaitan dengan keteguhan dalam mengejar tujuan.
Persistence menekankan kegigihan untuk terus mencoba ketika menghadapi kegagalan, sedangkan perseverance berkaitan dengan kemampuan bertahan ketika menghadapi kesulitan. Ketiga karakter tersebut menjadi penting karena perjalanan pendidikan tinggi tidak selalu berlangsung sesuai dengan harapan. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi kegagalan dan kesulitan tanpa kehilangan tujuan yang ingin dicapai.
“Jadilah generasi yang tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi berani memimpikan perubahan itu. Kemudian tetaplah rendah hati kalau berhasil, tetaplah belajar meskipun Anda sudah merasa tahu, merasa menguasai.” tandasnya.
Jangan mudah menyerah
Brian mengakui perjalanan pendidikan dapat menghadirkan kondisi yang berat bagi mahasiswa. Karena itu, mahasiswa tidak dituntut untuk selalu berada dalam kondisi mudah, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk melewati kesulitan tersebut.
Merasa lelah dalam proses pendidikan merupakan hal yang dapat terjadi. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat mahasiswa berhenti mengejar tujuan.
“Kalau ternyata perjalanan anda berat, ujiannya banyak, anda silakan untuk capek, silakan lelah, tetapi anda jangan sampai menyerah,” pesannya.
Sumbang Pohon untuk Kampus Hijau
Selain mengikuti kuliah umum, mahasiswa baru UPI juga melakukan gerakan penghijauan kampus. Mahasiswa baru yang berjumlah 13.386 orang, diminta menyumbangkan satu batang pohon untuk ditanam di areal kampus.
Rektor UPI Didi Sukyadi mengatakan, program itu bukan hanya sekadar kegiatan seremonial. Ribuan bibit pohon yang dikumpulkan mahasiswa akan ditanam untuk memperluas ruang hijau sekaligus memperbaiki ekosistem di lingkungan kampus.
“Satu mahasiswa baru kita minta untuk mendonasikan satu batang pohon. Insyaallah kita mengumpulkan sekitar 13 ribu bibit pohon tanaman keras,” tuturnya.
Menurut Didi, penghijauan dibutuhkan karena masih terdapat lahan kampus yang belum ditanami. Keberadaan pohon diharapkan tidak hanya membuat kawasan UPI lebih teduh, tetapi juga menyediakan habitat bagi fauna yang masih hidup di kawasan kampus.
“Kampus kita ini ruangnya terbatas, tetapi masih banyak lahan yang perlu ditanami agar udara makin sejuk dan tidak panas. Selain menjadi sarana mahasiswa untuk bersantai, ini juga menjadi upaya kita menyediakan habitat bagi fauna seperti burung,” ucapnya.
Manfaatkan hasil riset
Didi menyebut, pelibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam program tersebut. Mereka tidak hanya diminta menyumbangkan bibit, tetapi ikut menggerakkan proses pengumpulan.
Tahun ini merupakan tahun ketiga UPI menjalankan program serupa. Ia menilai pelaksanaan kali ini paling berhasil karena persiapan dan sosialisasi dilakukan lebih terencana. Program penghijauan tersebut juga memanfaatkan hasil riset akademisi UPI.
Pupuk organik untuk tanaman berasal dari proses pengomposan yang dilakukan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan serta penelitian lahan di kawasan Bumi Siliwangi dan Sariwangi.
“Pupuk organik ini dibuat oleh teman-teman FPOK dari hasil composting. Sudah diuji coba dan hasilnya sangat bagus untuk menyuburkan tanaman. Ke depan, pupuk hasil riset ini juga berpotensi dikomersialkan untuk masyarakat luas,” ucapnya.
Isu lingkungan
Jika seluruh kebutuhan penghijauan di dalam kampus telah terpenuhi, UPI berencana menyalurkan bibit yang tersisa kepada masyarakat. Penyaluran dapat dilakukan melalui kegiatan pengabdian masyarakat, bakti sosial, maupun kerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung dan instansi lain.
Bagi UPI, gerakan tersebut menjadi cara menempatkan isu lingkungan dalam pengalaman mahasiswa sejak hari pertama memasuki perguruan tinggi. Ribuan mahasiswa baru tidak hanya datang untuk memulai perkuliahan, tetapi juga meninggalkan jejak ekologis di kampus. (zahra/M-01)








