
PERKEMBANGAN kecerdasan artifisial, digitalisasi, transisi energi hijau, serta perubahan demografi membawa perubahan besar terhadap dunia kerja.
Kondisi tersebut menuntut calon tenaga kerja untuk tidak hanya mengandalkan latar belakang pendidikan, tetapi juga memperkuat keterampilan dan pengalaman kerja.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum IV PP KAGAMA, Prof. Drs. Anwar Sanusi, M.P.A., Ph.D., dalam sesi talkshow Pembekalan ribuan Calon Wisudawan Sarjana dan Sarjana Terapan Periode IV 2026 mengenai tantangan memenangkan pasar kerja di era AI, Selasa (18/8) di Grha Sabha Pramana UGM.
Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kemnaker itu lebih lanjut mengemukakan, berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah penduduk bekerja di Indonesia saat ini mencapai sekitar 147 juta orang.
Tingkat pengangguran
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka berada pada angka 4,68 persen atau sekitar 7,4 juta orang.
“Sebagai bagian dari pemerintah, kami terus berupaya melakukan berbagai hal dalam rangka menekan tingkat pengangguran tersebut,” ujarnya.
Jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, katanya, kelompok lulusan SMA dan SMK menjadi penyumbang terbesar pengangguran, disusul lulusan perguruan tinggi.
Terkait upah
Di sisi lain, tingkat pendidikan juga berkorelasi dengan tingkat upah. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula tingkat penggajian.
Dikatakan terdapat setidaknya tiga faktor utama yang mendorong perubahan dunia kerja saat ini, yakni disrupsi AI dan digitalisasi, transisi energi hijau dan keberlanjutan, serta perubahan demografi dan pergeseran care economy.
Reskilling dan Upskilling
Perubahan tersebut akan menyebabkan sejumlah pekerjaan hilang, tetapi pada saat yang sama menciptakan berbagai jenis pekerjaan baru.
Ia mengutip perhitungan World Economic Forum yang memperkirakan 92 juta pekerjaan akan hilang, sementara 170 juta pekerjaan baru akan muncul.
“Adanya pekerjaan-pekerjaan baru tersebut membutuhkan sebuah modalitas, yaitu reskilling dan upskilling,” jelasnya.
Reskilling jelasnya merupakan proses mengubah orientasi keterampilan dari keterampilan sebelumnya menuju keterampilan baru, sedangkan upskilling merupakan upaya meningkatkan keterampilan yang telah dimiliki.
Profesi baru
Perubahan tersebut juga terlihat dari munculnya berbagai profesi yang sebelumnya belum dikenal. Ia mencontohkan pekerjaan seperti social media manager, data scientist, dan AI engineer yang berkembang seiring perubahan teknologi.
Di tengah perubahan tersebut, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan keterampilan digital tenaga kerja. Ia menyebutkan bahwa jumlah pekerja yang memiliki keterampilan digital masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain.
Indonesia berada pada peringkat 51 dari 69 negara dan peringkat 12 dari 14 negara di kawasan Asia Pasifik berdasarkan data yang dipaparkan.
“PR besar kita adalah bagaimana kita meng-upgrade, meningkatkan digital skill kita dalam penguasaan AI, pengembangan teknologi, serta komersialisasi riset untuk mendukung transformasi Indonesia,” katanya.
Kompetensi jadi pertimbangan
Selain keterampilan digital, pola rekrutmen tenaga kerja juga mengalami perubahan. Perusahaan kini semakin mempertimbangkan kompetensi dibandingkan sekadar latar belakang pendidikan.
Ia mengingatkan para mahasiswa dan calon lulusan UGM agar tidak hanya mengandalkan reputasi almamater ketika memasuki dunia kerja.
“Kita patut berbangga sebagai alumni dari universitas yang selalu menjadi yang terbaik di Indonesia. Tapi itu tidak cukup,” tegasnya.
Menurut dia calon tenaga kerja perlu membekali diri dengan keterampilan yang relevan serta pengalaman kerja lapangan.
Keterampilan manusia tetap utama
Ia menyebut pengalaman kerja dan pengalaman di lapangan menjadi nilai tambah dalam proses memasuki pasar kerja.
Meskipun AI semakin banyak mengambil alih pekerjaan rutin, ia menekankan bahwa keterampilan manusia tetap menjadi pondasi penting dalam dunia kerja. Kemampuan seperti judgment, membangun hubungan, berpikir kritis, dan empati tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh AI.
“Human skill sebagai fondasi tetap menjadi fondasi kemampuan AI. AI tidak bisa berkembang tanpa keterampilan manusia,” ujarnya.
Untuk menghadapi persaingan kerja, ia memperkenalkan konsep triple skilling yang terdiri atas tiga kesiapan utama, yakni technical skill readiness, human skill readiness, dan market entry readiness.
Program magang
Technical skill readiness berkaitan dengan penguasaan kompetensi teknis sesuai bidang masing-masing. Sementara itu, human skill readiness mencakup kemampuan berbahasa, berkomunikasi, serta menyampaikan ide dan gagasan.
Adapun market entry readiness merupakan kemampuan untuk memasuki dan beradaptasi dengan pasar kerja. Salah satu cara untuk memperkuat pengalaman kerja adalah melalui program pemagangan yang disiapkan pemerintah bagi fresh graduate.
Ia menyampaikan, pada 2026 pemerintah menargetkan perekrutan hingga 150 ribu peserta pemagangan. Program tersebut tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga menyediakan mentor dari perusahaan, industri, maupun instansi pemerintah.
Peserta juga memperoleh uang saku setara upah minimum, perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, serta kesempatan mengikuti uji kompetensi pada akhir program.
Peningkatan kompetensi
Ia menyebutkan, pada pelaksanaan sebelumnya terdapat sekitar 102 ribu peserta yang mengikuti program dari sekitar 500 ribu pendaftar. Sekitar 8.000 perusahaan dan instansi terlibat dalam program tersebut.
Dari peserta yang mengikuti program, 66 persen dilaporkan mengalami peningkatan kompetensi, sedangkan sekitar 30 persen langsung direkrut menjadi karyawan tetap.
“Kompetisi untuk mengikuti program ini tidak mudah. Namun, jika terpilih, ini menjadi pengalaman yang sangat berarti untuk merasakan bagaimana dunia kerja,” katanya.
Pentingnya kolaborasi
Saat menutup paparannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi tiga pihak dalam membangun talenta tenaga kerja Indonesia, yaitu pemerintah, dunia usaha dan industri, serta perguruan tinggi.
Pemerintah berperan menyediakan regulasi dan program, dunia usaha dan industri menyediakan kesempatan kerja serta mentoring, sedangkan perguruan tinggi berperan menyiapkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kalau tiga pilar ini betul-betul berkolaborasi, h kita bisa memanfaatkan bonus demografi yang saat ini terjadi untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik,” pungkasnya. (Agt/M-01)






