
BANJIR rob kembali merendam kawasan pesisir Kabupaten Sidoarjo pada Selasa (16/6). Fenomena tahunan ini bertepatan dengan hari libur nasional Tahun Baru Islam.
Kondisi itu berimbas pada membludaknya ratusan pemancing yang terpaksa tertahan dan gagal menuju lokasi pemancingan akibat akses jalan yang tergenang air hingga setinggi lutut orang dewasa.
Salah satu titik terdampak paling parah berada di RT 03 RW 02 Dusun Gisik Kidul, Desa Tambak Cemandi, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Wilayah yang dikenal sebagai pusat wisata pemancingan dan budidaya ikan tersebut lumpuh total sejak pagi hari.
Selain Tambak Cemandi, banjir rob juga dilaporkan menggenangi tiga desa tetangga lainnya, yakni Desa Kalanganyar, Banjar Kemuning, dan Segoro Tambak Kecamatan Sedati.
Tutup jalan

Menurut penuturan warga setempat, air laut mulai naik dan menggenangi pemukiman serta akses jalan sekitar pukul 08.00 WIB, dan diprediksi baru akan surut total pada pukul 12.00 WIB.
Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, warga setempat terpaksa melakukan penutupan jalan menuju area wisata pemancingan. Langkah ini diambil untuk melindungi kendaraan para pengunjung.
”Maksud kami baik, sengaja jalan ditutup sementara agar kendaraan para pemancing tidak nekat melintas, terjebak banjir rob, dan mengalami kerusakan mesin,” ujar Mashuda Nasik,55, warga RT 03 RW 02 Desa Tambak Cemandi.
Mashuda menambahkan bahwa bulan Juni ini merupakan puncak dari siklus banjir rob tahunan. Berdasarkan polanya, fenomena alam ini rutin terjadi selama periode April, Mei, hingga Juni.
“Biasanya (rob) terjadi berturut-turut selama seminggu,” jelas Nasik.
Tunggu surut

Situasi ini membuat banyak pemancing, yang sebagian besar datang dari luar Kabupaten Sidoarjo, terpaksa gigit jari. Sebagian dari mereka memilih langsung putar balik dan membatalkan rencana memancing, namun tidak sedikit pula yang memilih bertahan sembari menunggu air surut.
Warung kopi (warkop) di sekitar pinggiran jalan yang aman dari genangan pun menjadi tempat pelarian sementara para pemancing untuk memantau situasi.
”Kami terpaksa menunggu informasi kapan jalan bisa dilewati sambil ngopi-ngopi dulu di warkop,” kata Davi,25, salah satu pemancing asal Kota Surabaya yang datang sejak pagi.
Hingga siang hari, para pemancing masih tampak memadati warkop-warkop sekitar landasan pesisir Sedati sembari menanti air laut benar-benar surut agar dapat melanjutkan aktivitas rekreasi mereka. (OTW/M-01)






