
IKAN gabus atau yang oleh masyarakat Jawa dikenal sebagai Kutuk, dikenal memiliki kandunggan albumin serta protein lainnya.
Kekayaan nutrisi pada ikan gabus berhasil menguatkan posisinya sebagai potensi superfood yang kaya pangan fungsional.
Pengajar Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Pertanian UGM Indun Dewi Puspita, S.P., M.Sc. Ph.D., mengatakan ikan gabus memiliki kandungan protein yang sedikit lebih tinggi dibandingkan ikan air tawar lainnya.
Jika rata-rata sumber protein hewani mengandung sekitar 20 persen protein, kandungan protein pada ikan gabus dapat mencapai 23–25 persen.
“Ikan gabus mungkin bukan ikan yang umum dikonsumsi oleh masyarakat. Memang ikan ini punya segmen pasar tersendiri,” katanya, Senin (8/6).
Proses regenerasi sel
Salah satu alasan utama masyarakat mencari ikan gabus, menurut dia adalah kandungan albuminnya yang tinggi.
Indun menyebutkan albumin merupakan protein penting yang berperan dalam membantu proses regenerasi sel, menjaga keseimbangan cairan dalam darah, serta mendukung distribusi zat gizi seperti vitamin dan mineral.
Menurut Indun, tingginya kadar albumin pada ikan gabus diduga berkaitan dengan habitat hidupnya yang berada di rawa atau perairan berlumpur dengan kadar oksigen relatif rendah.
Kondisi tersebut, katanya membuat ikan gabus beradaptasi dengan memproduksi albumin dalam jumlah lebih tinggi.
“Biasanya orang-orang mencari albumin, misalnya setelah operasi. Albumin dapat membantu mempercepat regenerasi sel,” jelasnya.
Omega 3
Selain albumin, ikan gabus juga mengandung berbagai nutrisi lain yang bermanfaat, termasuk vitamin, mineral, dan asam lemak tak jenuh omega-3.
Meski kandungan omega-3 pada ikan laut masih lebih tinggi, Indun menilai ikan gabus tetap unggul jika dibandingkan dengan sebagian besar ikan air tawar lainnya.
Karena manfaat kesehatannya, kini banyak tersedia produk ekstrak ikan gabus dalam bentuk suplemen. Namun, menurut Indun, mengonsumsi ikan gabus secara langsung tetap memberikan keuntungan lebih karena dapat memperoleh berbagai nutrisi lain yang terkandung di dalamnya.
“Kalau mengonsumsi ikannya langsung, kita bisa mendapatkan nutrisi-nutrisi lainnya. Misalkan tadi ada beberapa laporan menyebutkan asam lemak tak jenuh,” katanya.
Hindari suhu masak tinggi
Dalam pengolahannya, Indun menyarankan masyarakat menghindari suhu memasak yang terlalu tinggi agar kandungan protein dan zat gizi lainnya tidak mengalami kerusakan. Ia merekomendasikan metode memasak seperti dikukus atau direbus menjadi sup.
Menurutnya, metode tersebut lebih baik dibandingkan menggoreng atau membakar dalam waktu lama yang dapat merusak struktur yang terkandung dalam ikan.
Meski memiliki nilai gizi tinggi, pemanfaatan ikan gabus masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketersediaan pasokan yang masih banyak bergantung pada hasil tangkapan alam.
Ia menyebutkan berbeda dengan lele atau nila yang sudah dibudidayakan secara luas, ikan gabus masih relatif jarang dibudidayakan secara massal.
Peluang riset
Hal ini, menurut Indun, membuka peluang riset dan inovasi bagi kalangan akademisi, terutama terkait teknologi pembenihan, pembesaran, hingga pengembangan budidaya.
Menurutnya, upaya tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan populasi ikan gabus di alam sekaligus meningkatkan ketersediaannya bagi masyarakat.
“Memang penting menjaga keberlangsungan ikan ini di alam untuk terus ada. Kalau khawatirnya kalau dieksploitasi terlalu banyak kemudian nanti hilang,” ungkapnya.
Selain aspek produksi, Indun menilai pengembangan produk olahan ikan gabus masih terbuka lebar. Selama ini pemanfaatan ikan gabus umumnya masih terbatas pada konsumsi langsung atau ekstrak albumin.
Ubah miskonsepsi
Padahal, ikan gabus berpotensi digali teknologinya dalam hal pengolahan. Hal tersebut menawarkan kesempatan ikan tidak hanya dikonsumsi pada saat sakit, tetapi bisa untuk sehari-hari dalam menambah manfaat.
Indun juga menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk merubah miskonsepsi. Menurutnya, bentuk fisik ikan gabus yang berbeda dari ikan konsumsi pada umumnya mungkin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat konsumsi.
“Kalau ketersediaan ikan banyak, teknologi pengolahannya juga bisa mendiversifikasi produk olahan, jumlah konsumsi masyarakat meningkat, alhasil dapat dimanfaatkan secara optimal,” sebutnya.
Ia mengingatkan pentingnya meningkatkan konsumsi ikan di masyarakat. Ia menyebut tingkat konsumsi ikan di Daerah Istimewa Yogyakarta masih relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah lain di Indonesia, padahal sumber daya perikanan yang dimiliki cukup melimpah.
“Apapun jenis ikannya, semuanya punya kualitas protein yang baik. Jadi mungkin bisa mulai menambah menu ikan paling tidak dua kali seminggu agar manfaat gizinya dapat dirasakan,” tuturnya. (AGT/A-01)








