27 Spesies Burung Terancam Punah Melintasi Indonesia

SEPANJANG 2026, sekurangnya 220 spesies burung migran dan vagrant melintasi dan singgah di Indonesia. Dari jumlah spesies tersebut tercatat 27 spesies di antaranya berstatus terancam punah.

Hal itu menjadi peringatan bagi kita semua bahwa di balik padatnya aktivitas manusia, terdapat perjalanan luar biasa yang dilakukan oleh burung-burung migran.

Hal itu disampaikan dosen Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc., yang mengatakan juga banyaknya burung-burung migran yang singgah di kepulauan Indonesia itu dikarenakan faktor kelelahan yang dialami oleh para burung yang mengharuskan mereka untuk beristirahat.

“Karena bermigrasi ribuan mil sangat melelahkan secara fisik, maka tempat persinggahan yang strategis mampu memberikan mereka kesempatan beristirahat dan memulihkan kekuatan otot-ototnya,” jelasnya, Rabu (3/6).

Angin buritan

Donan menambahkan burung-burung migran yang singgah harus mengisi cadangan lemak vital, karena terbang jarak jauh dapat menghabiskan energi burung dengan cepat.

Persinggahan memungkinkan burung untuk mencari makan secara intensif guna menimbun cadangan lemak seperti trigliserida yang diperlukan untuk menunjang perjalanan selanjutnya.

Migrasi burung juga sangat bergantung pada angin buritan atau angin yang bertiup searah dengan arah terbang burung. Namun ketika mereka menghadapi badai, angin kencang dari depan, atau suhu ekstrem, mereka terpaksa singgah, yaitu mendarat dan menunggu kondisi aman sebelum mencoba terbang lagi.

“Tempat singgah ini menjadi ruang bagi para burung dalam mencari makan sekaligus cadangan makanan, serta mencari perlindungan dari predator maupun cuaca buruk, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke tujuan,” ungkapnya.

BACA JUGA  Sobat Bumi UNY Pelopori Penanaman Mangrove di Pantai Baros

Tantangan kompleks

Sampai saat ini, konservasi burung migran menghadapi tantangan yang kompleks. Spesies dari burung-burung tersebut bergantung pada ekosistem yang sangat berbeda di berbagai benua dengan negara yang berbeda sepanjang tahun, kelangsungan hidup mereka terancam secara unik oleh kesenjangan kebijakan internasional, perusakan habitat di titik persinggahan penting, dan bahaya antropogenik yang semakin kompleks.

Donan menjelaskan jika kebijakan internasional dan hubungan geopolitik yang rapuh membuat konservasi burung migran mengalami kesulitan. Burung migrasi bergantung pada “jalur terbang” internasional yang membentang di banyak negara.

Jika suatu negara secara ketat melindungi suatu spesies tetapi negara tetangga mengizinkan perburuan atau perusakan habitat, upaya konservasi akan gagal.

“Negara-negara berkembang sering menghadapi tekanan ekonomi yang bertentangan dengan tujuan konservasi, sehingga pendanaan dan penegakan hukum lintas batas yang terkoordinasi menjadi sangat sulit,” ujarnya.

Bergantung area singgah

Ia menjelaskan lebih lanjut, kondisi burung migran sangat bergantung pada area singgah penting seperti lahan basah, hutan, sabana, dan garis pantai tertentu untuk beristirahat dan “mengisi bahan bakar” selama perjalanan mereka yang berat.

Terjadinya pengeringan atau pembersihan pada area singgah penting tersebut untuk pertanian dan urbanisasi membuat burung tidak akan bertahan hidup selama sisa perjalanan.

Selain itu, perubahan iklim yang menggeser suhu musim semi dan musim berbunga mempengaruhi reproduksi burung, yaitu ketika burung tiba di tempat berkembang biak setelah puncak ketersediaan serangga yang dibutuhkan untuk memberi makan anak-anaknya, menyebabkan tingkat reproduksi yang buruk.

BACA JUGA  Walhi Sumut Ungkap Potensi Kerugian Rp132 M akibat Konflik Tenurial

Tantangan lain datang dari penyusutan oase, hambatan kering seperti Gurun Sahara menjadi lebih panas dan lebih luas karena perubahan iklim, sehingga akan mengeringkan oase penting dan meningkatkan resiko kematian selama migrasi.

Hambatan perjalanan burung

Dikatakan jalur migrasi sering kali terpotong oleh gedung-gedung tinggi, menara komunikasi, tower listrik, dan turbin angin, yang dapat menyebabkan tabrakan fatal.

Saluran listrik merupakan penyebab utama kematian bagi spesies migrasi yang berukuran besar dan berkelompok. Lampu kota buatan membuat burung migran nokturnal kehilangan orientasi.

“Burung-burung terperangkap berputar-putar di sekitar struktur ini, menyebabkan mereka kehabisan energi yang mereka simpan untuk perjalanan mereka,” katanya.

Multi-aspek

Untuk mengatasi hal ini kata Donan perlu adanya upaya menyelamatkan burung migran di Indonesia.

Melalui pendekatan multi-aspek yang melindungi habitat persinggahan penting di sepanjang Jalur Migrasi Asia Timur-Australasia (EAAFP), menegakkan hukum anti-perburuan liar, dan mempromosikan ekowisata yang dikelola masyarakat dapat dilakukan sebagai penyelamatan burung migran di Indonesia.

“Upaya terkoordinasi sangat diperlukan dari para pembuat kebijakan dan masyarakat setempat untuk memastikan perjalanan yang aman bagi spesies burung migran tersebut,” paparnya.

Ekosistem pesisir

Donan memberikan contoh upaya konservasi, yaitu burung air yang bermigrasi sangat bergantung pada lahan basah, dataran lumpur, dan hutan bakau di Indonesia untuk mencari makan dan beristirahat.

BACA JUGA  Sinkhole di Sumbar Dampak dari Siklon Senyar

Dengan melindungi ekosistem pesisir yang vital ini dari pembangunan dan penggunaan lahan yang merusak adalah prioritas utama. Memperkuat penegakan hukum juga harus dilakukan. Sebab, perburuan ilegal dan perdagangan burung ilegal mengancam banyak spesies migrasi maupun spesies asli.

“Pengawasan yang lebih ketat terhadap pasar lokal dan melalui ranah digital sangat penting untuk membongkar rantai perdagangan ilegal,” ungkapnya.

Untuk mendukung penelitian juga dapat diposisikan sebagai upaya dalam menyelamatkan burung migran. Pasalnya, pengamat burung dan peneliti lokal memberikan kontribusi besar dalam memantau pola migrasi.

“Kita dapat berpartisipasi dalam inisiatif seperti Sensus Burung Air Asia (AWC) tahunan atau mencatat pengamatan kita di platform komunitas seperti eBird atau Burungnesia untuk memberikan data ilmiah yang penting,” terangnya.

Peran semua elemen

Peran pemerintah, organisasi, masyarakat lokal, dan industri pengembang ujarnya menjadi sangat penting untuk melindungi burung migran.

Mereka harus bersama-sama mewujudkan perlindungan terhadap burung migran melalui penerapan strategi lintas batas yang terkoordinasi untuk mengamankan habitat persinggahan, mengurangi bahaya industri, dan menegakkan hukum konservasi secara ketat. (AGT/M-01)

Related Posts

Pasien Stroke Butuh Perencanaan Perawatan Lanjutan

DATA menyebutkan stroke saat ini menjadi penyakit nomor 2 dunia yang menyebabkan kecacatan dan menyebabkan 6,5 juta jiwa kematian. Ketidakpastian perawatan menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi pasien saat mengalami…

Umbul Ponggok Inspirasi Karya Batik Tulis Bernuansa Kearifan Lokal

KEKAYAAN wisata air yang dimiliki Kabupaten Klaten tidak hanya menjadi daya tarik sektor pariwisata, tetapi juga menginspirasi lahirnya karya seni kriya yang inovatif. Adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Kriya, Fakultas…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Australia Kubur Impian Skuat Garuda Muda

  • June 12, 2026
Australia Kubur Impian Skuat Garuda Muda

Borneo Resmi Tunjuk Mauro Jeronimo Jadi Suksesor Fabio Lefundes

  • June 11, 2026
Borneo Resmi Tunjuk  Mauro Jeronimo Jadi Suksesor Fabio Lefundes

Bareskrim Sita Pabrik Pemurnian Emas Ilegal di Sidoarjo

  • June 11, 2026
Bareskrim Sita Pabrik Pemurnian Emas Ilegal di Sidoarjo

URC Sleman Tangkap Pencuri Spesialis Kabel BTS

  • June 11, 2026
URC Sleman Tangkap Pencuri Spesialis Kabel BTS

Kalog Angkut 1.658.622 Ton Barang pada Mei

  • June 11, 2026
Kalog Angkut 1.658.622 Ton Barang pada Mei

Faunaland  Mulai Melakukan Proses Revitalisasi Bandung Zoo

  • June 11, 2026
Faunaland  Mulai Melakukan Proses Revitalisasi Bandung Zoo