Mengenal Lalat Capung, Serangga Bersayap Tertua di Bumi

Bentunya mirip capung, tapi jenis serangga ini memiliki karakteristk berbeda terutama dalam hal cara terbang. Lalat capung, demikian serangga ini sering disebut, dapat bergerak vertikal, berbalik, dan melayang kembali ke Bumi. Sayap dan ekornya terentang ke atas dalam posisi seperti penerjun payung sehingga jatuh perlahan ke tanah atau air.

Para ilmuwan di Inggris mengungkapkan lalat capung merupakan salah satu serangga bersayap  tertua di Bumi. Ia ada sejak 300 juta tahun lalu, lebih tua dari dinosaurus.

Bahkan, sebuah puisi Mesopotamia, Epik Gilgamesh, salah satu karya sastra tertua, merujuk pada lalat capung yang berumur pendek (biasanya cuma 1-2 hari). Selama berabad-abad, desain dasar serangga ini hampir tidak berubah dibandingkan dengan nenek moyangnya.

“Mereka mempertahankan karakteristik aneh ini dan kita mungkin dapat berasumsi bahwa mereka telah melakukan (tarian/gaya terbang] ini selama ratusan juta tahun, namun kita sebenarnya tidak tahu mengapa,” kata Samuel Fabian, seorang peneliti di Universitas Oxford yang mempelajari perilaku terbang serangga.

BACA JUGA  KLHK Sebut Kalsel Bisa Jadi Contoh Rehab DAS di Indonesia

Fabian dan rekan-rekannya di Imperial College London kini punya jawabannya. Dalam penelitian baru terbitk di Journal of Experimental Biology, mereka merekonstruksi perilaku terbang lalat capung, merekam kawanan besar di wilayah Richmond, London dalam bentuk 3D (tiga dimensi) dan menganalisis jalur terbang serangga tersebut.

Ternyata lalat capung jantan mengandalkan pola terbang naik-turun yang aneh ini untuk mengetahui siapa jantan dan siapa betina di antara kawanan tersebut. Lalat capung jantan ternyata jarang terbang horizontal, di atas kawanan betina.

Dalam simulasi lebih lanjut, para ilmuwan menemukan bahwa lalat capung jantan akan menghentikan pengejarannya terhadap target apa pun yang jatuh dari  langit. “Masalahnya adalah jantan hampir tidak memiliki filter,” kata Fabian, seperti dikutip Guardian. “Anda dapat memberi mereka benda apa saja – yang terlihat sangat berbeda dari lalat capung betina, dan jantan akan langsung mendekati objek yang jauh lebih besar itu dan mencoba ‘kawin’ dengannya.”

BACA JUGA  Pemprov Jabar Komit Perkuat Pembangunan Ekonomi Berbasis Ekologi

Keadaan menjadi lebih rumit dalam kondisi cahaya redup, karena betina terlihat hampir identik dengan jantan bahkan dari jarak dekat. Dengan tetap berada di bawah betina, jantan memastikan energi romantis mereka bergunai dengan baik. “Hal ini sangat penting karena lalat capung tidak memiliki banyak waktu, hanya hidup beberapa jam hingga beberapa hari, di mana mereka harus mewariskan gen mereka,” kata Fabian.

Terancam punah

Menurut dia  tujuan proses reproduksi tersebut sangat penting untuk kelangsungan hidup jangka panjang spesies ini.

Terdapat lebih dari 3.000 spesies lalat capung yang hidup di sungai, kolam, dan danau air tawar di seluruh dunia. Namun, banyak dari 51 spesies  di Inggris kini mengalami penurunan – korban lain dari apa yang disebut para ilmuwan sebagai “kiamat serangga”.

BACA JUGA  Akademisi, Praktisi dan Peneliti Bahas Persoalan Lingkungan

Sebuah tinjauan global tahun 2019 memperkirakan bahwa 40% serangga di dunia mengalami penurunan, sementara studi lain menunjukkan bahwa lebih dari 1 dari 10 spesies dapat hilang pada akhir abad ini. (Adi/N-01)

Adiyanto

Related Posts

PTN Diminta Perkuat Sinergi dengan Pemerintah dan Industri

SEKRETARIS Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Badri Munir Sukoco menekankan pentingnya membangun pendidikan tinggi yang inklusif, adaptif, dan berdampak. Menurutnya, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur…

Kembangkan Tangan Bionik dan Alat Rehabilitasi, Undip Raih Penghargaan Menhan

UNIVERSITAS Diponegoro (Undip) menerima penghargaan Dharma Pertahanan Pratama dari Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi pengembangan teknologi dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polda Jateng Utamakan Edukasi dalam Operasi Patuh Candi 2026

  • October 28, 2026
Polda Jateng Utamakan Edukasi dalam Operasi Patuh Candi 2026

Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

  • October 27, 2026
Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

Sri Sultan Persilakan Demo Asal tidak Merusak

  • October 27, 2026
Sri Sultan Persilakan Demo Asal tidak Merusak

The Longest Wait, Film Kisah di Balik Perjalanan Timnas Indonesia Resmi Tayang

  • October 27, 2026
The Longest Wait, Film Kisah di Balik Perjalanan Timnas Indonesia Resmi Tayang

OJK Perketat Pengawasan Pasar Modal

  • October 27, 2026
OJK Perketat Pengawasan Pasar Modal

Polda Jateng Ajak Masyarakat Jaga Persatuan meski Berbeda Pandangan

  • October 27, 2026
Polda Jateng Ajak Masyarakat Jaga Persatuan meski Berbeda Pandangan