Penurunan Harga Sejumlah Bahan Pokok Dorong Deflasi di Jabar

SAAT mengawali 2026, Provinsi Jawa Barat mengalami deflasi 0,09 persen secara month to month. Penurunan harga sejumlah bahan pokok menjadi faktor pendorong deflasi.

Kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,91 persen dengan andil deflasi sebesar 0,28 persen. Kelompok transportasi juga alami deflasi sebesar 0,26 persen dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen.

“Secara komoditas yang memberikan andil deflasi yaitu cabai merah sebesar 0,10 persen, cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah masing-masing sebesar 0,06 persen, serta telur ayam ras sebesar 0,04 persen,” ujar Ketua Tim Statistik Distribusi Ninik Anisah Senin (2/2).

“Sementara komoditas yang menyumbang andil inflasi yaitu emas perhiasan sebesar 0,18 persen, tomat, ikan kembung, bawang putih dan beras masing-masing sebesar 0,01 persen,” terangnya.

Semua kabupaten/kota

Menurut Ninik, hampir seluruh kabupaten/kota pantauan inflasi di Jabar  mengalami deflasi. Deflasi terjadi di Kota Bogor sebesar 0,21 persen, Kota Sukabumi sebesar 0,03 persen, Kota Bandung sebesar 0,09 persen, Kota Cirebon sebesar 0,44 persen, Kota Depok sebesar 0,16 persen.

BACA JUGA  Ridwan Kamil dan Atalia Praratya Sepakat Berpisah

Kota Tasikmalaya sebesar 0,05 persen, Kabupaten Bandung sebesar 0,15 persen, Kabupaten Subang sebesar 0,21 persen dan Kabupaten Majalengka sebesar 0,11 persen. Satu-satunya yang mengalami inflasi adalah Kota Bekasi sebesar 0,07 persen.

Sementara itu di bidang pariwisata, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) melalui Bandara Kertajati sebanyak 395 kunjungan sepanjang Desember 2025 atau naik 118,23 persen dibandingkan November 2025 yang hanya sebanyak 181 kunjungan. Wisman yang berkunjung ke Jawa Barat masih didominasi oleh wisman asal Singapura.

Gunakan Whoosh

“Secara perbandingan tahunan, kunjungan wisman memang kurang menggembirakan. Sepanjang 2025 kunjungan wisman hanya sebanyak 3.293 kunjungan, turun 68,06 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 10.309 kunjungan,” ujar Ninik.

Namun lanjut Ninik, kabar menggembirakan justru datang dari kedatangan warga negara asing (WNA) ke Jabar menggunakan Whoosh.

Sebanyak 23.025 kunjungan WNA sepanjang Desember 2025 menggunakan Whoosh. Angka ini naik 38,41 persen dibandingkan November 2025 yang hanya sebanyak 16.635 kunjungan. Bahkan secara year on year naik 34,55 persen dibandingkan Desember 2024.

BACA JUGA  BPS vs Bank Dunia Dalam Mengukur Indeks Kemiskinan Indonesia

“Sepanjang  2025 total WNA yang masuk ke Jawa Barat menggunakan Whoosh sebanyal 200.308 kunjungan atau naik 41,09 persen dibandingkan 2024 yang hanya sebanyak 141.971 kunjungan WNA,” bebernya.

Big Data MPD

Ninik menyampaikan terkait data perjalanan wisatawan nusantara (Wisnus). Data Wisnus diambil menggunakan Big Data berupa Mobile Positioning Device (MPD) dengan memanfaatkan tracking, data sinyal seluler dengan berbagai ketentuan.

Jumlah perjalanan wisnus Desember 2025 mencapai 18,53 juta perjalanan, naik 4,89 persen dibandingkan November 2025 yang sebanyak 17,66 juta perjalanan.

“Perjalanan wisnus 2025 mencapai 211,76 juta perjalanan, nail 26,50 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 167,40 juta perjanan. Dan ini menjadi rekor tertinggi sejak tahun 2021,” tandasnya.

Ninik menerangkan, untuk daerah tujuan utama wisnus masih seputar Bodebek dan Bandung Raya dengan persentase sebanyak 52,06 persen sepanjang 2025.

BACA JUGA  Duh! Banyak Anak di Jabar Harus Cuci Darah karena Penyakit Ginjal

Tujuan utama

Kota Bogor menjadi daerah tujuan wisnus tertinggi sebesar 15,04 persen, diikuti Kota Bandung sebesar 11,45 persen dan Kota Bekasi sebesar 6,82 persen. Peningkatan kunjungan Wisman, WNA dan Wisnus berimbas kepada kenaikan tingkat penghunian kamar hotel (TPK) bintang di Jawa Barat.

Desember 2025 TPK hotel bintang mencapai 58,13 persen atau naik 4,59 poin daripada November 2025.

“Walau demikian secara year on year, TPK mengalami penurunan sebesar 0,43 poin dibandingkan Desember 2024.”

“Kota Bandung menjadi kota yang memiliki TPK hotel bintang tertinggi yaitu sebesar 69,64 persen, diikuti Kota Cirebon sebesar 66,26 persen dan Kota Bogor sebesar 65,24 persen,” sambungnya. (zahra/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Commuter Line Dukung Mobilitas Aglomerasi Jawa Tengah

SEPANJANG 2025 jumlah pengguna jasa layanan transportasi Commuter Line mencapai 10,1 juta orang. Angka tersebut didominasi oleh pergerakan pekerja, pelajar, dan masyarakat umum yang setiap hari berpindah antar kabupaten dan…

Polisi Bekuk Komplotan Penipu yang Sasar Anak di Bawah Umur

POLISI meringkus tiga pria asal Surabaya karena menipu sejumlah anak di bawah umur dengan membawa kabur sepeda motor mereka Komplotan itu memakai modus pura-pura mencari anggota keluarga yang hilang sehingga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Commuter Line Dukung Mobilitas Aglomerasi Jawa Tengah

  • February 11, 2026
Commuter Line Dukung Mobilitas Aglomerasi Jawa Tengah

Polisi Bekuk Komplotan Penipu yang Sasar Anak di Bawah Umur

  • February 11, 2026
Polisi Bekuk Komplotan Penipu yang Sasar Anak di Bawah Umur

UGM Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Jalur Afirmasi untuk Daerah 3T

  • February 11, 2026
UGM Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Jalur Afirmasi untuk Daerah 3T

65 Persen dari 1.566 Wisudawan UNY Tahun ini adalah Perempuan

  • February 11, 2026
65 Persen dari 1.566 Wisudawan UNY Tahun ini adalah Perempuan

Kadin Sidoarjo Tegaskan Posisi sebagai Mitra Strategis

  • February 11, 2026
Kadin Sidoarjo Tegaskan Posisi sebagai Mitra Strategis

Ritual Memandikan Rupang Jelang Imlek untuk Jadi Pribadi yang Lebih Baik

  • February 11, 2026
Ritual Memandikan Rupang Jelang Imlek untuk Jadi Pribadi yang Lebih Baik