IDM Latih 200 Siswa SMA di Bantul Tanggap Gempa

MEMPERINGATI 20 tahun gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006, InJourney Destination Management (IDM) menggelar pelatihan tanggap bencana gempa bumi bagi 200 siswa di SMA Negeri 1 Pundong dan SMA Negeri 1 Jetis, Kabupaten Bantul, 28-29 Januari 2026.

Kegiatan bertajuk InJourney Community Care ini merupakan kolaborasi IDM bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY melalui Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB).

Operation Group Head IDM Leonardus Adityo Nugroho mengatakan pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan keterampilan dasar pelajar dalam menghadapi situasi darurat bencana.

“Komitmen kami adalah memperkuat kesadaran masyarakat, khususnya di daerah rawan bencana, agar selalu siaga dan siap menghadapi risiko. Kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk memperluas manfaat bagi masyarakat DIY,” ujarnya, Kamis (29/1).

Koordinator PH Sekber SPAB DIY Budi Santoso menjelaskan, selama dua hari peserta mendapat materi mitigasi gempa yang mencakup pemahaman risiko, teknik penyelamatan, prosedur evakuasi, hingga simulasi penanganan darurat.

BACA JUGA  Korban Terseret Ombak Pantai Parangtritis Ditemukan Meninggal

“Peserta dilatih merespons bencana dengan tenang, mencari perlindungan, serta mempraktikkan jalur evakuasi menuju titik kumpul tanpa kepanikan. Lokasi pelatihan dipilih karena Bantul menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah saat gempa besar 20 tahun lalu,” jelasnya.

Tanggap gempa di kabupaten berisiko gempa bumi

Budi menambahkan, DIY memiliki 14 potensi bencana. Sementara di Kabupaten Bantul terdapat 11 potensi risiko, antara lain gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrem, banjir, kebakaran, tanah longsor, kekeringan, abrasi dan gelombang ekstrem, wabah penyakit, hingga kegagalan teknologi.

“Indikator utama SPAB adalah tersedianya informasi ancaman, potensi kerentanan, serta tindakan penyelamatan untuk mengurangi risiko. Dukungan berbagai pihak penting untuk menumbuhkan kesadaran dan keterampilan kebencanaan di seluruh lapisan masyarakat,” katanya.

Kepala Bidang SMA Disdikpora DIY Tukiman mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai upaya mengenalkan kembali kompleksitas potensi bencana di Yogyakarta.

BACA JUGA  Pengelola Kawasan Wisata Waspadai Rawan Bencana

“Potensi bencana di Jogja cukup kompleks. Kita belajar agar tidak panik saat menghadapi bencana. Siswa diharapkan menjadi pionir mitigasi bencana di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal,” ujarnya.

Salah satu peserta, Azkia Shofwa Al Maala (16), mengaku memiliki ikatan emosional dengan peristiwa gempa 2006. Ia kehilangan kakek dan neneknya akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

“Saya diceritakan ayah bahwa kakek dan nenek meninggal karena tertimpa rumah. Paman saya juga mengalami patah tulang. Walau saya belum lahir saat itu, cerita tersebut membekas bagi saya,” ujar siswi kelas X SMA Negeri 1 Jetis tersebut.

Menurutnya, pelatihan mitigasi bencana penting diketahui seluruh warga, dari anak-anak hingga orang dewasa, guna meminimalkan korban saat terjadi bencana.

Pelatihan membangun memori kolektif kebencanaan

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo mengapresiasi langkah IDM dalam membangun memori kolektif kebencanaan sejak usia dini. Ia menilai kolaborasi ini selaras dengan pelaksanaan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) dan Indeks Kapasitas Daerah (IKD) sebagai instrumen pengukuran kinerja pengurangan risiko bencana nasional.

BACA JUGA  Rayakan Waisak, IDM Siap Gelar Prosesi Pelepasan Lampion

“IRBI dan IKD merupakan indikator strategis untuk mewujudkan ketangguhan nasional terhadap bencana. Sinergi diperlukan agar data, kebijakan, dan aksi di lapangan saling memperkuat,” ujarnya.

Program pelatihan tanggap bencana ini menargetkan 1.000 peserta dari 10 sekolah di Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta, yang diharapkan rampung sebelum puncak peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta pada Mei 2026.

“Melalui sinergi dunia usaha, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan, peringatan 20 tahun gempa tidak hanya menjadi refleksi, tetapi juga momentum membangun Yogyakarta yang lebih tangguh menghadapi risiko bencana di masa depan,” pungkas Leonardus. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Polsek Sleman Selidiki Pembuang Bayi di Zona Klitikan Pasar Sleman

POLSEK Sleman menerima laporan ditemukannya sesosok bayi berjenis kelamin laki-laki di Zona Klitikan Pasar Sleman, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat pagi. Kasi Humas Polresta Sleman Iptu Argo…

JFW 2026, Ruang Bertemunya Identitas Lokal dan Jejaring Global

WAKIL Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X  resmi membuka gelaran Jogja Fashion Week (JFW) XXI 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Sleman, pada Kamis (13/08). Ajang itu diharapkan jadi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari

  • August 15, 2026
Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Lewat Sidik Jari

Pemerintah Kirim 50 ribu Paket Sembako untuk Korban Gempa NTT

  • August 15, 2026
Pemerintah Kirim 50 ribu Paket Sembako untuk Korban Gempa NTT

Korban Meninggal Dunia akibat Gempa M 7,7 di NTT Terus Bertambah

  • August 15, 2026
Korban Meninggal Dunia akibat Gempa M 7,7 di NTT Terus Bertambah

Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Gangguan Kegiatan Keagamaan di GMS Bantul

  • August 15, 2026
Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Gangguan Kegiatan Keagamaan di GMS Bantul

Gunung Merapi Alami 1.205 Gempa dan 98 Awan Panas Guguran

  • August 15, 2026
Gunung Merapi Alami 1.205 Gempa dan 98 Awan Panas Guguran

Bupati Ponorogo Nonaktif Sugiri Sancoko Divonis 6,5 Tahun Penjara

  • August 15, 2026
Bupati Ponorogo Nonaktif Sugiri Sancoko Divonis 6,5 Tahun Penjara