
GUNUNG Semeru dilaporkan kembali mengalami erupsi pada Kamis malam. Menurut petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Sigit Rian Alfian, gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur itu mengalami erupsi sekitar pukul 18. 40 WIB.
“Erupsi Gunung Semeru dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 900 meter di atas puncak atau 4.576 meter di atas permukaan laut (mdpl),” katanya dalam siaran persnya.
Menurutnya, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut dan timur, kemudian erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 153 detik.
Berdasarkan data, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mengalami erupsi sebanyak empat kali pada awal tahun 2026 yakni pukul 01.26 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak.
Level Siaga

Erupsi kedua terjadi pukul 04.01 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 900 meter di atas puncak (4576 mdpl), kemudian erupsi ketiga terjadi pukul 05.29 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati 900 meter di atas puncak (4.576 mdpl), serta erupsi keempat terjadi pukul 18.37 WIB.
Sigit menjelaskan Gunung Semeru berada pada status Level III (Siaga), sehingga Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi.
“Masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi),” katanya.
Di luar jarak tersebut, lanjutnya, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
Rawan lontaran batu
Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
Kemudian warga perlu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. (*/N-01)







