UGM Minta Kebijakan Bencana Lebih Sensitif Gender

FOKUS pemerintah dan relawan dalam penanganan bencana selama ini dinilai masih bertumpu pada pemulihan fisik, seperti distribusi logistik, evakuasi, dan perbaikan infrastruktur. Akibatnya, ancaman kekerasan berbasis gender, khususnya terhadap perempuan di lokasi pengungsian, kerap luput dari perhatian.

Akademisi pemerhati gender dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Ratna Noviani, menyebut kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dalam situasi bencana menjadi bukti nyata bahwa risiko nonfisik belum terantisipasi secara memadai.

“Kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan selama situasi bencana menunjukkan bahwa respons kebencanaan masih belum sensitif gender. Perempuan menghadapi beban berlapis, baik akibat struktur sosial patriarkis maupun kondisi ruang pengungsian yang tidak aman,” ujar Ratna, Sabtu (13/12).

BACA JUGA  Fakultas Farmasi UGM Rampungkan Proses Akreditasi ASIIN

Menurut Ratna, tantangan terbesar dalam melindungi perempuan di lokasi pengungsian adalah minimnya perspektif gender dalam kebijakan dan praktik penanggulangan bencana. Aparat maupun relawan, kata dia, cenderung memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar, sehingga isu kekerasan seksual sering kali dianggap bukan hal mendesak.

“Padahal, dalam situasi krisis dan kerentanan tinggi, risiko kekerasan justru meningkat,” katanya.

Kebijakan bencana harus ada analisis gender

Ratna menekankan pentingnya mekanisme respons bencana yang sejak awal memasukkan analisis gender. Bahkan dalam kondisi darurat, pengelolaan pengungsian harus tetap memperhatikan aspek keamanan berbasis gender, termasuk penyediaan sanitasi terpisah, penerangan yang memadai, serta ruang yang menjamin privasi perempuan.

Selain itu, layanan pelaporan dan pendampingan bagi korban kekerasan seksual perlu disiapkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana.

BACA JUGA  Pakar UGM: Perubahan Iklim Picu Banjir dan Longsor

Terkait solusi, Ratna menilai perlindungan perempuan harus didukung sistem yang terstruktur dan tetap dapat dijalankan meski dalam keterbatasan. Penempatan petugas perempuan di titik-titik pengungsian, penataan ruang tidur terpisah, serta pelatihan relawan mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan berbasis gender perlu menjadi standar.

“Penguatan mekanisme pelaporan, kerja sama dengan lembaga layanan, dan edukasi komunitas sangat penting untuk mencegah potensi kekerasan sejak awal,” ujarnya.

Ratna berharap perlindungan perempuan tidak lagi diposisikan sebagai elemen tambahan dalam manajemen bencana. Sebaliknya, isu tersebut harus menjadi komponen utama dalam setiap fase penanggulangan bencana.

“Kita memerlukan sistem yang mengakui kerentanan berbasis gender, sehingga keselamatan dan martabat perempuan selalu menjadi prioritas. Dengan begitu, kekerasan seksual dalam situasi kebencanaan dapat dicegah dan tidak terus berulang,” tegasnya. (AGT/S-01)

BACA JUGA  Ahli Geologi UGM Ungkap Fakta Ilmiah di Balik Meteor Cirebon

Siswantini Suryandari

Related Posts

Dua Korban Terseret Arus di Cianjur Ditemukan Meninggal

OPERASI pencarian dan pertolongan terhadap dua orang korban yang terseret arus di selokan bawah Hotel Delaga Biru, Kelurahan Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, resmi ditutup setelah seluruh korban berhasil ditemukan.…

UIN Sunan Kalijaga Masuk Ranking V Bidang Hukum Versi Scimago

LEMBAGA pemeringkat internasional Scimago Institution Rankings (SIR) pada  2026  menempatkan UIN Sunan Kalijaga di posisi kelima terbaik di Indonesia dalam bidang hukum. Secara global, kampus ini juga mencatatkan posisi di…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Impor Sapi, Domba dan Unta dari Australia Dorong Swasembada Pangan

  • March 30, 2026
Impor Sapi, Domba dan Unta dari Australia Dorong Swasembada Pangan

Penalti Marin Petkov Pupus Impian Indonesia Juarai FIFA Series

  • March 30, 2026
Penalti Marin Petkov Pupus Impian Indonesia Juarai FIFA Series

Satu Personel RI di UNIFIL Gugur, Menlu Sampaikan Duka

  • March 30, 2026
Satu Personel RI di UNIFIL Gugur, Menlu Sampaikan Duka

Dinkes Temukan 30 Anak Positif Campak di Tasikmalaya

  • March 30, 2026
Dinkes Temukan 30 Anak Positif Campak di Tasikmalaya

Harga Kebutuhan Barang Pokok di Jabar Mulai Turun

  • March 30, 2026
Harga Kebutuhan Barang Pokok di Jabar Mulai Turun

Dua Korban Terseret Arus di Cianjur Ditemukan Meninggal

  • March 30, 2026
Dua Korban Terseret Arus di Cianjur Ditemukan Meninggal