UGM Soroti Dampak Penundaan Kenaikan Cukai Rokok

PEMERINTAH memutuskan untuk tidak menaikkan Cukai Hasil Tembakau (CHT) pada 2026. Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Hempri Suyatna, menilai keputusan tersebut sebagai kebijakan jangka pendek yang berorientasi pada stabilitas sosial.

“Kebijakan ini diambil untuk meminimalkan dampak sosial yang lebih luas,” ujarnya, Jumat (14/11).

Menurut Hempri, keputusan menunda kenaikan cukai dapat dipahami di tengah kondisi industri yang sedang lesu. Banyak industri padat karya yang tutup dan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK). Karena itu, pemerintah dinilai ingin menahan potensi bertambahnya pengangguran.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa aspek kesehatan publik tidak boleh terabaikan. Edukasi dan kampanye bahaya merokok harus tetap digencarkan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengendalian konsumsi.

BACA JUGA  Rebung Berpotensi Jadi Superfood Rendah Kalori

Menanggapi anggapan bahwa kenaikan cukai memicu peredaran rokok ilegal, Hempri berpendapat persoalan tersebut tidak disebabkan oleh satu faktor. “Merebaknya rokok ilegal tidak semata-mata akibat naiknya cukai. Lemahnya pengawasan dan koordinasi antar lembaga juga berperan,” katanya.

Ia menyoroti perlunya penguatan penegakan hukum dan koordinasi antara Bea Cukai, aparat penegak hukum, lembaga peradilan, hingga institusi kesehatan.

Terkait kesejahteraan petani dan buruh rokok, Hempri menilai kondisi di lapangan belum sebanding dengan kontribusi besar mereka terhadap penerimaan negara. Ia menyebut penelitian mahasiswanya pada 2023 yang menunjukkan kuatnya nilai budaya tembakau sebagai “emas hijau”.

“Meski ekonomi tidak menguntungkan, petani tetap setia menanam karena tembakau dianggap sebagai berkah,” ujarnya.

BACA JUGA  Prof Sri Raharjo: MBG Perlu Fokus pada Keamanan Pangan

Hempri menilai faktor budaya serta minimnya pendampingan pemerintah membuat program alih profesi berjalan lambat. Ia mendorong pemerintah melihat kebijakan cukai secara multidimensi.

“Analisis sosial, kesehatan, ekonomi, dan budaya perlu dilakukan agar muncul solusi yang menjadi jalan tengah terbaik,” tegasnya. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Kinerja Bongkar Muat Batu Bara KAI Logistik Meningkat

AKTIVITAS bongkar muat merupakan salah satu mata rantai penting dalam memastikan kelancaran arus komoditas energi dari titik kedatangan menuju fasilitas atau titik tujuan berikutnya. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap layanan…

OJK Jateng Gandeng Nasyiatul Aisyiyah Bentuk 70 Duta Literasi Keuangan

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) menggandeng Nasyiatul Aisyiyah Jateng membentuk 70 Duta Literasi dan Inklusi Keuangan (DILAN) untuk memperluas edukasi keuangan hingga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Wamendikdasmen Harap Dewan Pendidikan Bisa Tingkatkan Mutu Layanan

  • October 14, 2026
Wamendikdasmen Harap Dewan Pendidikan Bisa Tingkatkan Mutu Layanan

Respons Berbagai Musibah Pemkab Garut Gelar Doa Bersama

  • October 14, 2026
Respons Berbagai Musibah Pemkab Garut Gelar Doa Bersama

Bupati Garut Soroti Kesenjangan Partisipasi Sekolah Swasta

  • October 14, 2026
Bupati Garut Soroti Kesenjangan Partisipasi Sekolah Swasta

Penalti Peralta Antar Persib Kalahkan The Cong-Viettel

  • October 14, 2026
Penalti Peralta Antar Persib Kalahkan The Cong-Viettel

Wamendagri Puji Inovasi Penanganan TB Jateng

  • October 14, 2026
Wamendagri Puji Inovasi Penanganan TB Jateng

Refleksi 196 Tahun Kabupaten Gunungkidul: Gayeng Guyub, Waras Ragane, Tentrem Atine

  • October 14, 2026
Refleksi 196 Tahun Kabupaten Gunungkidul: Gayeng Guyub, Waras Ragane, Tentrem Atine