
MENTERI Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya perencanaan tenaga kesehatan jangka panjang yang terukur, berbasis data, dan sesuai perubahan epidemiologi serta demografi Indonesia. Hal ini disampaikan dalam Seminar Nasional rangkaian HUT ke-25 Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) di Jakarta, Kamis (27/11).
Budi menjelaskan bahwa perubahan struktur penduduk, terutama meningkatnya proporsi lansia, akan menggeser pola penyakit dan memengaruhi kebutuhan tenaga kesehatan. “Di DKI Jakarta, jumlah lansia sudah lebih banyak daripada balita. Pergeseran ini otomatis mengubah kebutuhan tenaga kesehatan,” ujarnya.
Seiring meningkatnya penyakit degeneratif seperti jantung, stroke, kanker, dan gangguan ginjal, Indonesia membutuhkan lebih banyak dokter spesialis serta tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus. Namun produksi tenaga medis masih jauh dari mencukupi.
“Kita kekurangan sekitar 70 ribu dokter spesialis, sementara produksinya hanya 2.700–3.000 per tahun. Tanpa perencanaan yang tepat, ketidakseimbangan ini akan terus terjadi,” kata Menkes.
Untuk pertama kalinya, Kemenkes menyusun proyeksi kebutuhan tenaga kesehatan jangka panjang menggunakan model prediksi Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) yang telah disesuaikan dengan data nasional. “Hampir 80 tahun Indonesia merdeka, kita belum pernah memiliki perencanaan tenaga kesehatan jangka panjang yang komprehensif. Sekarang kita membangunnya secara saintifik dan berbasis data,” ujar Budi.
Kemenkes juga menerbitkan buku perencanaan tenaga kesehatan jangka panjang (versi 1) yang dapat diakses publik dan akan diperbarui setiap dua tahun.
Dalam kesempatan tersebut, Menkes mengapresiasi masukan ARSADA yang dinilai memahami kondisi nyata di lapangan, termasuk minimnya dokter spesialis di daerah. Ia mencontohkan kasus di Papua, di mana layanan kebidanan terhenti karena satu-satunya dokter obgyn sedang cuti.
“Perhitungan satu dokter per rumah sakit sudah tidak relevan. Minimal harus ada dua dokter agar layanan tetap berjalan,” ujarnya.
Budi menutup dengan menegaskan bahwa perencanaan tenaga kesehatan yang matang sangat penting untuk menjamin kualitas layanan di masa mendatang. “Saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan, kita ingin generasi mendatang hidup lebih sehat. Itu hanya bisa dicapai jika kita menyiapkan tenaga kesehatan dari sekarang,” pungkasnya. (*/S-01)








