Desa Banyuraden Gunakan Thermal Decomposer System untuk Musnahkan Sampah

PENGELOLAAN sampah, baik sampah rumah tangga maupun sampah pasar, selama ini tidak efektif dan menghasilkan polutan, dan makan tempat. Untuk itu Lurah Banyuraden, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Sudarisman berinisiatif menggunakan Thermal Decomposer System yang dikembangkan oleh PT Bumi Indah Berseri.

Peralatan yang dibangun oleh PT Bumi Indah Berseri ini yang dioperasikan oleh Badan Usaha Kalurahan (BUMKal) Banyuraden, Kapanewin, Gamping, Sleman. Selanjutnya sampah pun dimusnahkan hingga 2 ton. PT Bumi Indah Berseri bahkan menyatakan mampu membangun untuik kapasitas yang lebih besar, 5 ton, 10 ton atau yang lebih besar lagi.

Jajaki semua

Lurah Banyuraden, Sudarisman mengaku sebelum menjalin kerjasama dengan PT Bumi Indah Berseri telah melakukan penjajakan dan mempelajari berbagai sistem pemusnahan sampah. Mulai dari kapasitas, biaya operasional dan tingkat kepemusnahan sampah itu sendiri. “Akhirnya kami memilih yang ditawarkan PT Bumi Indah Berseri,” kata Sudarisman.

Menurut dia, kapasitas peralatan yang dipasang sekarang ini memang baru 2 ton per hari. Namun ke depan, jelasnya akan diperbesar atau pilihan lain akan dibangun di sejumlah titik. Menurut dia salah satunya karena tidak memerlukan tempat yang luas, pengoperasian yang mudah dan tidak menimbulkan bau saat terjadi pembakaran sampah.

BACA JUGA  Pemkot Pekanbaru Tetapkan Status Darurat Sampah

Ramah lingkungan

Peralatan atau sistem yang baru pertama di Indonesia ini, kata Direktur Utama PT Bumi Indah Berseri (BIB), Ratna D. Hapsari menjelaskan, perusahaannya selama ini memang bergerak dalam bidang usaha pemusnahan sampah tanpa asap, ramah lingkungan dan pengoperasian yang mudah dan cepat.

Ratna D Hapsari menjelaskan, sistem yang dikembangkan ini diakui lebih baik dibandingkan dengan pemusnahan dengan menggunakan incenerator. “Pemusnahan sampah yang kami kembangkan dan kami namakan Thermal Decomposer ini dilakukan secara thermal dengan pemberntukan bara dari sampah itu sendiri, tanpa api, tanpa bbm, tanpa chip kayu, sampah dengan cepat terbakar sempurna menjadi abu, di mana abu ini dapat digunakan sebagai bahan campuran pupuk,” katanya.

Waktu singkat

Untuk memulai, sistem ini hanya memerlukan waktu penyiapan maksimal 10 menit. Ini waktu untuk mencapai kestabilan pembakaran sampah. Karena itu berbeda dengan incenerator yang membutuhkan waktu beberapa jam agar api pembakaran sampah berjalan stabil dan dipastikan pada saat tersebut akan timbul asap pekat dan sangat banyak.

Sesuai ukuran peralatan, sampah secara bertahap dimasukkan ke dalam peralatan dan pembakaran menggunakan suhu maksimum 150 derajat Celsius. Dengan suhu ini, kata Ratna, tidak akan terbentuk dioxin dan furan yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

BACA JUGA  Peluang Sampah untuk Mendukung Ketahanan Energi Nasional

Kedua zat tersebut bisa memicu tumbuhnya kanker, menyebabkan kemandulan dan bahkan menyebabkan bayi lahir cacat. Dioxin dan furan, imbuhnya secara alami akan muncul pada pembakaran pada suhu 200 derajat Celsius atau yang lebih panas lagi. Padahal setiap incenerator dipastikan membakar sampah dengan suhu minimal 800 derajat Celsius.

Ratna D Hapsari mengungkapkan, asap beserta materi polutan yang timbul dari proses pemusnahan, ditangkap oleh peralatan yang disebut smover. Asap yang muncul oleh smover diubah menjadi asap cair.

“Polutan yang ditangkap dengan smover berupa padatan dan dapat di proses lebih lanjut menjadi briket arang. Sedangkan semua incinerator Polutan-polutan asap ini akan langsung dihirup oleh manusia dan hewan sehingga tidak hanya menganggu kesehatan manusia tapi juga kesehatan hewan,” ujarnya.

Kurangi efek rumah kaca

Dikatakan, asap yang kemudian dibuang ke udara melalui cerobong, sebenarnya bukan asap pembakaran tetapi berupa steam atau uap air yang bersih dan tidak terlalu panas, sehingga akan mengurangi efek rumah kaca.

BACA JUGA  Pemerintah Targetkan 80 Persen Sampah Tuntas pada 2029

Sudarisman menambahkan, lagi dalam proses pemusnahan sampah ini petugas tidak terlalu dibebani dengan pemilahan. Karena, imbuhnya semua secara umum semua jenis sampah termasuk sampah basah dengan tingkat kebasahan hingga 80 persen termasuk pampers dapat terbakar sempurna.

“Berbeda dengan yang kami simak pada incenerator yang hanya mampu membakar sampah yang memiliki tingkat kebasahan hingga 30 persen. Jika tingkat kebasahan lebih dari 30 persen pasti akan terbentuk asap tebal bahkan mesin akan mati,” katanya.

Jika Incenerator mengklaim mampu membakar sampah tanpa asap, maka wajib membuktikan dan menunjukan polutan yang ditangkap dari asap, sehingga betul-betul hanya steam atau uap air yang keluar melalui cerobong.

“Sistem Thermal decomposer tidak perlu ribet memilah sampah organik dan an organik seperti plastik, misalnya karena sampah plastik akan terbakar menjadi angin,” imbuh Ratna. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Pameran MTQ Nasional di Jateng Catat Transaksi sekitar Rp500 Juta per Hari

GELARAN Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI tahun 2026 di Kota Semarang,  Jawa Tengah  tak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mesin penggerak ekonomi. Melalui Pameran Serambi Nusantara yang diikuti…

Pemkot Bandung Lakukan Pengawasan Khusus pada Tiga SPPG

AKIBAT masih maraknya kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG), Pemerintah Kota Bandung memperketat pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna memastikan keamanan pangan. Wali Kota Bandung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Menkeu Suahasil Berkomitmen Jaga APBN dan Stabilitas Perekonomian

  • September 15, 2026
Menkeu Suahasil Berkomitmen Jaga APBN dan Stabilitas Perekonomian

TNI AL Siap Kawal Kapal Induk Garibaldi saat Masuk ALKI I

  • September 15, 2026
TNI AL Siap Kawal Kapal Induk Garibaldi saat Masuk ALKI I

Tangkap Tangan Dirjen ATR/BPN, KPK Sita Uang Ratusan Miliar

  • September 15, 2026
Tangkap Tangan Dirjen ATR/BPN, KPK Sita Uang Ratusan Miliar

Normalisasi Melanggengkan Kekerasan di Lingkungan Kampus

  • September 15, 2026
Normalisasi Melanggengkan Kekerasan di Lingkungan Kampus

Dari Noken Papua hingga Batik Jawa Hiasi Etelase Nusantara di Panggung MTQ Nasional 2026

  • September 14, 2026
Dari Noken Papua hingga Batik Jawa Hiasi Etelase Nusantara di Panggung MTQ Nasional 2026

Pameran MTQ Nasional di Jateng Catat Transaksi sekitar Rp500 Juta per Hari

  • September 14, 2026
Pameran MTQ Nasional di Jateng Catat Transaksi sekitar Rp500 Juta per Hari