
APLIKASI personal kecerdasan buatan (AI) keluaran agentik berbasis open source OpenClaw baru dilepas pada November tahun lalu.
Namun pada awal 2026 ini jumlah penggunanya sudah cukup tinggi dan jumlah pengunjungnya sudah melampaui angka 2 juta kali dalam sepekan.
Selayaknya produk Artificial Intelligence lain yang memiliki potensi dan risiko, OpenClaw juga demikian dan perlu perhatian khusus dari para penggunanya.
Sementara terhadap aplikasi ini Pemerintah China dilaporkan melarang lembaga pemerintah, badan usaha milik negara, dan bank-bank besar memasang OpenClaw di perangkat kantor.
Celah serangan siber
Kecerdasan buatan agentik itu dinilai berisiko, mulai dari celah serangan siber hingga kebocoran data.
Guru Besar Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, menjelaskan OpenClaw merupakan Agentic AI sebagai bentuk lanjutan dari kecerdasan buatan yang mampu membuat strategi perencanaan, pengambilan aksi kompleks, dan melakukan penyelesaian tugas secara mandiri.
Konsep kerja OpenClaw memanfaatkan data internal pengguna dan data eksternal dari internet guna menyelesaikan tugas-tugas yang diperintahkan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Agentic AI tersebut bersifat open source, di mana sumber atau proses pemrograman dapat dilihat publik dengan terbuka, tidak seperti closed source yang disediakan oleh penyedia.
“Dari sinilah celah keamanan muncul, yang kemungkinan serangan siber atau kebocoran terjadi, baik pada skala individu maupun perusahaan,” kata Prof. Ridi, Minggu (5/4).
Kemiripan sistem
OpenClaw jelasnya bersifat open source, ini bukan cuma gratis, tetapi sumbernya juga terbuka. Siapapun bisa melihat bagaimana proses pembuatannya sehingga banyak pengembang mempelajari dan berusaha membuat sistem serupa.
Pakar Teknologi dan Informasi tersebut menyampaikan, masyarakat sering tidak memahami informasi yang tertera pada sistem konfigurasi dan mengabaikan imbauan untuk memperbarui perangkat.
“Bagi mereka yang awam, perizinan pada perangkat kerap diabaikan dan langsung dilewati maupun asal diizinkan. Dari sinilah penyebab timbulnya risiko kebocoran data pada pengguna kecerdasan buatan, terlebih pada pengguna Agentic AI dengan sumber terbuka seperti OpenClaw,” paparnya.
Untuk menghadapi risiko ancaman tersebut katanya baik bagi individu maupun perusahaan pengguna wajib memahami sejauh mana kebutuhan pengguna terhadap OpenClaw.
“Sebagian besar layanan yang disediakan OpenClaw sudah tersedia di penyedia pihak ketiga platform dan cloud, sehingga data vital lebih aman dan terjamin,” paparnya.
Pahami konfigurasi aplikasi
Ia menekankan pentingnya keyakinan bahwa sistem keamanan, perangkat, dan server pengguna telah aman. Setelah aman, upaya ekstra dalam membaca dan memahami menjadi penting untuk memastikan bahwa langkah perizinan atau konfigurasi aplikasi-aplikasi baru telah benar.
Ketiga, pengguna dapat memeriksa adanya kebocoran data melalui pemantauan minimal dua bulan sekali. Hal ini penting untuk dilakukan, mengingat otomasi OpenClaw memiliki tendensi membuat skenario berbeda di luar kehendak individu dan perusahaan.
“Kita selalu bisa melakukan pembatasan akses terhadap data-data privat yang kita miliki. Kuncinya ada di aktivitas ekstra, ekstra membaca, ekstra memperbarui, ekstra memantau. Karena celah keamanan siapapun bisa terimbas, baik pribadi maupun perusahaan, yang membedakan hanya nilai data yang berpotensi bocor,” jelasnya.(AGT/A-01)









