Kolaborasi Desainer Deden dan Brand Scraf Kisera Pukau Pengunjung

KOLABORASI desainer Deden Siswanto dengan brand scarf Kisera pada peragaan busana di Central Park Jakarta pada Sabtu (7/3) mendapat sambutan dari pengunjung. Apalagi saat mereka mengetahui bahwa busana yang ditampilkan di panggung disusun dari beberapa scarf.

Inovasi baru yang muncul di industri modest fashion Indonesia itu memanh menggabungkan konsep busana dari lembaran scarf tanpa dipotong.

Kolaborasi itu berangkat dari gagasan untuk menghadirkan perspektif baru terhadap penggunaan kerudung atau scarf dalam dunia mode.

Pasalnya, selama ini, scarf lebih sering dipandang hanya sebagai pelengkap busana. Padahal, material tersebut dinilai memiliki potensi lebih untuk diolah menjadi bagian utama dari sebuah outfit.

Meningkatkan fungsi scarf

Busana rancangan hasil kolaborasi desainer Deden Siswanto dengan brand scarf Kisera. (Dok. Kisera)

Owner Kisera, Ardhina Dwiyanti menyebut, ide ini lahir dari keinginannya mengangkat scarf agar tidak lagi sekadar menjadi aksesori dalam fashion muslim.

“Biasanya kalau fashion show, kerudung sering hanya jadi pelengkap saja. Orang lebih melihat desain bajunya. Padahal sejak awal saya ingin menjadikan scarf bukan hanya aksesoris, tapi bagian dari fashion itu sendiri,” tuturnya.

BACA JUGA  Pemprov Jateng Gandeng 44 PT untuk Percepatan Program

Menurut Ardhina, melalui kolaborasi dengan desainer Deden Siswanto, lembaran scarf Kisera diolah menjadi berbagai bentuk busana dengan teknik styling dan penggabungan kain tanpa harus dipotong.

Nilai keberlanjutan

Konsep ini menghadirkan tampilan baru sekaligus memperkuat nilai keberlanjutan dalam mode. Gagasan tersebut muncul ketika dirinya mendapat tantangan untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam pengolahan scarf.

“Biasanya scarf hanya distyling di kepala atau di bahu. Tapi untuk menjadi apparel utuh, ini konsep yang masih jarang digunakan. Jadi kami mencoba menghadirkan sesuatu yang baru,” ungkapnya.

Teknik mulas

Desainer Deden Siswanto menerangkan, teknik yang digunakan dalam koleksi tersebut disebut teknik ‘mulas’, yaitu membentuk busana dengan menggabungkan beberapa scarf menggunakan peniti atau pengait tanpa harus memotong kain.

BACA JUGA  KAI Logistik Gandeng NX Logistics Buat Angkutan Ramah Lingkungan

“Orang biasanya membeli satu scarf hanya untuk kerudung. Tapi kalau membeli dua atau beberapa lembar, sebenarnya bisa diolah menjadi busana. Kami membentuk pattern baru tanpa menggunting kain,” tandasnya.

Dalam salah satu koleksi, Deden bahkan menggabungkan hingga delapan lembar pashmina untuk membentuk sebuah outer panjang atau robe tanpa lengan.
Komposisi warna dan motif yang berbeda menghasilkan dimensi visual yang lebih kaya.

“Ketika dilihat dari jauh mungkin orang hanya melihat itu seperti baju. Tapi ketika didekati, mereka baru menyadari bahwa itu sebenarnya tersusun dari beberapa scarf dengan teknik tertentu,” sambungnya.

Sustainable fashion

Konsep tersebut lanjut Deden, juga membawa semangat sustainable fashion karena meminimalkan limbah kain. Hampir seluruh bahan dimanfaatkan, termasuk sisa material yang dijadikan aksesori seperti sabuk berbentuk bunga atau perhiasan.

“Prinsipnya zero waste. Kalau ada sisa kain, kami gunakan lagi untuk aksesoris atau detail busana,” ujarnya.

BACA JUGA  Sanitasi Buruk dan Buang Air Besar Sembarangan Jadi Penyebab Cacingan

Selain menghadirkan inovasi desain, kolaborasi ini juga membuka peluang baru bagi konsumen untuk lebih kreatif memanfaatkan scarf. Respons publik terhadap koleksi tersebut disebut cukup positif.

Banyak penonton yang terkejut ketika mengetahui bahwa busana yang ditampilkan di panggung ternyata disusun dari beberapa scarf.

Kreativitas desainer

“Modelnya saja sampai bertanya, ‘Ini benar scarf ya?’ Itu menunjukkan bahwa scarf sebenarnya bisa berkembang lebih dari sekadar pelengkap busana,” bebernya.

Ke depan, kolaborasi ini diharapkan dapat melahirkan konsep baru dalam modest fashion sekaligus mendorong kreativitas desainer dalam memanfaatkan material yang ada. (zahra/G-02)

Dyah Soekasto

Related Posts

Coucou Optimistis Capai Target di IIPE 2026

PERUSAHAAN khusus makanan hewan peliharaan (anabul) Coucou optimistis bisa mencapai target penjualan di ajang Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2026 yang berlangsung di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten 4-6 September.…

Diikuti 295 Exhibitor, IIPE 2026 di ICE BSD Diharap Dorong Ekonomi Daerah dan UMKM

PARA penggemar hewan peliharaan (anabul) tumpah ruah di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten pada Jumat (4/9). Mereka begitu antusias menyaksikan pembukaan Indonesia International Pet Expo (IIPE) 2026. Menurut salah seorang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

KSP Pastikan Sertifikasi Wajib Halal Dilaksanakan Tepat Waktu

  • September 20, 2026
KSP Pastikan Sertifikasi Wajib Halal Dilaksanakan Tepat Waktu

Guru Besar FEB Unas Dukung Pergantian Menkeu

  • September 19, 2026
Guru Besar FEB Unas Dukung Pergantian Menkeu

Pembukaan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 Berlangsung Meriah

  • September 19, 2026
Pembukaan Asian Games Aichi-Nagoya 2026  Berlangsung Meriah

Bekuk Java United, Persija Tempel Madura United di Puncak Klasemen

  • September 19, 2026
Bekuk Java United, Persija Tempel Madura United di Puncak Klasemen

Ketika Anak-anak Penyintas Kanker Dipertemukan di Candi Borobudur

  • September 19, 2026
Ketika Anak-anak Penyintas Kanker Dipertemukan di Candi Borobudur

OJK Terbitkan Dua POJK untuk Awasi BMKS

  • September 19, 2026
OJK Terbitkan Dua POJK untuk Awasi BMKS