Quiet Luxury dan Pergeseran Makna Status Sosial

QUIET luxury adalah konsep gaya hidup dan fesyen yang menekankan kemewahan secara halus—tanpa logo mencolok, tanpa branding besar, dan tanpa kesan pamer. Fokusnya ada pada kualitas material, ketepatan potongan, detail pengerjaan, serta nilai jangka panjang dari sebuah produk.

Berbeda dengan logomania atau kemewahan yang eksplisit, quiet luxury justru “berbicara pelan”: yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mahal karena mutu dan craftsmanship-nya.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu juga dinilai relevan membaca fenomena ini. Dalam karyanya Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979), Bourdieu menekankan bahwa selera merupakan alat pembeda kelas sosial.

Kelompok elite cenderung menunjukkan statusnya melalui simbol yang hanya dipahami kalangan tertentu. Quiet luxury sesuai dengan konsep menjadi “kode rahasia” kelas atas. Mereka yang memahami kualitas bahan seperti cashmere terbaik atau tailoring presisi akan mengenali nilainya, tanpa perlu logo besar.

BACA JUGA  Pegal Tak Kunjung Hilang? Awas Saraf Terjepit

Ekonom dan sosiolog Thorstein Veblen pada akhir abad ke-19 dalam bukunya The Theory of the Leisure Class (1899) menjelaskan bahwa konsumsi barang mahal secara mencolok menjadi cara menunjukkan kekayaan dan posisi sosial.

Veblen memperkenalkan istilah conspicuous consumption (konsumsi mencolok) untuk menunjukkan status. Namun, dalam perkembangan masyarakat modern, sebagian elite global beralih ke bentuk kemewahan yang lebih subtil.

Pada perkembangannya quiet luxury adalah evolusi dari konsumsi mencolok menjadi konsumsi yang lebih understated, tetapi tetap eksklusif.

Jurnalis dan penulis buku Deluxe: How Luxury Lost Its Luster, Dana Thomas menilai konsumen kelas atas kini semakin kritis terhadap kualitas, keberlanjutan, dan nilai jangka panjang produk mewah. Ada pergeseran dari “fast fashion mewah” menuju investasi pada produk yang tahan lama dan etis.

BACA JUGA  Tren Makan Tabungan Cukup Populer di Indonesia, Apa Itu?

Ciri-Ciri Quiet Luxury

  1. Warna netral: hitam, krem, navy, abu-abu, putih.
  2. Potongan klasik dan bersih (tailored).
  3. Bahan premium: wool, silk, linen, cashmere.
  4. Minim logo atau tanpa logo.
  5. Tahan tren (timeless), bukan musiman.

Mengapa Quiet Luxury Populer?

  1. Kelelahan terhadap pamer logo.
  2. Kesadaran sustainability.
  3. Perubahan nilai generasi mapan dan profesional muda.
  4. Simbol status yang lebih “cerdas” dan eksklusif.

Ini bukan sekadar tren fesyen, melainkan refleksi perubahan nilai sosial: dari pamer kemewahan menuju apresiasi kualitas dan ketenangan estetika. Ia tetap menunjukkan status—namun dengan bahasa yang lebih halus dan berkelas. (*/S-01)

 

BACA JUGA  Kasus Kanker Kolorektal di Kalangan Anak Muda Melonjak

Siswantini Suryandari

Related Posts

Inilah Lingo, Media Belajar Literasi Anak Usia Dini

DI TENGAH maraknya penggunaan gawai sebagai sarana belajar, tim mahasisa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan Lingo,  Literasi Interaktif Non-Gawai Berbasis Teknologi Pengenalan Ucapan sebagai permainan edukatif pra dan awal sekolah.…

Pulihkan Kualitas Hidup Penderita Osteoartritis Lutut Lewat Prolotherapy dan Olahraga Terukur

OSTEOARTRITIS menjadi salah satu penyakit muskuloskeletal yang dapat membatasi kemampuan seseorang untuk bergerak dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kondisi ini tidak hanya menyebabkan nyeri dan keterbatasan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polisi Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

  • September 12, 2026
Polisi  Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

Timnas Indonesia bakal Bertandang ke Yordania dalam Laga Uji Coba

  • September 12, 2026
Timnas Indonesia bakal Bertandang ke Yordania dalam Laga Uji Coba

Bali United Puncaki Klasemen, Borneo Curi Tiga Angka di Jepara

  • September 12, 2026
Bali United Puncaki Klasemen, Borneo Curi Tiga Angka di Jepara

Suhartoyo: Putusan MK Bersifat Final dan Self Excuting

  • September 12, 2026
Suhartoyo: Putusan MK Bersifat Final dan Self Excuting

Permak PSS Sleman, Madura United Masih di Tiga Besar Klasemen

  • September 12, 2026
Permak PSS Sleman, Madura United Masih di Tiga Besar Klasemen

Persija Akhirnya Sukses Bungkam Persib di SUGBK

  • September 12, 2026
Persija Akhirnya Sukses Bungkam Persib di SUGBK