Pementasan Jantur Tunjukkan Pembangunan tak Perhatikan Lingkungan

RATUSAN penonton nampak antusias menyaksikan pentas JANTUR di lapangan parkir Fakuktas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Siliwangi (Unsil) Kota Tasikmalaya.

Pementasan tersebut, merupakan desain penelitian mengadaptasi prinsip seni kreatif dalam proyeksi penelitian sosial menghargai pemahaman estetis, evokasi, provokasi serta memandang praktik artistik sebagai cara menghasilkan pengetahuan.

Pementasan intermedialitas legenda Dadaha Tasikmalaya JANTUR mengandeng Teater Legion 28 serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater 28 dan sebagai pemeran, pelaksana teknis, aktor hingga sutradara dengan berjumlah pemain 104 orang.

Sebelum pementasan dilakukan, Naskah JANTUR membutuhkan latihan selama 3 bulan dan pementasan tersebut memukau para penonton hadirnya alat berat berupa damtruk dan ekskavator.

Puji para pemain

Pentas JANTUR di lapangan parkir FISIP Universitas Siliwangi (Unsil) Kota Tasikmalaya. (MN/YY)

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candranegara mengatakan, pementasan JANTUR yang diperankan oleh para aktor dan pemeran sangat luar biasa dan bukan omong kosong.

Sebab meski dirinya sutradara tapi untuk para pemain tampil luar biasa. Apalagi mereka menyentuh sisi pembangunan yang dijalankannya tanpa memikirkan dampak alam.

BACA JUGA  Kapolda Jateng Minta para Pemuda, Beri Kontribusi Terbaik untuk Pembangunan Daerah

“Produk budaya masyarakat sekarang tidak diperhatikan dan yang penting duit, duit dan duit, tapi ketika orang yang pintar merasa maka dia akan tetap memikirkan tentang pembangunan ekonomi tanpa korbankan hal yang lainnya baik alam, lingkungan. Indonesia membutuhkan orang pintar, tapi yang merasa tetap memikirkan tentang pertumbuhan ekonomi dan mereka tanpa menghilangkan fungsi alam fungsi produk budaya, karakteristik etika alam dan moral manusia,” ujarnya, Sabtu (14/3/2026).

Memahami seni

Pentas JANTUR di lapangan parkir FISIP Universitas Siliwangi (Unsil) Kota Tasikmalaya. (MN/YY)

Menurutnya, pementasan JANTUR yang diperankan Budi Riswandi luar biasa secara umum sangat dibutuhkan berpikir hingga ada beberapa kelompok orang berpikir tak perlu padahal sebetulnya. Namun, dalam pementasan yang diciptakan tersebut ada keseimbangan, bagaimana cara dia bekerja tapi orang berkesenian memahami seni.

“Orang yang merasa pintar tidak pintar merasa dan biasanya kebutuhan makanya dibutuhkan orang yang memahami tentang seni paling utama contohnya orang muslim juga sama yang ngaji juga kalau tanpa iqro benar tidak akan menjadi sesuat, makanya seni pun sama dalam Islam sebetulnya berkesenian itu harus,” katanya.

BACA JUGA  Saatnya Rekonsiliasi dan Membangun Negeri

Sementara itu, Rektor Unsil Tasikmalaya, Nundang Busaeri mengapresiasi peran lakon JANTUR yang dipentaskan oleh Budi Riswandi dan pemeran lainnya merupakan bagian dari diseminasi artefak penelitian berbasis seni (Art-Based Research) dalam studi doktoral di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Namun, dalam pementasan ini menghadirkan damtruk dan ekskavator seperti ini luar biasa.

“Pementasan ini, kami berharap nanti pada sidang tertutup dan terbuka mendapat nilai Cumlaude. Karena, pementasan seperti ini sangat luar biasa dan kami terharu melihat alat berat hadir dan mudah-mudahan dapat nilai Cumlaude,” katanya.

Diseminasi artefak

Pentas JANTUR di lapangan parkir FISIP Universitas Siliwangi (Unsil) Kota Tasikmalaya. (MN/YY)

Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya, Tatang Supriatna Sumpena mengatakan, pementasan yang dilakukan Budi Riswandi harganya mahal dan sangat menghadirkan ekskavator hingga damtruk.

Untuk sewa alat berat satu harinya Rp 2,5 juta dan ini luar biasa, meski tujuan pertunjukan drama JANTUR bukan hanay sekadar karya artistik, tapi juga merupakan bagian dari diseminasi artefak penelitian berbasis seni (Art-Based Research).

BACA JUGA  Wabup Samosir Letakkan Batu Pertama Pembangunan Salib Suci

“Pementasan ini seperti film karena ada bombastis awal dulu, penampilan orang pasti akan bertanya seperti itu tiba-tiba baru masuk ke drama baru masuk TNI dan kembali lagi follback adegan yang pertama dan seni ini sangat luar biasa bukan kelas lokal, kalau dari sisi ceritanya sendiri yaitu ada hikmahnya maknanya semua orang yang pintar di negara kita ini dunia semua pintar tapi mereka dipilih disuruh memilih mau jadi orang yang pintar merasa atau merasa pintar,” pungkasnya. (YY/M-01)

Related Posts

Perkuat Budaya Lokal, Wabup Sidoarjo Temui Menbud Fadli Zon

WAKIL Bupati Sidoarjo Mimik Idayana melakukan kunjungan kerja ke kantor Kementerian Kebudayaan di Jakarta guna menemui Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Senin (27/4) lalu. Pertemuan itu difokuskan pada upaya sinkronisasi program…

Ngabandungan Bandung: Bangun Kesiapsiagaan Bencana Lewat Video Mapping

KOTA Bandung kembali menghadirkan inovasi seni pertunjukan melalui acara bertajuk ‘Ngabandungan Bandung’, sebuah pertunjukan video mapping yang memadukan visual, budaya, dan edukasi mitigasi bencana bagi masyarakat di Balai Kota Bandung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Gasak Bhayangkara, Persib Kembali Gusur Borneo dari Posisi Puncak

  • April 30, 2026
Gasak Bhayangkara, Persib Kembali Gusur Borneo dari Posisi Puncak

Mantan Istri Dituduh Menganiaya ART, Andre Taulany Enggan Berkomentar

  • April 30, 2026
Mantan Istri Dituduh Menganiaya ART, Andre Taulany Enggan Berkomentar

Alasan Kesehatan, Megawati Mundur dari Timnas Voli Indonesia

  • April 30, 2026
Alasan Kesehatan, Megawati Mundur dari Timnas Voli Indonesia

Pemkot Bandung Rayakan May Day dengan Kegiatan Positif

  • April 30, 2026
Pemkot Bandung Rayakan May Day dengan Kegiatan Positif

Perkuat Hubungan dengan RI, Dubes Australia Resmikan #AussieBanget Corner di Tel-U  

  • April 30, 2026
Perkuat Hubungan dengan RI, Dubes Australia Resmikan #AussieBanget Corner di Tel-U  

Tim UGM Juarai Kompetisi Mobil Listrik di Malaysia

  • April 30, 2026
Tim UGM Juarai Kompetisi Mobil Listrik di Malaysia