Bupati Sleman Ajak Masyarakat Lestarikan Tradisi Luhur Ki Ageng Wonolelo

BUPATI Sleman, Harda Kiswaya menghadiri Kirab Pusaka Saparan Ki Ageng Wonolelo ke 58  di Masjid dan Makam Ki Ageng Wonolelo, Widodomartani, Ngemplak pada Jumat (1/8)

Dalam kesempatan itu ia membagikan apem sebagai salah satu simbol berbagi kepada masyarakat.

Harda mengatakan upacara adat ini menjadi sarana merekatkan tali silaturahmi baik antar warga maupun antara warga dan trah (keluarga) Ki Ageng Wonolelo.

Sebagai salah satu penyebar agama Islam di Jawa, Ki Ageng Wonolelo mempunya nilai-nilai luhur yang perlu diteladani masyarakat.

“Jasa Ki Ageng Wonolelo dalam menyebarkan agama Islam di Kabupaten Sleman khususnya di Widodomartani Ngemplak perlu diteladani nilai-nilai luhurnya,” ujar Harda.

Aset budaya

Harda mengapresiasi Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo ini sebagai salah satu aset wisata budaya di Sleman yang mendapatkan predikat Warisan Budaya Takbenda Nasional pada tahun ini. Harda berharap upacara adat ini dapat lestari.

BACA JUGA  Bupati Garut Dukung Pelestarian Domba sebagai Identitas dan Potensi Ekonomi

Ketua Panitia sekaligus Ketua Trah Ki Ageng Wonolelo, Kawit Sudiyono menyampaikan upacara adat ini dilaksanakan untuk memperingati, menghormati, mendoakan, serta sebagai wujud darma bakti anak cucu kepada pepunden.

Ia juga bersyukur Upacara Adat Saparan Ki Ageng Wonolelo mendapatkan predikat Warisan Budaya Takbenda Nasional.

“Saparan Ki Ageng Wonolelo sudah mendapatkan predikat Warisan Budaya Takbenda Nasional dengan nama apem wonolelo. Maturnuwun pendampingan bapak Bupati Sleman dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman,” ujar Kawit.

Kirab pusaka

Ki Ageng Wonolelo atau Syekh Jumadigeno adalah anak dari Syekh Khaki atau yang dikenal sebagai Jumadil Qubro. Dia merupakan cucu dari Pangeran Blancak Ngilo, dan cicit dari Prabu Brawijaya V.

BACA JUGA  Peduli Sesama, Tamado Group Berbagi Makanan

Setelah memiliki ilmu yang cukup, Ki Ageng Wonolelo ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam hingga mendirikan pondok Wonolelo. Ki Ageng Wonolelo kemudian banyak mewariskan berbagai peninggalan berupa tapak tilas, pusaka, serta benda keramat lainnya.

Warga Wonolelo selalu memperingati dan mengenangnya lewat upacara adat saparan dan kirab pusaka setiap tahunnya.
Disebut saparan karena digelar setiap bulan Sapar (bulan kedua kalender Jawa).
(AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

DVT dan Emboli Paru Silent Killer Sering Terlambat Terdeteksi

KASUS Deep Vein Thrombosis (DVT) dan emboli paru masih menjadi ancaman serius di berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Kondisi ini tergolong berbahaya karena dapat menyebabkan kematian mendadak, sehingga kerap…

Main Game Lebih dari 10 Jam per Minggu Ganggu Kesehatan

BERMAIN game lebih dari 10 jam per minggu berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental. Hal ini terungkap dalam penelitian Curtin University, Australia, yang melibatkan 317 mahasiswa dari lima…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Tim SAR Temukan Tiga Bodypack Korban Longsor di Hari Keenam

  • January 29, 2026
Tim SAR Temukan Tiga Bodypack Korban Longsor di Hari Keenam

Gilas Garuda Jaya, Samator Jaga Asa ke Final Four Proliga

  • January 29, 2026
Gilas Garuda Jaya, Samator Jaga Asa ke Final Four Proliga

KLH Gandeng ITB Kaji Lanskap Wilayah Longsor Cisarua

  • January 29, 2026
KLH Gandeng  ITB Kaji Lanskap Wilayah Longsor Cisarua

Aktivis Perempuan Kecam Pembongkaran Pagar Mutiara Regency

  • January 29, 2026
Aktivis Perempuan Kecam Pembongkaran Pagar Mutiara Regency

Curi Peralatan Foto, Ibu dan Anak Ditangkap

  • January 29, 2026
Curi Peralatan Foto, Ibu dan Anak Ditangkap

Polisi Tetapkan Pelaku Eksploitasi Anak Jadi Tersangka

  • January 29, 2026
Polisi Tetapkan Pelaku Eksploitasi Anak Jadi Tersangka