Inovasi SaClay Mahasiswa UPNVY, Perpanjang Masa Simpan Cabai hingga 15 Hari

PARA petani cabai, sering harus berhadapan degn fluktuasi harga dan kualitas hasil panen, terutama saat panen raya. Kondisi dan kejadian ini, menjadi perhatian serius mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY).

Dari keprihatinan itu, melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), tim mahasiswa UPNVY menghadirkan inovasi Smart Claypot (SaClay) yang mampu memperpanjang masa simpan cabai dari umumnya tiga hari menjadi 15 hari, sekaligus sebagai solusi bagi petani skala mikro atau petani gurem.

Tim PKM-KC UPNVY terdiri dari Pahlevi Alwaleed (Teknik Kimia) sebagai ketua, bersama Bintang Ramadhan (Informatika), Linggar Zeta Kusuma (Teknik Kimia), Marsyafa Lakeisha (Teknik Kimia), dan M. Fahrel Firmansyah (Teknik Kimia).

Kelima mahasiswa tersebut berhasil mengembangkan inovasi Smart Claypot hingga mengantarkan mereka melaju ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 mewakili Kampus Bela Negara.

Berbasis pendinginan evaporatif

Ketua Tim PKM-KC, Pahlevi Alwaleed menjelaskan, Smart Claypot merupakan inovasi wadah penyimpanan cabai berbasis pendinginan evaporatif memanfaatkan energi surya dan terintegrasi Internet of Things (IoT).

Berdasarkan hasil pengujian, prototipe Smart Claypot terbukti mampu mempertahankan kesegaran cabai selama lebih dari 15 hari tanpa aliran listrik PLN.

“Smart Claypot berfungsi sebagai pendingin alami yang terbuat dari gerabah lokal khas Kasongan, Bantul, dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan yang membedakannya dari media media penyimpanan lain, seperti kulkas, freezer, dan cooler box,” terang Pahlevi.

BACA JUGA  UPN Veteran Yogyakarta Perpanjang Waktu Pendaftaran Rektor

Pantau sisa umur simpan cabai

Lebih lanjut, Pahlevi menjelaskan bahwa Smart Claypot membantu petani memantau sisa umur simpan cabai melalui panel boks dan smartphone.

Inovasi ini mengintegrasikan prinsip induced draft fan dengan berbagai sensor, termasuk SGP30 untuk mendeteksi emisi gas volatil sebagai indikator awal kebusukan cabai.

Data tersebut kemudian diolah menggunakan Machine Learning berbasis Support Vector Machine untuk memperkirakan sisa umur simpan cabai.

“Kami ingin menghadirkan solusi yang benar-benar bermanfaat bagi petani gurem. Selama ini, penyimpanan cabai seperti kulkas, freezer, dan cooler box, belum mampu mengoptimalkan berbagai indikator kualitas cabai, seperti susut bobot, kekerasan, dan warna secara bersamaan,” ucap Pahlevi.

Identifikasi masalah

Dosen pembimbing Dr. Ir. Heri Septya Kusuma, S.Si, M.T menyampaikan bahwa Tim PKM-KC lebih dulu melakukan identifikasi masalah di masyarakat, kemudian menyusun solusi berbasis teknologi.

Melalui riset, Tim PKM-KC menemukan fakta bahwa sektor hortikultura menjadi penyumbang food loss terbesar. Kehilangan pangan tersebut terjadi sebelum produk sampai ke konsumen, salah satunya akibat penyimpanan yang kurang optimal.

BACA JUGA  5.880 Mahasiswa Baru UPN Ikuti Pengenalan Kampus

Berdasarkan data Kementerian PPN/Bappenas pada 2021 komoditas sayur-sayuran mencatat tingkat kehilangan hasil (yield loss) mencapai 62,8% dari total ketersediaan domestik.

Sementara itu, rata-rata kehilangan pascapanen (post-harvest loss) produk hortikultura di Indonesia berkisar 25–40%. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan nilai ekonomi hasil panen dan berdampak pada kesejahteraan petani gurem.

“Saya berharap inovasi Smart Claypot dapat dikembangkan dan disempurnakan sehingga dapat memberikan dampak nyata kepada masyarakat, khususnya petani gurem,” tutur Dr. Heri.

Jawab kebutuhan petani gurem

Inovasi Smart Claypot dinilai menjawab kebutuhan petani gurem. Salah satunya disampaikan Arief Setyo, Senior Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merapi (PPHPM) Kabupaten Sleman.

Menurutnya, teknologi penyimpanan cabai sangat dibutuhkan karena masa simpan cabai umumnya hanya 3–5 hari. Ia menilai Smart Claypot berpotensi menjadi solusi bagi petani gurem karena penanganan pascapanen yang kurang tepat dapat mempercepat penurunan kualitas cabai.

“Dulu pernah dicoba menggunakan freezer atau cold storage besar di Kediri, tetapi listriknya boros. Cabai juga harus segera diolah setelah dikeluarkan karena cepat lunak,” papar  Arief Setyo.

Potensi hilirisasi

Senada, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DI Yogyakarta, Sigit Harjono, menyatakan dukungan penuh terhadap implementasi prototipe Smart Claypot.

BACA JUGA  70% Wilayah Indonesia Disebut Terdampak El Nino

Menurutnya, petani sangat membutuhkan teknologi penyimpanan pascapanen yang efisien dan terjangkau untuk menahan laju kerusakan mutu cabai.

Dengan masa simpan yang lebih panjang, petani memiliki daya tawar lebih tinggi dan tidak merugi saat harga pasar sedang anjlok. Sigit Harjono juga menambahkan bahwa konsep smart storage ini memiliki potensi hilirisasi yang besar.

“Ke depannya, inovasi ini sangat potensial untuk dikembangkan ke tonase yang lebih besar dan dikolaborasikan dengan para praktisi bisnis agrikultur, sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara masif oleh kelompok tani meski masih pada tahapan prototipe,” tegasnya.

Kesejahteraan petani

Melalui inovasi Smart Claypot, tim PKM-KC UPNVY tidak hanya menghadirkan solusi pascapanen, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan ekonomi petani mikro.

Ke depan, inovasi ini diharapkan terus dikembangkan dan dihilirisasi agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi petani sekaligus berkontribusi dalam mengurangi food loss di sektor hortikultura. (AGT/M-01)

Related Posts

Pangkas Risiko Demensia dengan Melakukan Pola Hidup Sehat Sejak Dini

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 55,2 juta penderita demensia berbagai tipe di seluruh dunia pada 2019. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan menuanya populasi dunia, jumlah penderita alzheimer dan…

Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender

SELAMA ini pandangan sosial dan budaya yang membatasi peran perempuan masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan riset untuk menghasilkan modul…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah itu Meraup Cuan dari Sampah

  • October 29, 2026
Mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah itu Meraup Cuan dari Sampah

GMKI: Pemuda bukan Alat Kepentingan Penguasa

  • October 29, 2026
GMKI: Pemuda bukan Alat Kepentingan Penguasa

Bekuk Melbourne Victory, Persib Kukuh di Puncak Klasemen ACL 2

  • October 28, 2026
Bekuk Melbourne Victory, Persib Kukuh di Puncak Klasemen ACL 2

Presiden Prabowo Terima Menlu Singapura di Hambalang

  • October 28, 2026
Presiden Prabowo Terima Menlu Singapura di Hambalang

Demi Keadilan, Jumlah Pemain Asiang di League Cup Dibatasi

  • October 28, 2026
Demi Keadilan, Jumlah Pemain Asiang di League Cup Dibatasi

Lulusan S2 UGM Diharap Bisa Berkontribusi Bagi Masyarakat

  • October 28, 2026
Lulusan S2 UGM Diharap Bisa Berkontribusi Bagi Masyarakat