
SELAMA ini pandangan sosial dan budaya yang membatasi peran perempuan masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengembangkan riset untuk menghasilkan modul Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berbasis Gender-Responsive STEM guna mendukung kepercayaan diri remaja perempuan dalam pembelajaran.
Riset ini dilaksanakan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) oleh mahasiswa prodi Pendidikan IPA FMIPA UNY Elvia Dewi Pebriyanti, Uli Baiturrahman Putri, dan Unisa Aulia.
Penelitian yang berfokus di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, ini menelaah faktor sosial dan budaya yang berpotensi memengaruhi pengalaman belajar serta keberlanjutan pendidikan remaja perempuan.
Ruang untuk perempuan
Ketua PKM, Elvia Dewi Pebriyanti, menjelaskan bahwa pendidikan inklusif tidak cukup hanya menyediakan materi pembelajaran. Lingkungan belajar juga perlu memberi ruang bagi remaja perempuan untuk mengembangkan potensi dan percaya pada kemampuannya sendiri.
“Melalui penelitian ini, kami ingin mendorong pembelajaran IPA yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga memberikan kesempatan yang setara bagi remaja perempuan untuk mengenali potensi dan membangun kepercayaan diri di bidang sains dan teknologi,” ujar Elvia, Selasa di Yogyakarta.
Pendekatan Gender-Responsive STEM memadukan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dengan perspektif responsif gender. Pendekatan ini diharapkan membuat pembelajaran lebih peka terhadap stereotip dan bias gender yang dapat membatasi partisipasi perempuan dalam bidang sains dan teknologi.
Hasil akhir yang ditargetkan dalam PKM ini berupa e-modul IPA berbasis Gender-Responsive STEM, angket untuk mengukur self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri dan bias gender, serta angket untuk mengetahui manfaat modul bagi siswi.
Pengalaman belajar remaja perempuan
Perangkat tersebut dirancang untuk membantu tim mengevaluasi kelayakan modul sekaligus memahami manfaatnya bagi pengalaman belajar remaja perempuan.
Dalam pelaksanaannya, tim juga melakukan wawancara dengan guru untuk memperoleh perspektif mengenai pembelajaran IPA di sekolah. Sebelum siswi menggunakan modul, tim meminta izin kepada orang tua. Langkah ini menjadi bagian dari proses pelaksanaan penelitian yang memperhatikan keterlibatan pihak sekolah dan keluarga.
Data yang dihimpun melalui instrumen penelitian dan wawancara selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi kelayakan serta manfaat modul, khususnya dalam mendukung peningkatan kepercayaan diri siswi dan mengurangi bias gender dalam pembelajaran IPA.
Lingkungan pendidikan yang kondusif
Dengan demikian, penilaian terhadap modul tidak hanya berfokus pada isi materi, tetapi juga pada pengalaman dan manfaat yang dirasakan oleh siswi.
Melalui riset ini, Elvia dan tim berharap e-modul yang dihasilkan dapat menjadi salah satu alternatif bahan ajar untuk membangun pembelajaran IPA yang lebih inklusif.
Upaya tersebut sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang memberi kesempatan setara bagi remaja perempuan untuk mengembangkan kemampuan, mengeksplorasi sains, dan merancang masa depan di bidang STEM. (AGT/N-01)








