
GUNA membantu para petani di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah agar tetap dapat melakukan aktivitas pada musim tanam III, Universitas Gadjah Mada melalui Sekolah Pascasarjana bekerja sama dengan Muda Ganesha, alumni SMA Negeri 1 Purworejo, mengembangkan program penyediaan sumber air berbasis kajian potensi air tanah.
Kolaborasi tersebut menghasilkan 11 sumur bor di sejumlah desa di Kabupaten Purworejo tahun ini. Keberadaan sumur bor membantu masyarakat memperoleh sumber air untuk mendukung kebutuhan sehari-hari dan kegiatan pertanian.
Peresmian 11 sumur bor dilaksanakan di Desa Kertosono, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Senin. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat penelitian dan kerja sama alumni bagi masyarakat.
Kebutuhan dasar masyarakat
Bupati Purworejo, Yuli Hastuti, menyampaikan bahwa ketersediaan air berperan penting dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan mendukung kegiatan ekonomi, termasuk pertanian.
Ia berharap sumur bor yang telah dibangun dapat dimanfaatkan dengan baik serta dirawat agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Menurutnya, kerja sama berbagai pihak diperlukan untuk menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Ketersedian air dari sumur bor ini sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung kegiatan pertanian dan penghidupan masyarakat,” ujarnya.
Perlu keberlanjutan
Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah menekankan perlunya keberlanjutan program penyediaan air melalui sinergi berbagai pihak.
Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui keilmuan dan hasil penelitian, sedangkan pemerintah desa dan masyarakat berperan dalam memastikan fasilitas yang tersedia sesuai kebutuhan serta terpelihara dengan baik.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi pijakan untuk mengembangkan program serupa di wilayah lain yang membutuhkan.
“Sinergi seperti ini perlu terus dikembangkan agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat,” tuturnya.
Potensi air tanah di DAS Bogowondo
Ketua Program Studi Magister Ilmu Lingkungan UGM, Dr. Sudaryatno, M.Si., menjelaskan bahwa program ini berawal dari penelitian potensi air tanah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bogowonto pada 2024.
Dalam penelitian tersebut, tim mengkaji sejumlah lokasi untuk mengidentifikasi potensi sumber air tanah. Salah satu titik yang kemudian dikembangkan berada di Desa Karangrejo, setelah tim bertemu dengan kepala desa yang menyampaikan kesulitan warga memperoleh air.
“Waktu itu kami mengadakan penelitian untuk potensi air tanah di DAS Bogowonto,” jelasnya.
Penelitian tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui survei dan pembangunan sumur bor di sejumlah desa. Pada 2024, program mulai dilaksanakan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, kemudian dilanjutkan pada 2025 dengan pengembangan di beberapa lokasi lain.
Dilakukan bertahap
Pada 2026, program kembali diperluas hingga menghasilkan 11 sumur bor yang diresmikan. Sudaryatno menyebut permintaan penyediaan sumber air masih datang dari sejumlah wilayah di Kabupaten Purworejo.
Karena itu, ia berharap pengembangan program berikutnya dapat dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan dan hasil kajian teknis.
Menurut Sudaryatno, penentuan titik pengeboran perlu dilakukan melalui kajian yang sesuai dengan kondisi wilayah. Survei potensi air tanah membantu tim mengidentifikasi lokasi yang berpeluang menghasilkan air serta menentukan kedalaman pengeboran yang sesuai.
Dalam salah satu lokasi yang dijelaskan, sumur dengan kedalaman sekitar 62 meter menghasilkan debit air sekitar empat liter per detik berdasarkan pemeriksaan yang disampaikan dalam rangkaian kegiatan.
Arahkan pembangunan
Pendekatan berbasis kajian tersebut diharapkan membantu mengarahkan pembangunan ke wilayah yang benar-benar membutuhkan sumber air.
“Kalau harapan saya, yang penting ada program dari UGM yang secara teknis dulu. Studi dulu semua, titik-titik mana yang diperlukan di seluruh kabupaten, kemudian bisa dikembangkan secara bertahap,” ujarnya.
Manfaat penyediaan air juga terlihat pada kegiatan pertanian di sejumlah lokasi penerima program. Sudaryatno menjelaskan bahwa petani yang sebelumnya kesulitan melakukan MT III kini dapat kembali menanam, bahkan beberapa lokasi telah memasuki masa panen.
Salah satu sumur yang dibangun disebut mampu mendukung pengairan lahan sekitar 2,5 hektare. Capaian tersebut menunjukkan peran ketersediaan air dalam membantu petani mempertahankan kegiatan budidaya ketika sumber air lain terbatas. “Tapi sekarang alhamdulillah mereka bisa MT3,” katanya.
Pemetaan kebutuhan air
Ke depan, Sudaryatno berharap pengembangan sumur bor dapat didukung pemetaan kebutuhan air secara lebih menyeluruh. Pemetaan tersebut diperlukan untuk menentukan wilayah prioritas, jumlah titik yang dibutuhkan, dan tahapan pembangunan sesuai kondisi masing-masing daerah.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antara UGM, pemerintah daerah, alumni, dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan program. “Minimal kalau bisa seluruh Indonesia. Bulan ini saya ke Belu, NTT. Bersama Bupati Belu, kami merencanakan survei di 80 desa untuk melihat potensi pengembangan sumur bor,” pungkasnya.(AGT/M-01)






