
GUNA memberikan kemudahan bagi perguruan tinggi mengambil kebijakan penerimaan mahasiswa baru, Kholid Haryono mahasiswa Program Studi Rekayasa Industri, Program Doktor FTI UII, mengembangkan artefak Inteligen Bisnis (IB).
Lewat inovasinya itu ia ingin mendukung pengambilan keputusan admisi di sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia dengan menggunakan pendekatan Penelitian Desain Tindakan (Action Design Research/ADR).
Ia menyodorkan hal itu dalam desertasinya yang berjudul Prinsip-prinsip Desain Inteligen Bisnis pada Institusi Pendidikan Tinggi Menggunakan Pendekatan Penelitian Desain Tindakan, Studi Kasus: Pengambilan Keputusan pada Domain Admisi di Institusi Pendidikan Tinggi (IPT).
Lewat desertasinya itu Kholid Haryono berhasil meraih gelar Doktor pada 28 Juli 2027. Ia merupakan doktor ke-5 Program Studi Rekayasa Industri, Program Doktor FTI UII.
Lakukan pemetaan
Dalam rilisnya yang diterima www.mimbarnusantara.com pada Senin, Kholid Haryono yang didampingi Ketua Jurusan Informatika FTI UII Dr Ir Raden Teduh Dirgahayu ST MSc, mengemukakan, penelitian yang dilakukannya menggunakan Teori Rasionalitas Terbatas (Bounded Rationality Theory) dan Teori Salience Pemangku Kepentingan (Stakeholder Salience Theory).
Hal itu untuk memetakan 21 jenis keputusan admisi dan 4 model pengambilan keputusan (heuristik, kolaboratif, analitis dan intuitif) yang digunakan pemangku kepentingan dalam praktik sehari-hari.
Ia menjelaskan Artefak IB dikembangkan dan diujicobakan secara nyata melalui 4 iterasi (Alpha, Beta, Gamma, Delta), dievaluasi dengan pengujian fungsional, Importance-Performance Analysis, System Usability Scale, dan wawancara evaluatif bersama pimpinan universitas, kepala bidang admisi dan ketua program studi.
Pada iterasi akhir, seluruh 31 fitur artefak dinilai berada pada kondisi penerimaan pengguna paling ideal, dengan skor kebergunaan sistem (usability) sebesar 84,4 dari skala 100 atau tergolong ‘sangat baik’.
12 prinsip desain
Dikatakan, dari proses pengembangan dan refleksi tersebut, penelitian yang dilakukan itu menghasilkan 12 prinsip desain dalam pengembangan IB (Design Principles/DP-1 hingga DP-12) yang mencakup aspek kepercayaan data, arsitektur informasi berbasis keputusan, tata kelola kebijakan yang dapat ditelusuri, visualisasi yang bermakna bagi pengguna, hingga mekanisme evaluasi dan pembelajaran berkelanjutan.
Kholid menyebutkan prinsip-prinsip tersebut memberikan kontribusi teoretis berupa pengetahuan desain yang bersifat preskriptif, kontribusi metodologis berupa penerapan ADR secara menyeluruh pada konteks admisi perguruan tinggi, serta kontribusi praktis berupa panduan konkret bagi perguruan tinggi lain untuk membangun sistem IB yang mendukung keputusan admisi secara lebih cepat, akurat, dan akuntabel.
Menurut dia, beberapa kebaruan dari penelitian ini yakni pada titik temu tiga ranah kontribusi sekaligus, yang belum pernah digabungkan dalam satu penelitian pada domain admisi perguruan tinggi.
Pengetahuan desain preskriptif
Pertama, kebaruan teoretis. Penelitian ini merumuskan dua belas prinsip desain Inteligen Bisnis yang secara khusus dibangun untuk domain admisi perguruan tinggi-bukan sekadar artefak sistem, melainkan pengetahuan desain preskriptif yang menjelaskan bagaimana, mengapa, dan dalam kondisi apa IB admisi seharusnya dirancang, sehingga dapat digunakan kembali oleh institusi lain dengan kelas masalah serupa.
Kedua, kebaruan metodologis. Penelitian ini menjadi salah satu penerapan pertama Penelitian Desain Tindakan (Action Design Research) secara menyeluruh-empat tahap dan tujuh prinsip ADR-untuk mengembangkan Inteligen Bisnis pada domain admisi institusi pendidikan tinggi, menggabungkan kekuatan Design Science Research (rigor dalam membangun artefak) dengan Action Research (relevansi terhadap konteks organisasi nyata), dua pendekatan yang sebelumnya jarang dipadukan secara utuh pada domain ini.
Ketiga, kebaruan empiris dan praktis. Penelitian ini menghasilkan pemetaan sistematis dua puluh jenis keputusan admisi beserta empat model pengambilan keputusan dominan berdasarkan tingkat keterbatasan informasi dan kognitif pengambil keputusan, sekaligus artefak IB nyata yang telah diimplementasikan, diintervensikan, dan diuji langsung pada organisasi selama empat iterasi pengembangan-bukan sekadar purwarupa (prototype) yang berhenti di laboratorium.
Dari hal itu, ia kemudian menyimpulkan pertama, tantangan utama pengambilan keputusan admisi teridentifikasi secara empiris, yaitu keterbatasan akses informasi yang tersebar lintas sistem, keterbatasan kapasitas kognitif pengguna dalam memahami banyak indikator sekaligus, serta tekanan waktu yang melekat pada sifat siklikal proses penerimaan mahasiswa baru.
Tujuh kelompok
Kedua, 20 jenis keputusan admisi berhasil dipetakan dan dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok keputusan dengan empat model pengambilan keputusan dominan, yaitu heuristik, kolaboratif, analitis, dan intuitif, tergantung pada tingkat keterbatasan informasi dan kognitif yang dihadapi setiap pengambil keputusan.
Ketiga, pendekatan Penelitian Desain Tindakan (ADR) berhasil diterapkan secara menyeluruh melalui empat iterasi pengembangan artefak (Alpha, Beta, Gamma, Delta), menghasilkan dasbor Inteligen Bisnis yang telah teruji secara fungsional, dinilai berguna dan mudah digunakan oleh pengguna, serta mencapai tingkat kebergunaan sistem yang sangat baik pada versi akhir.
Keempat, 12 prinsip desain (DP-1 hingga DP-12) berhasil diformalkan secara lengkap, mencakup pernyataan prinsip, rasional, mekanisme implementasi, kondisi batas, evidensi empiris, keterkaitan dengan artefak, dan potensi generalisasi ke konteks lain, sehingga dapat diadopsi secara bertahap oleh perguruan tinggi lain sesuai tingkat kematangan data dan organisasinya.
Kelima, penelitian ini menegaskan bahwa investasi pada Inteligen Bisnis admisi bukan sekadar investasi teknologi, melainkan investasi pada kualitas proses pengambilan keputusan institusi-mendorong pergeseran dari keputusan yang mengandalkan intuisi menuju keputusan yang didukung data yang tepercaya, relevan, dan mudah ditafsirkan. (AGT/M-01)






