
FAKULTAS Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) terus mendorong peningkatan kualitas pelaksanaan ibadah kurban melalui edukasi kepada masyarakat terkait teknik penanganan hewan dan pengelolaan daging kurban yang halal, aman, ihsan, serta higienis.
Dosen Fapet UGM, Ir. Cuk Tri Noviandi, S.Pt., M.Anim.St., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT melalui pelaksanaan yang benar dan penuh tanggung jawab.
Oleh karena itu, hewan kurban harus memenuhi syarat syariat dan kesehatan, mulai dari jenis ternak, umur, kondisi fisik, hingga bebas dari penyakit berisiko zoonosis.
Cuk juga menekankan aspek kesejahteraan hewan yang juga perlu menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan kurban.
Animal welfare
Ia menjelaskan pentingnya prinsip animal welfare atau 5 Freedom, yakni memastikan hewan bebas dari rasa lapar, haus, sakit, ketakutan, serta tetap dapat menampilkan perilaku alaminya.
“Perlakuan yang baik terhadap hewan diyakini akan membuat proses penyembelihan lebih aman dan berkualitas,” kata Cuk, Selasa (26/5).
Dalam praktik di lapangan, panitia diingatkan untuk menjaga suasana tetap tenang saat proses penyembelihan berlangsung. Kerumunan, suara bising, dan terlalu banyak orang di area sembelih dapat membuat hewan stres dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja.
Untuk itu, hanya petugas inti yang diperbolehkan berada di area penyembelihan, sementara anak-anak dan penonton diminta berada di luar radius aman.
Persiapan sebelum penyembelihan
Sementara itu, persiapan teknis sebelum penyembelihan juga menjadi faktor penting. Hewan perlu diistirahatkan terlebih dahulu, dipuasakan sekitar 12 jam dengan tetap diberi air minum, serta ditempatkan di area transit yang nyaman.
Pisau sembelih harus tajam, bersih, dan tidak diperlihatkan kepada hewan. Panitia juga diwajibkan menyiapkan alat pelindung diri (APD), sanitasi, serta alur kerja yang jelas demi keselamatan dan higienitas proses kurban.
“Penyembelihan harus dilakukan dengan satu gerakan efektif pada titik yang tepat di belakang jakun untuk memastikan saluran utama terpotong sempurna sesuai syariat halal,”pesannya.
Mengelola Daging Kurban agar Higienis
Selain aspek penyembelihan, perhatian besar juga diberikan pada pengelolaan daging kurban agar tetap higienis dan aman dikonsumsi.
Dosen Fapet UGM, Dr. Ir. Rio Olympias Sujarwanta, S.Pt., M.Sc., IPM., ASEAN Eng, mengimbau agar panitia kurban tidak memotong daging sambil merokok, menghindari batuk atau bersin di dekat daging, serta tidak mencuci jerohan di sungai yang berpotensi tercemar limbah dan bakteri.
“Penggunaan sarung tangan plastik juga dianjurkan guna mencegah kontaminasi mikroba pada daging kurban,”papar Rio.
Dikatakan daging dan jeroan juga harus dipisahkan pengelolaannya untuk menghindari kontaminasi silang dan bau tidak sedap. Daging tidak boleh diletakkan langsung di tanah karena dapat memicu pertumbuhan kuman dalam jumlah besar.
Hindari plastik hitam
Untuk distribusi, masyarakat dianjurkan menghindari penggunaan plastik hitam karena berpotensi mengandung bahan berbahaya, dan beralih menggunakan besek bambu atau wadah yang lebih aman serta ramah lingkungan.
Rio menambahkan untuk daging kurban dianjurkan segera dimasak atau disimpan setelah dipotong untuk menghambat pertumbuhan mikroba.
Jika masih bersih, daging sebaiknya tidak dicuci sebelum disimpan. Sebelum dimasukkan ke freezer, daging dianjurkan didinginkan terlebih dahulu di kulkas selama 12–24 jam agar tekstur tetap empuk dan kualitasnya terjaga. (AGT/N-01)







