
INJOURNEY Community Care beri pelatihan kepada 300 siswa SMA 5 Yogyakarta, SMA 1 Sewon Bantul dan SMA 1 Patuk Gunungkidul untuk menghadapi situasi darurat gempa bumi pada 21–22 April 2026.
Pelatihan itu sekaligus menyambut peringatan 20 tahun gempa bumi Yogyakarta sekaligus untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran dan keterampilan dasar pelajar, terutama dalam menghadapi situasi darurat bencana alam.
Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi yang intensif antara IDM bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DI Yogyakarta melalui Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB) di setiap unit sekolah.
Direktur Operasi InJourney Destination Management Indung Purwita Jati mengatakan bahwa inisiasi yang telah berjalan di lima SMA yang berada di wilayah Bantul, Gunungkidul dan Kota Yogyakarta ini diharapkan bisa meningkatkan pemahaman, kesadaran dan keterampilan dasar dalam menghadapi situasi darurat bencana.
Target 1.000 peserta
“Target kita siswa SMA mengingat program tanggap bencana itu harus dimulai dari dini. Kami berharap dengan literasi dan juga pemahaman SMA yang sudah matang, sehingga mereka bisa menyebarluaskan bagaimana seharusnya jika terjadi bencana, mereka bisa memberikan edukasi kepada orang-orang sekitarnya, sehingga bisa cepat tanggap, serta tujuannya untuk selamat,” jelasnya.
InJourney Community Care pelatihan tanggap bencana gempa bumi ini menargetkan 1.000 peserta dari 10 sekolah di wilayah Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta. Program ini diharapkan tercapai sebelum puncak peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta pada Mei 2026 mendatang.
“Melalui sinergi antara dunia usaha, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan ini, peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta tidak hanya menjadi momen reflektif serta ebangkitan untuk membangun Yogyakarta yang lebih tangguh dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan,” jelasnya.
Mitigasi awal
Koordinator PH Sekber SPAB DIY Budi Santoso menjelaskan sekolah-sekolah yang mengikuti program InJourney Community Care ini merupakan sekolah yang berada di daerah dengan risiko bencana gempa, mengingat lokasinya berada di area sesar Opak yang merintang dari selatan Yogyakarta hingga wilayah Klaten, Jawa Tengah.
“Dalam dua hari pelatihan ini, peserta mendapat serangkaian materi intensif yang mencakup mitigasi awal, yang meliputi pemahaman mengenai potensi bencana gempa bumi di kawasan Yogyakarta, teknik penyelamatan dan evakuasi. Tahap akhir pelatihan diakhiri dengan simulasi penanganan darurat bencana gempa bumi yang diikuti oleh siswa maupun guru sekolah,” jelasnya.
Kepala Sekolah SMA 5 Yogyakarta Siti Hajarwati mengatakan bahwa kegiatan simulasi kebencanaan ini melengkapi seperangkat sarana dan prasarana yang telah dimiliki oleh sekolah tersebut.
“Pelatihan ini melengkapi sarana prasarana yang tersedia. Kalau pengetahuan kita terkait kebencanaan tidak didukung oleh pengetahuan dari masing-masing dari kita semua, maka sama saja bohong. Oleh karena itu, materi ini harus terus diulang, agar dapat mendapatkan pengetahuan, pemahaman dan perilaku yang harus tanggap saat terjadinya bencana,” jelasnya.
Lebih tenang hadapi bencana
Salah satu siswa SMA Negeri I Patuk, Gunungkidul, Rahmat Sholeh Setiawan mengaku belum pernah mengalami bencana besar seperti yang terjadi di tahun 2006. Siswa Bagi kelas 11 kelahiran 2008 ini hanya mendengar cerita dari orang tua maupun saudara tentang bencana gempa bumi besar yang melanda Yogyakarta.
Rahmat mengatakan bahwa dengan mengikuti pelatihan kebencanaan seperti ini, dirinya lebih tenang dalam menghadapi bencana alam. Menurutnya, ketenangan diperlukan agar lebih fokus dalam bersikap dan menentukan posisi dan perilaku yang tepat dalam situasi bencana.
“Langkah yang pertama itu ketenangan. Jika panik, jadinya tidak fokus dan bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Ketenangan dimiliki jika memiliki penguasaan terhadap materi tanggap bencana yang tepat. Semoga pelatihan ini bisa semakin mengasah kemampuan tanggap bencana” terangnya.
Melalui inisiatif InJourney Community Care, InJourney Destination Management (IDM) menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana adalah pilar utama dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
Bangun masa depan lebih tangguh
Dipilihnya momentum 20 tahun peringatan gempa Yogyakarta sebagai pijakan pengingat untuk membangun masa depan yang lebih tangguh menghadapi bencana melalui edukasi kepada generasi muda.
“Komitmen terhadap kebencanaan ini merupakan bagian dari strategi IDM dalam mengintegrasikan aspek keamanan dan keselamatan di seluruh destinasi kelolaannya. IDM berharap, melalui pelatihan ini para pelajar dapat menjadi agen perubahan yang mampu menyebarluaskan literasi bencana di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas,” kata Indung Purwita Jati. (AGT/M-01)





