Bangun Laboratorium Stem Cell, Unisa Kembangkan Pengobatan Regeneratif

UNIVERSITAS  Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta tengah membangun laboratorium stem cell yang diharapkan dapat difungsikan pada 2026.

Fasilitas itu, kata Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional Unisa Yogyakarta, Ali Imron, disiapkan untuk mendukung pengembangan regenerative medicine atau pengobatan regeneratif.

Menurut dia, pengobatan regeneratif ini diyakini sebagai salah satu masa depan dunia medis. “Kehadiran laboratorium ini diharapkan akan membuka akses yang lebih mudah kesehatan kepada semua lapisan masyarakat,” kata Ali Imron, Selasa.

Laboratorium tersebut diharapkan dapat beroperasi mulai Juli–Agustus 2026.

Pengembangan ilmu kedokteran

“Sekarang proses pembangunannya sedang berjalan dan Insya Allah sekitar Juli kita bisa running untuk pembukaan laboratorium stem cell di Unisa Yogyakarta,” kata Ali Imron di kampus Unisa.

Dikatakan keberadaan laboratorium ini akan menjadi lompatan penting bagi Unisa Yogyakarta dalam pengembangan ilmu kedokteran dan sains kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan pengobatan regeneratif.

BACA JUGA  22 Mahasiswa Unisa Keracunan Snack Saat Ikuti ECE

Ia menjelaskan, stem cell merupakan bagian penting dari perkembangan future medicine. Pendekatan ini berfokus pada upaya memperbaiki atau mengganti sel-sel tubuh yang rusak dengan sel baru sebagai metode terapi.

“Future medicine salah satunya adalah regenerative medicine. Artinya, kalau kita tidak menuju ke sana, kita akan ketinggalan,” ujarnya.

Sesuai regulasi

Imron menuturkan bahwa sesuai regulasi di Indonesia, penggunaan terapi berbasis stem cell harus didukung oleh proses penelitian dan pengembangan di laboratorium.

Karena itu, laboratorium yang akan dibangun di Unisa difungsikan sebagai fasilitas penelitian sebelum terapi dilakukan pada pasien.

Laboratorium tersebut nantinya dapat dimanfaatkan oleh berbagai program studi di bidang kesehatan di lingkungan Unisa Yogyakarta, serta mendukung pengembangan riset ilmiah yang berkaitan dengan bioteknologi dan ilmu kesehatan lainnya.

BACA JUGA  UGM, SCCR dan YAPI Berkolaborasi Kembangan Teknologi Stem Cell

Masih terbatas

Saat ini, kata Imron, jumlah laboratorium stem cell di Indonesia masih sangat terbatas, yakni sekitar delapan fasilitas di seluruh Indonesia.

“Ini fasilitas pendukung untuk penelitian yang dapat dimanfaatkan khususnya oleh prodi-prodi kesehatan,” katanya.

Selain untuk pengembangan ilmu pengetahuan, keberadaan laboratorium ini juga diharapkan dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap teknologi kesehatan yang selama ini masih mahal karena bergantung pada produk impor.

Ia mencontohkan, beberapa terapi turunan stem cell untuk penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus, masih menggunakan produk impor dengan biaya yang sangat tinggi.

Bisa terjangkau

“Sekali injeksi bisa sampai sekitar Rp225 juta. Prinsip kita di Unisa Yogyakarta, teknologi kesehatan tidak boleh hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja,” ujarnya.

BACA JUGA  UGM, SCCR dan YAPI Berkolaborasi Kembangan Teknologi Stem Cell

Imron berharap semakin banyak laboratorium stem cell yang dibangun di Indonesia, maka biaya terapi berbasis teknologi regeneratif dapat semakin terjangkau oleh masyarakat luas.

“Semakin banyak laboratorium dibangun, aksesibilitas masyarakat akan semakin tinggi dan harga bisa ditekan sehingga lebih banyak orang bisa menikmati manfaatnya,” jelasnya.

Program Magister Fisioterafi

Selain pengembangan fasilitas laboratorium, Unisa Yogyakarta juga membuka Program Magister Fisioterapi mulai tahun akademik ini.

Program tersebut memiliki konsentrasi pada regenerative fisioterapi, yang selaras dengan pengembangan riset stem cell di kampus tersebut. (AGT/J-02)

Dimitry Ramadan

Related Posts

MBG Harusnya Dilakukan Bertahap dan Diutamakan untuk Penderita Stunting

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sebagai upaya meningkatkan status gizi pelajar justru dihadapkan pada persoalan serius terkait keamanan pangan. Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sejak…

InJourney Community Care Latih 300 Siswa untuk Hadapi Gempa

INJOURNEY Community Care beri pelatihan kepada 300 siswa SMA 5 Yogyakarta, SMA 1 Sewon Bantul dan SMA 1 Patuk Gunungkidul untuk menghadapi situasi darurat gempa bumi pada 21–22 April 2026.…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

MBG Harusnya Dilakukan Bertahap dan Diutamakan untuk Penderita Stunting

  • April 24, 2026
MBG Harusnya Dilakukan Bertahap dan Diutamakan untuk Penderita Stunting

InJourney Community Care Latih 300 Siswa untuk Hadapi Gempa

  • April 24, 2026
InJourney Community Care Latih 300 Siswa untuk Hadapi Gempa

UGM Resmi Tetapkan 16 Anggota MWA Terpilih

  • April 24, 2026
UGM Resmi Tetapkan 16 Anggota MWA Terpilih

Wabup Sidoarjo Desak Percepatan Infrastruktur di Dusun Kepetingan

  • April 24, 2026

Rayakan Hari Bumi 2026, Masyarakat Diminta Jaga Lingkungan

  • April 24, 2026
Rayakan Hari Bumi 2026, Masyarakat Diminta Jaga Lingkungan

Terapkan WFH-WFO, Pemkot Bandung Dorong ASN Lebih Adaptif dan Produktif

  • April 24, 2026
Terapkan WFH-WFO, Pemkot Bandung Dorong ASN Lebih Adaptif dan Produktif