Perayaan Shivaratri Buka Shiva Prambanan Festival

PRAMBANAN Shiva Festival yang akan berlangsung selama satu bulan ke depan dibuka dengan perayaan Shivaratri yang diselenggarakan di Lapangan Garuda, Kompleks Candi Prambanan.

Persembahyanag Shivaratri merupakan upacara bagi umat Hindu Nusantara dan dunia untuk memuja Dewa Shiva secara bersama-sama serta dimaknai sebagai titik balik untuk melakukan perenungan mendalam, introspeksi diri, dan memohon pengampunan.

Perayaan ini merupakan momentum dalam meneguhkan peran Candi Prambanan sebagai warisan budaya dan juga pusat rumah ibadah umat Hindu Nusantara  dan dunia.

Prinsip keharmonisan

“Perayaan Shivaratri yang dikemas ke dalam rangkaian Prambanan Shiva Festival merupakan manifestasi dari transformasi Candi Prambanan sebagai salah satu lokus spiritual Hindu Nusantara dan Dunia.”

“Melalui kolaborasi berbagai pihak, Candi Prambanan kini tidak hanya monumen arkeologis, tetapi juga sebagai pusat ibadah serta gerbang kebangkitan spiritual bagi umat Hindu Nusantara dan dunia,” jelas Direktur Komersial InJourney Destination Management Gistang Panutur di Yogyakarta, Sabtu.

Gistang Panutur menekankan prinsip keharmonisan yang menjadi kunci utama dalam pengembangan pariwisata berkarakter destinasi Taman Wisata Candi.

Aktivitas ini juga mengedepankan pelibatan aktif lingkungan dan budaya setempat yang memberikan pengalaman batin bagi wisatawan serta menghadirkan kemanfaatan yang berkelanjutan bagi warga di kawasan.

Semangat kolaborasi

“Manajemen mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan pelaku industri pariwisata untuk bersama-sama menjaga kemuliaan Candi Prambanan,” katanya.

“Dengan semangat kolaborasi, Candi Prambanan diharapkan terus berdiri tegak sebagai mercusuar spiritual yang memancarkan harmoni dan mendorong kesejahteraan berbasis budaya bagi bangsa dan dunia.”

BACA JUGA  Para Atlet dari 12 Negara Ikuti World Boomerang Championships 2026 di Lanud Sulaeman

Tarian kosmik

Kegiatan Prambanan Shiva Festival merupakan bentuk kolaborasi berbagai pihak, di antaranya Kementerian Agama RI melalui Dirjen Bimas Hindu, Kementerian Pariwisata RI, Kementerian Kebudayaan RI, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan InJourney Destination Management.

Rangkaian Shivaratri  dibuka dengan Tari Siwa Grha, yang menggambarkan Dewa Shiva sebagai Nataraja yang melakukan tarian kosmik (Tandava) untuk melebur alam semesta agar dapat diciptakan kembali dan melambangkan siklus waktu abadi melalui gerakan, irama, dan api.

Setelah itu, ribuan umat Hindu melantukan puja dan mantra keagungan Dewa Shiva dan japa mantra 1008 nama Shiva yang dilaksanakan jam 00.00–03.00 WIB dan diakhiri dengan persembahyangan Tilem Kepitu.

Peribadatan ini berisi ajaran, pujian kepada Tuhan untuk menyampaikan prinsip hidup dan ajaran spiritual secara ringkas, sering kali menjadi bagian dari doa atau nyanyian keagamaan (Dharmagita).

Kesadaran akan sejarah

Ketua Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan, Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan bahwa pelaksanaan perayaan Shivaratri di Candi Prambanan selaras dengan bukti sejarah yang terpatri di Prasasti Wantil tahun 778 Śaka (856 Masehi).

Nyoman menekankan bahwa penyelenggaraan Shivaratri di kompleks candi ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk kesadaran akan nilai historis dan spiritualnya.

“Prasasti Wantil tahun 778 Śaka (856 Masehi) menyebutkan kelompok candi agung yang dipersembahkan untuk dewa Siwa atau disebut Shivagrha. Jadi Shivagraha adalah nama asli dari Candi Prambanan sebagai pusat pengagungan dewa Shiva.”

BACA JUGA  Asita Riau Dukung Penurunkan Harga Tiket Pesawat Jelang Nataru

“Itulah salah satu alasan mendasar mengapa puja Shiva kita lakukan malam ini di Candi Prambanan dan menjadi momentum yang tepat untuk melakukan kontemplasi dan perenungan diri dengan melepaskan semua ikatan dunia dan fokus memuliakan nama Shiva” terangnya.

Pameran lukisan

Pada pembukaan Prambanan Shiva Festival ini juga menghadirkan pameran lukisan hasil karya dari 150 seniman berbagai daerah. Lukisan yang merepresentasikan keindahan, kemegahan Candi Prambanan ini menjadi perjumpaan antara seni rupa kontemporer dan warisan budaya Nusantara.

Dirjen Bimas Hindu RI I Nengah Duija mengatakan bahwa dengan semangat kolaborasi dan kesadaran kolektif, momentum Mahashivaratri 2026 harus menjadi titik balik pemuliaan Candi Prambanan sebagai pusat ibadah umat Hindu Nusantara dan dunia.

“Sudah saatnya kita tunjukkan bahwa umat Hindu siap menjadikan Candi Prambanan bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai gerbang kebangkitan spiritual dan ekonomi umat,” jelasnya.

Pariwisata berkarakter

Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa mengatakan, Hari Suci Shivaratri ini merupakan momen yang tepat untuk menjaga dan mengembangkan pariwisata berkarakter, yang mampu memberikan pengalaman bermakna bagi wisatawan dan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat serta lingkungan.

“Mari kita bersama-sama merenungkan makna dari perayaan Hari Suci Shivaratri ini untuk memperdalam kebijaksanaan, meningkatkan kesadaran spiritual dan memperbaiki kualitas diri.”

BACA JUGA  Keberadaan Borobudur Diharap Mengerek Pariwisata di Daerah Sekitar

“Semoga kita bisa lebih mendekatkan diri pada Hyang Widi, memperkuat ketenangan batin, serta membangun karakter, sehingga mampu menciptakan pariwisata memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan lingkungan sekitar,” jelasnya.

Aktivitas Shivaratri di Candi Prambanan menjadi landasan dalam mewujudkan pariwisata yang berkarakter dengan menghadirkan nilai-nilai yang lebih mendalam dalam pengalaman wisata.

“Pariwisata berorientasi pada spiritualitas tidak hanya berfokus pada eksplorasi fisik suatu destinasi, tapi juga ada di dalamnya soal perenungan diri. Juga ada bicara keseimbangan batin, dan juga hubungan yang lebih harmonis dengan  lingkungan dan budaya setempat,” lanjut Wamenpar Ni Luh Puspa.

Moderasi beragama

Sementara Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Wisnu Bawa Tenaya menekankan makna universal dari ajaran Shiva adalah yang menjadi dasar festival yang sejalan dengan semangat moderasi beragama.

“Nilai-nilai Shiva mengajarkan keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa. Festival ini merayakan kesadaran yang menyatukan manusia, alam, dan Tuhan dalam satu harmoni.”

“Ini bentuk nyata moderasi beragama yang menggabungkan nilai keagamaan, budaya, dan edukasi dalam satu ruang dialog yang damai dan berperan penting dalam membangun harmoni sosial,” jelas Wisnu Bawa Tenaya. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Guru Besar ITB Masuk Bursa Balon Rektor UPN Veteran Yogyakarta

UNIVERSITAS Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta mengumumkan lima nama yang masuk dalam daftar bakal calon rektor mereka untuk periode 2026–2030. Penetapan tersebut merupakan hasil dari tahap penjaringan bakal calon rektor, termasuk…

Korban Gempa Jepang Terus Bertambah

KORBAN jiwa dalam bencana gempa di Jepang terus bertambah. Hal itu karena belum semua gedung atau rumah-rumah yang roboh dibersihkan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Rabu, menyampaikan korban meninggal dunia…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Bekuk PSMS, Persebaya Rebut Tiket ke Semifinal

  • July 29, 2026
Bekuk PSMS, Persebaya Rebut Tiket ke Semifinal

Persija Bermain Imbang dengan Port FC, STY Puas

  • July 29, 2026
Persija Bermain Imbang dengan Port FC, STY Puas

Guru Besar ITB Masuk Bursa Balon Rektor UPN Veteran Yogyakarta

  • July 29, 2026
Guru Besar ITB Masuk Bursa Balon Rektor UPN Veteran Yogyakarta

Kontroversi Warnai Penunjukan Mancini Sebagai Pelatih Italia

  • July 29, 2026
Kontroversi Warnai Penunjukan Mancini Sebagai Pelatih Italia

Resmi Jadi Arsitek Prancis, Zidane Diharap Kembalikan Kejayaan Les Bleus

  • July 29, 2026
Resmi Jadi Arsitek Prancis, Zidane Diharap Kembalikan Kejayaan Les Bleus

OTT Bupati Pemalang Disebut Terkait Korupsi Proyek dan Jual Beli Jabatan

  • July 29, 2026
OTT Bupati Pemalang Disebut  Terkait Korupsi Proyek dan Jual Beli Jabatan