
PESANTREN tarekat Idrisiyyah Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya menggelar kick off transformasi pendidikan berbasis kurikulum mengusung ‘Bertasawuf, maju, unggul dan mendunia’. Mereka yakin transformasi menjadi tantangan dunia pendidikan era industri, digitalisasi serta masa depan.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman mengapresiasi transformasi pesantren Idrisiyyah yang diharapkan akanmenjadi model pesantren lebih maju dan menghasilkan calon pemimpin masa depan.
Selain itu juga diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi 13.000 pesantren lainnya di Jawa Barat. Dalam transpormasi tersebut ada tiga hal yang disampaikan yakni pendidikan pesantren dengan konvensional umum dan bukan ahlak mulia tapi anak-anak juga menguasai ilmu pengetahuan, teknologi.
Penguatan karakter

“Anak-anak harus bisa bersaing di rancah lokal, regional, nasional atau global, fokus tranpormasi untuk mendorong sekolah model dan sekolah terverisasi sejak SMP, MTs sesuai minat anak, kalau di sekolah konvensional umum spilisasinya di SMA, SMK. Pesantren didorong sejak MTs agar bagus anak bisa tumbuh kembang sesuai minat bakatnya,” katanya, di Ponpes Idrisyyah, Sabtu (17/1/2026).
Ia mengatakan, transpormasi pendidikan tentang penguatan karakter anak menjadi tantangan masa depan. Sebab selama ini anak-anak mereka selama ini ada di lingkungan pergaulan, bukan lokal tapi global. Karena, perkembangan media sosial, teknologi informasi, maka bekal anak-anak bisa berkompetisi di kancah nasional atau global.
“Anak-anak harus memiliki karakter yang kuat, karakter Islami, orang Islam nyunda, sunda yang Islami dan kaidahnya ada pada guru Syekh, jauh lebih faham dan kami menyarankan supaya ada intergrasi pola pendidikan pancawaluya. Mencetak agar anak menjadi cager, bager, bener, pinter tur singer dan di pesantren ini religius, peningkatan budaya keren banget,” ujarnya.
Aset dunia pendidikan

Sementara itu, Pimpinan Pesantren Idrisiyyah, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman mengatakan, santri adalah aset terbesar dunia pendidikan Islam. Dan upaya mereka ini sebagai kunci agar para santri akan memegang kendali dunia di masa depan.
Kebangkitan Islam harus dimulai dari Indonesia, dan pusat pergerakannya ada di Jawa Barat karena Islam yang diusungnya membawa rahmat, bukan ketakutan.
“Santri sebagai aset terbesar karena akan memegang dunia di akhir zaman dan kita menyiapkan diri sebaik mungkin. Karena, sekarang bukan saatnya lagi untuk berjalan bersaing tapi harus berkolaborasi lantaran Islam bukan menjadi teror, tetapi menjadi penyebar kasih sayang terutamanya bagi sesama manusia.”
“Mari kita bersama-sama menyambut masa keemasan Islam di Indonesia dengan menggelar pendidikan Islam berkualitas untuk dunia,” katanya.
Kebutuhan dunia kerja
Sementara itu, Mudir Pesantren Pria, Ponpes Tarekat Idrisiyyah, Ust Deden Hidayatullah mengatakan, transformasi pendidikan pesantren berbasis kurikulum minat dan kebutuhan jaman dirancang agar tidak hanya kuat dalam nilai keislaman, tapi relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi.
Pendidikan harus menyesuaikan zaman dan santri juga perlu difasilitasi sesuai minat agar mereka siap menghadapi masa depan.
“Pondok Pesantren Tarekat Idrisiyyah mengedepankan pendekatan modern yang mampu mencetak santri berakhlak kuat, berwawasan luas, siap bersaing di tingkat nasional maupun global.”
“Namun, bagi para santri apapun cita-citanya ke depan mau kuliah di dalam negeri maupun luar negeri akan didampingi, tapi fondasi keimanan harus kuat meski sistem pendidikan masih berjalan terpisah antara pengajian hingga pendidikan formal,” pungkasnya. (YY/N-01)









