
SEBAGAI pewaris utara emperium Uni Soviet, sejatinya Rusia adalah negara besar. Masalahnya adalah dalam perubahan tatanan dunia saat ini yang begitu cepat, Rusia membutuhkan validasi untuk tetap dianggap besar.
Untuk itu mereka membutuhkan banyak sekutu agar tetap dihormati di dunia, utamanya untuk meredam dominasi Amerika Serikat. Demikian diungkapkan Dosen Sastra Rusia Universitas Indonesia, Dr A. Fahrurodji.
Menurutnya, kendati Rusia bersahabat dengan China yang kini mulai menjadi salah satu kekuatan utama dunia dan menjadi sekutu dekatnya dalam melawan Barat, ‘Negeri beruang Merah’ tidak sudi berada di bawahnya.
Untuk itulah mereka membuat berbagai aliansi dengan negara-negara nentral atau negara yang tidak mau tunduk di bawah Barat. Salah satunya adalah dengan merangkul Indonesia.
Negara besar
“Sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia, jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, sejatinya posisi Indonesia sangat penting di mata dunia. Ditambah lagi dengan posisinya yang strategis,” kata Fahrurodji
“Itu sebabnya banyak kekuatan dunia yang mencoba mendekati Indonesia, termasuk Rusia,” lanjutnya.
Untungnya, kata dia, Indonesia bisa bebas memainkan berbagai kartunya berkat politik bebas aktifnya. “Tetapi ini tidak serta merta Indonesia bisa benar-benar bebas dari intervensi luar, karena berbagai faktor. Salah satunya karena keraguan atau ketakutan dari dalam negeri sendiri.”
Manfaatkan momentum
Menurut dia sebagai negara berdaulat dan besar, Indonesia sebenarnya bisa memainkan peranan lebih penting di dunia. Pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Kremlin untuk kedua kalinya pada Rabu (10/12) lalu setelah sebelumnya bertemu di St. Petersburg pada 18–20 Juni silam, menegaskan hubungan baik kedua negara.
“Ketika sebagian pemimpin dunia lainnya menjauhi atau takut bertemu Putin akibat perang di Ukraina, Prabowo bahkan tidak ragu untuk menemuinya. Ini bisa menjadi momentum. Indonesia misalnya bisa saja menjadi juru damai dalam konflik dengan Ukraina,” paparnya.
Selain itu, lanjut dia, sudah saatnya Indonesia meningkatkan kerja sama yang lebih luas dengan Rusia. Apalagi Presiden Putin juga menunjukan kesediaannya untuk membantu Indonesia. Salah satunya adalah menyatakan kesiapannya membantu Indonesia dalam mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan akan mengirimkan tenaga ahli Rusia.
“Indonesia harus bisa memanfaatkan momentum itu. Bagaimana pun Rusia punya banyak kelebihan, selain industri pertahanan. Demikian juga Indonesia. Kedua negara bisa saling belajar,” tegasnya.
Kerja sama strategis
Pada bagian lain, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kerja sama industri antara Indonesia dengan Rusia terus menunjukkan perkembangan pesat dan semakin strategis.
Hubungan kedua negara, kata dia juga bergerak ke arah yang lebih substantif dan komprehensif, khususnya setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Putin di Kremlin.
Agus mengungkapkan, selama ini perkembangan kerja sama ekonomi kedua negara sangat positif. Pada 2024, total perdagangan bilateral nonmigas mencapai US$ 3,9 miliar, dengan tren peningkatan sebesar 18,69% sejak 2020. Hingga Oktober 2025, nilai perdagangan kedua negara telah meningkat menjadi US$ 4,04 miliar.
Di sisi lain, investasi Rusia di Indonesia juga mencatat pergerakan yang konsisten. Pada 2024, total investasi mencapai US$262,7 juta, sementara hingga September 2025, investasi Rusia telah mencapai US$147,2 juta.
“Angka-angka tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari pelaku industri Rusia terhadap stabilitas ekonomi dan potensi pengembangan industri di Indonesia,” ujar Agus. (*/N-01)







