
KORBAN jiwa gempa Afghanistan bagian timur pada Minggu (31/8) malam waktu setempat terus bertambah. Bencana ini telah menewaskan lebih dari 800 orang dan melukai sedikitnya 2.800 orang.
Kerusakan parah dilaporkan terjadi di Provinsi Kunar dan Nangarhar, dengan lebih dari 600 korban jiwa. Sejumlah desa bahkan dilaporkan rata dengan tanah akibat guncangan tersebut.
Tim penyelamat menghadapi kesulitan menjangkau wilayah pegunungan terpencil untuk mencari para penyintas. “Jendela waktu untuk bertahan hidup semakin sempit, dan kami harus segera berada di sana,” kata Joy Singhal dari Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, dikutip Al Jazeera dari Kabul.
Pemerintahan Taliban mengimbau bantuan lebih banyak dari komunitas internasional untuk menangani bencana besar ini di tengah keterbatasan sumber daya dan pendanaan. “Dukungan dari komunitas internasional sangat penting,” ujar juru bicara Kementerian Ekonomi Afghanistan, Abdul Rahman Habib.
Korban jiwa gempa Afghanistan bertambah, PBB prihatin
Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, menyampaikan belasungkawa mendalam atas gempa dahsyat tersebut. “Saya menyampaikan simpati dan solidaritas kepada rakyat Afghanistan atas gempa bumi yang memperparah penderitaan negara ini,” tulisnya di platform X.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya menegaskan bahwa tim PBB di Afghanistan telah bergerak cepat dan “tidak akan menyisakan upaya untuk membantu mereka yang membutuhkan di daerah terdampak”.
PBB sendiri sudah hadir di Afghanistan sejak 1949 dengan dukungan sekitar 20 lembaga internasional, termasuk Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia. (*/S-01)









