Purbaya Mau Tarik Rp200 Triliun, Ekonom UGM Beri Peringatan

RENCANA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menarik dana Rp200 triliun dari Bank Indonesia (BI) untuk menjaga likuiditas dan menggerakkan sektor riil mendapat sorotan dari akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ekonom UGM, Denni Puspa Purbasari, Ph.D., menilai kebijakan tersebut lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja atau capaian keseimbangan internal. Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan likuiditas bisa berdampak pada aliran modal keluar.

“Ketika likuiditas naik dan suku bunga menurun, investor bisa memandang Indonesia kurang menarik. Dana berpotensi keluar, Rupiah melemah, dan berimbas pada stabilitas eksternal,” kata Denni, Kamis (11/9) di Kampus FEB UGM.

Menurutnya, kebijakan pemerintah seharusnya diarahkan untuk menjaga keseimbangan internal dan eksternal. Internal berarti stabilitas ekonomi domestik yang ditandai dengan inflasi terkendali dan kesempatan kerja penuh. Sementara eksternal adalah stabilitas neraca transaksi berjalan dan aliran modal internasional.

BACA JUGA  Uang Pecahan Rp10 Ribu Berlaku Sebagai Alat Pembayaran

“Sering kali kedua tujuan ini saling bertentangan. Kebijakan untuk mengejar stabilitas internal bisa melemahkan stabilitas eksternal, begitu pula sebaliknya,” jelasnya.

Denni menekankan, investor secara rasional akan selalu membandingkan keuntungan (returns) dengan tingkat risiko. Karena itu, menurutnya Menkeu perlu berhati-hati agar depresiasi Rupiah tidak terlalu dalam hingga defisit transaksi berjalan sulit ditutup.

Ia juga mengingatkan bahwa pengelolaan likuiditas merupakan ranah kebijakan moneter yang menjadi mandat Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas Rupiah.

Merujuk data Bank Indonesia, hingga semester I 2025 neraca transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit US$3,2 miliar, sementara neraca finansial juga minus US$5,6 miliar. Kondisi ini berbeda dengan 2024, ketika neraca finansial masih mencatat surplus tipis.

BACA JUGA  Gelar WJES, BI Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Defisit neraca finansial, ujar Denni, dipicu keluarnya investasi portofolio sebesar US$8 miliar, sementara masuknya foreign direct investment (FDI) hanya US$5 miliar. “Investasi portofolio sangat dipengaruhi oleh sentimen investor,” tegasnya.

Tercatat sepanjang 2025 Rupiah terdepresiasi 1,44% terhadap dolar AS. Namun pelemahan lebih besar terjadi terhadap mata uang lain, yakni 4,62% terhadap Yuan, 8,17% terhadap dolar Singapura, 8,68% terhadap dolar Australia, dan 14,42% terhadap Euro. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Bandara Juanda Sabet Penghargaan WISCA 2026

BANDARA Internasional Juanda di Kabupaten Sidoarjo mencatatkan prestasi perdana di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan meraih penghargaan World Safety Organization Indonesia Safety Culture (WISCA) 2026. Bandara di bawah…

Pemprov Jabar Komit Perkuat Pembangunan Ekonomi Berbasis Ekologi

GUBERNUR Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan pentingnya kolaborasi Pemprov dengan Bank Indonesia (BI) guna memperkuat pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Hal tersebut diungkapkan Dedi seusai menghadiri pengukuhan Kepala Perwakilan Bank…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Awal Gemilang Bhayangkara di AVC Men’s Volleyball Champions League

  • May 13, 2026
Awal Gemilang Bhayangkara di AVC Men’s Volleyball Champions League

Ibu dan Dua Anak Terkubur Longsor di Tanah Sepenggal, Seorang Meninggal

  • May 13, 2026
Ibu dan Dua Anak Terkubur Longsor di Tanah Sepenggal, Seorang Meninggal

Bandara Juanda Sabet Penghargaan WISCA 2026

  • May 13, 2026
Bandara Juanda Sabet Penghargaan WISCA 2026

Perkuat Identitas Budaya, PSNB Ajak Pemkab Sidoarjo Lestarikan Seni Nusantara

  • May 13, 2026
Perkuat Identitas Budaya, PSNB Ajak Pemkab Sidoarjo Lestarikan Seni Nusantara

Menjelajahi Bangkai Kapal Perang Dunia II di Perairan Tulamben Bali

  • May 13, 2026
Menjelajahi Bangkai Kapal Perang Dunia II di Perairan Tulamben Bali

Mengenali Apa Itu Hantavirus

  • May 13, 2026
Mengenali Apa Itu Hantavirus