Saatnya Indonesia Memproduksi Serum Antibisa Ular

INDONESIA Toxinology Society, melaporkan kasus gigitan ular masih menjadi masalah serius di Tanah Air. Pada 2024, terdapat 9.878 kasus gigitan ular dan 54 korban gigitan ular berbisa meninggal dunia.

Bahkan hingga Oktober tahun 2025 lalu, terdapat  8.721 kasus gigitan ular dengan sebanyak 25 orang yang meninggal.

Untuk mengobati korban gigitan ular masih terhambat keterbatasan stok antibisa bagi beragam jenis ular berbisa. Padahal sekitar 10 persen spesies ular berbisa di dunia berada Indonesia.

Sedangkan Indonesia  baru bisa menyediakan serum antibisa untuk tiga spesies ular, yaitu kobra jawa, ular tanah, dan welang. Serum antibisa ini masih bergantung secara penuh pada impor, dengan Australia sebagai pemasok utama.

Minim dukungan pemerintah

Dosen Biologi UGM sekaligus pemerhati satwa liar, Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc.,  mengakui Indonesia hingga saat ini Indonesia belum mengembangkan serum antibisa ular secara masif karena minimnya dukungan dari pemerintah, terutama kemenkes terkait pengembangan dan produksi serum antibisa tersebut.

“Jadi kenapa kita impor, karena kita tidak punya support atau dukungan dari negara untuk bisa membuat atau memproduksi sendiri,” jelasnya, Kamis (7/6).

BACA JUGA  Fakultas Farmasi UGM Terima Bantuan HPLC dari Nacalai Tesque Jepang

Donan menjelaskan bahwa sebenarnya serum antibisa bisa dibuat sendiri dengan bahan-bahan lokal. Akan tetapi beberapa permasalahan seperti soal ⁠finansial dan fasilitas penelitian dan pengembangan antibisa yang minim atau sulitnya lokasi guna mendapatkan sampel ular berbisa hidup untuk diambil venomnya.

“Kita punya kemampuannya, cuma masalahnya dari support dari pemerintah yang kira-kira belum ada. Terutama untuk anggaran Research and Development,” ungkapnya.

Biaya tinggi

Meski antibisa ular sebenarnya bisa dibuat agar bersifat universal, tetapi untuk di Indonesia hal tersebut belum dikembangkan dan diteliti lebih lanjut.

Biaya penelitian dan pengembangan antibisa ular konvensional saja masih belum disupport, ditambah penelitian dan pengembangan anti bisa ular “universal”.

Selain biaya tinggi untuk penelitian dan pengembangan, anti bisa ular konvensional baru mulai dikembangkan beberapa tahun ini di tingkat global.Ia menjelaskan, antibisa ular “universal” juga membutuhkan keilmuan serta ahli. Ditambah, belum banyak ahli snake-venom di Indonesia. ⁠

BACA JUGA  Peserta Asing Puji Hydroplus Indonesia Para Badminton di Solo

“Sebenarnya untuk tiga spesies ular berbeda itu menjadi satu antibisa yang sama,” ungkapnya.

Ular berbisa endemik

Selain masalah finansial, tantangan lain terkait produksi serum antibisa ular ini terletak pada jumlah ular berbisa endemik Indonesia yang cukup banyak dan tersebar di berbagai pulau seperti Nusa Tenggara Barat dan Timur, Maluku serta Papua.

Banyaknya pulau-pulau tersebut yang menyebabkan sulitnya mendapatkan sampel ular berbisa hidup dengan jumlah cukup untuk diambil venomnya, termasuk lokasi remote yang sulit dijangkau.

Di samping, spesifikasi venom yang berbeda antar spesies ular dan keterisolasian secara  geografis turut menjadi tantangan bagi [para peneliti.

Ditambah, fasilitas snakefarm yang belum terstandarisasi dengan baik dari segi pemeliharaan, animal welfare dan proses milking hingga penyimpanan.

“Harus ada standarisasi untuk pemeliharaan. Jadi, jangan hanya dipelihara aja, tapi ada animal welfare-nya,” paparnya.

Identifikasi jenis ular

Donan menyampaikan pendapat agar agar serum antibisa di Indonesia tidak hanya bergantung pada impor bisa dimulai dengan inventarisasi atau identifikasi jenis-jenis ular berbisa di Indonesia secara lengkap atau menyeluruh.

BACA JUGA  Indonesia Punya Rencana Pencegahan dan Pengendalian Kanker

Selain itu juga melakukan penelitian karakterisasi venom dari semua ular terutama jenis-jenis yang endemik.

Selanjutnya dukungan pemerintah melalui ⁠insentif riset bagi lembaga penelitian maupun pendidikan. Hal tersebut menyasar pada institusi yang telah mampu mengembangkan serum antibisa ular terutama jenis-jenis ular lokal dan endemik.

Tidak hanya cukup sampai di situ, ⁠koordinasi dan dukungan antar lembaga pemerintah seperti Kemenkes, BPOM, PT Bio Farma, BRIN dan Universitas dalam kolaborasi riset, produksi dan distribusi antibisa ular.

“Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan snake farm yang terstandarisasi di daerah-daerah terutama yang memiliki keanekaragaman ular berbisa tinggi,” pungkasnya. (AGT/M-01)

Related Posts

Hadiri Lentera 2026, Wali Kota Munjirin Ajak Pelajar Kembangkan Potensi Diri

WALI Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, menghadiri kegiatan Leadership Training For Future Generation (Lentera) 2026 yang digelar di Ballroom SMA Labschool Ciracas, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Kamis (7/5/2026). Kegiatan Lentera…

Ingatkan Ancaman Polio, FKKMK UGM Gelar Nobar Film ‘Langkah Akhir’ di Klaten

INDONESIA sejatinya pernah dinyatakan bebas polio pada 2014 silam. Namun pada 2023, kasus polio kembali muncul di sejumlah daerah, salah satunya di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Hal itu menjadi pengingat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Hadiri Lentera 2026, Wali Kota Munjirin Ajak Pelajar Kembangkan Potensi Diri

  • May 7, 2026
Hadiri Lentera 2026, Wali Kota Munjirin Ajak Pelajar Kembangkan Potensi Diri

Piala AFF U-19 2026, Indonesia Jumpa Vietnam. Ini Kata Coach Nova Arianto

  • May 7, 2026
Piala AFF U-19 2026, Indonesia Jumpa Vietnam. Ini Kata Coach Nova Arianto

Saatnya Indonesia Memproduksi Serum Antibisa Ular

  • May 7, 2026
Saatnya Indonesia Memproduksi Serum Antibisa Ular

Pelanggaran Helm Dominasi Tilang ETLE di Polresta Sidoarjo

  • May 7, 2026
Pelanggaran Helm Dominasi  Tilang ETLE di Polresta Sidoarjo

Singkirkan Muenchen, PSG Berpeluang Pertahankan Gelar Liga Champions

  • May 7, 2026
Singkirkan Muenchen, PSG Berpeluang Pertahankan Gelar Liga Champions

Pemerintah Siap Revitalisasi 71.744 Sekolah Tahun ini

  • May 6, 2026
Pemerintah Siap Revitalisasi 71.744 Sekolah Tahun ini