
DARI 30 kecamatan di Kota Bandung, Jawa Barat, Kecamatan Bojongloa Kaler, masuk 10 besar nasional sebagai wilayah dengan jumlah pelaku judi online (judol) terbanyak di Indonesia. Kondisi itu pun kini menjadi sorotan.
Berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), peringkat pertama yakni Kecamatan Cengkareng (Jakarta Barat) 21.497 pemain, Cakung (Jakarta Timur) 14.664, Tanjung Priok (Jakarta Utara) 13.769 dan Kebayoran Lama (Jakarta Selatan) 9.948 pemain.Kemudian Bekasi Utara (Kota Bekasi) 7.793, Cibinong (Bogor) 7.033, Pasar Kemis (Kabupaten Tangerang) 6.647, Cipondoh (Kota Tangerang) 6.463, Baleendah (Kabupaten Bandung) 5.910 dan Bojongloa Kaler (Kota Bandung) 5.090 pemain.
Saat menanggapi temuan mengejutkan dari PPATK tersebut, Wakil Wali Kota Bandung, Erwin mendesak agar para pecandu judol segera ditangani psikiater, layaknya korban penyalahgunaan narkoba.
“Makanya kalau perlu orang yang kena (main) judol ini ditangani psikiater karena mereka sudah menjadi kecanduan, sudah agak sulit (berhenti),” tegasnya Jumat (17/7).
Peran pemuka agama
Menurut Erwin pemain judol sama dengan pecandu narkoba yang perlu direhabilitasi. Tetapi yang paling penting dalam mencegah judi tersebut tentu mereka harus memiliki pondasi agama.
“Jadi perlu program-program yang ditekankan kembali, seperti pelatihan Dai di tiap kelurahan karena efek dari judi ini, selain uangnya haram, tidak ada manfaatnya, juga efeknya rumah tangga bisa bubar, bisa hancur dengan judi ini,” terangnya.
Atas hal tersebut, Erwin berharap pendidikan agama di Kota Bandung harus tambah diperkuat karena efek dari judi ini bisa berdampak buruk bagi masyarakat atau para pemain terutama bagi perekonomian. “Bahwa efek dari judi ini, mau judol atau apa pun. Orang kalau sudah main judi itu bisa habis semuanya, apa pun bisa dia jual,” tandasnya.
Bisa mengarah ke kriminalitas
Saat disinggung terkait tindakan bagi Kecamatan Bojongloa Kaler, Erwin menyebut, tentunya perlu dibahas dengan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. “Nanti coba dibicarakan, kalau memang Pak Wali bisa memberikan kebijakan, ya bagus. Penekanannya ke akhlakul karimah. Bagaimana sih efek judi ini, kalau memang datanya ada kita undang semua,” ucapnya.
Erwin menambahkan, langkah tersebut perlu dilakukan karena selain berdampak buruk bagi keluarga dan perekonomian, judi ini bisa menimbulkan aksi kriminalitas. Ini dampaknya lebih dahsyat daripada narkoba, kalau sudah judi ini, apa pun dia bisa halalkan, bisa jahat juga ujungnya nanti.
“Kan ada juga kejadian orang judi menjual istrinya, itu kan efeknya besar, yang paling penting dilakukan di wilayah Kecamatan Bojongloa Kaler yakni dengan memperkuat akhlakul karimah melalui pendidikan agama,” sambungnya. (zahra/M-01)







