Masih Bergantung pada Daerah Pemasok, Pemkot Bandung Cari Alternatif

PEMERINTAH Kota Bandung terus berupaya memperkuat ketahanan pangan, di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat dan pertumbuhan sektor pariwisata, meski hingga saat ini belum memiliki lumbung pangan sendiri.

Namun Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, memastikan pasokan kebutuhan pokok masyarakat masih dalam kondisi aman berkat dukungan sistem distribusi yang telah berjalan.

Kota Bandung merupakan daerah yang tidak memiliki kawasan pertanian luas sehingga hampir seluruh kebutuhan pangan dipasok dari berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, keberadaan jaringan distribusi menjadi faktor paling penting dalam menjaga stabilitas pasokan maupun harga bahan pokok.

“Kita memang belum punya lumbung pangan. Kita sangat mengandalkan dua pasar induk, yaitu Gedebage dan Caringin, ditambah Bulog serta pasar-pasar besar lainnya,” ungkapnya.

Pintu masuk komoditas pangan

Menurut Farhan, dua pasar induk tersebut menjadi pintu utama masuknya komoditas pangan dari sedikitnya 16 provinsi di Indonesia.

Berbagai kebutuhan pokok mulai dari beras, sayuran, buah-buahan, daging hingga bahan pangan lainnya didistribusikan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 2,5 juta penduduk Kota Bandung, ditambah jutaan wisatawan yang datang setiap tahunnya.

Spesialisasi komoditas

Selain dua pasar induk tersebut, distribusi pangan juga diperkuat oleh sejumlah pasar besar yang memiliki spesialisasi komoditas.

“Pasar Ciroyom, menjadi pusat distribusi daging segar dan ikan, sedangkan Pasar Andir, Kosambi, Sederhana hingga Pasar Baru, berfungsi sebagai pasar sekunder yang memasok kebutuhan sayuran dan komoditas lainnya,” paparnya.

BACA JUGA  Belum Ditemukan Kasus Cacar Monyet di Kota Bandung

Farhan menambahkan, Bulog memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas pangan Kota Bandung. Sekitar 30 persen kebutuhan beras, minyak goreng, gula pasir, dan terigu dipenuhi melalui distribusi Bulog. Sisanya dipenuhi melalui mekanisme pasar.

“Meski demikian pemerintah, mulai memikirkan langkah jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan daerah. Salah satu opsi yang sedang dikaji ialah membangun skema kerja sama dengan daerah penghasil pangan melalui penyewaan lahan produksi, sebagaimana telah diterapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” terangnya.

Belum bisa diterapkan

Farhan menyebut, Jakarta memiliki kontrak jangka panjang dengan sejumlah daerah penghasil komoditas tertentu. Beras dipasok dari Kabupaten Subang, sedangkan kebutuhan daging sapi dipenuhi melalui kerja sama dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTB).

Namun, konsep tersebut belum tentu dapat langsung diterapkan di Kota Bandung tanpa kajian yang matang.

“Pertanyaannya sekarang, Bandung membutuhkan komoditas apa yang benar-benar harus diamankan? Jangan sampai kita sudah mengontrak lahan dengan biaya besar, ternyata kebutuhan itu masih bisa dipenuhi oleh mekanisme pasar,” tandasnya.

Karena itu lanjut Farhan, Pemkot Bandung memilih melakukan kajian komprehensif sebelum mengambil keputusan. Analisis dilakukan terhadap jenis komoditas, volume kebutuhan masyarakat, efektivitas distribusi, hingga efisiensi anggaran apabila kerja sama tersebut benar-benar direalisasikan.

Kendalikan inflasi

Selain memperkuat pasokan, pemerintah juga terus melakukan pengendalian inflasi melalui koordinasi dengan pemerintah pusat, Bank Indonesia serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian.

BACA JUGA  Bandung Usulkan 500 Peserta Sekolah Rakyat, Lahan Terkendala

“Pengendalian inflasi di Kota Bandung pada dasarnya bukan hanya berkaitan dengan harga barang, tetapi lebih kepada memastikan distribusi pangan tetap berjalan lancar. Kalau Bandung, kuncinya itu suplai dan distribusi. Selama distribusi lancar, kebutuhan masyarakat tetap bisa dipenuhi,” ucapnya.

Pengaruh pariwisata

Farhan mengakui laju inflasi Kota Bandung sempat menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Barat (Jabar). Namun kondisi tersebut bukan disebabkan menurunnya produksi pangan, melainkan meningkatnya permintaan secara signifikan.

Sejak akhir 2025 hingga pertengahan 2026, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Bandung meningkat tajam. Kondisi itu tentu berdampak langsung terhadap kebutuhan pangan, terutama untuk memenuhi permintaan sektor kuliner, hotel, restoran, dan industri pariwisata.

“Ketika wisatawan meningkat, otomatis kebutuhan bahan pangan juga meningkat. Harga di pasar tidak bisa dibedakan antara yang dibeli masyarakat dengan yang dibeli restoran. Akibatnya harga ikut naik,” jelasnya.

Ia menilai tantangan terbesar Kota Bandung ke depan bukan lagi sekadar menjaga stok pangan, tetapi meningkatkan suplai agar mampu mengimbangi pertumbuhan sektor pariwisata yang terus berkembang.

Perubahan iklim

Selain faktor permintaan, Farhan juga menyoroti ancaman perubahan iklim yang mulai dirasakan terhadap pasokan sejumlah komoditas, terutama sayuran.

Musim kemarau berkepanjangan dapat mengurangi produksi sayuran dari daerah pemasok sehingga berpotensi memengaruhi harga di pasar.

“Berbeda dengan sayuran, yang memastikan stok beras relatif aman karena Bulog memiliki cadangan yang cukup melalui program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Kini terdapat tiga kategori beras yang beredar di pasaran, yakni beras SPHP, beras premium dan beras khusus,” ujarnya.

BACA JUGA  Pemkot Pastikan Beras Oplosan belum Ada  di Kota Bandung

Beras premium

Namun kata Farhan, permasalahan selama ini lebih banyak terjadi pada beras premium karena permintaannya paling tinggi. Ketersediaan beras sebenarnya ada, yang sering menjadi masalah adalah beras premium karena permintaannya tinggi. Ini yang kadang dimanfaatkan spekulan dengan cara menimbun barang untuk dijual kembali saat harga naik.

Karena itu, pengawasan terhadap praktik penimbunan menjadi salah satu fokus pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan.

Farhan berharap sinergi antara pemerintah, Bulog, pelaku usaha, distributor, dan masyarakat dapat terus diperkuat sehingga ketahanan pangan Kota Bandung tetap terjaga meski menghadapi tantangan perubahan iklim, pertumbuhan jumlah penduduk, serta meningkatnya aktivitas pariwisata.

Keberhasilan menjaga ketahanan pangan tidak hanya diukur dari tersedianya stok kebutuhan pokok, tetapi juga dari kemampuan pemerintah memastikan seluruh masyarakat dapat memperoleh bahan pangan dengan harga yang terjangkau.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal ada atau tidaknya barang, tetapi bagaimana distribusi berjalan baik sehingga masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang wajar,” sambungnya. (zahra/M-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Tunggu Izin TVRI dan RRI, Pemkot Bandung Siap Gelar Nobar Piala Dunia

PEMERINTAH Kota Bandung siap mendukung penyelenggaraan nonton bareng pertandingan Piala Dunia, sebagai bentuk hiburan sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat. Untuk pelaksanaannya masih berkoordinasi dengan TVRI dan RRI sebagai pemegang hak siar…

Paku Alam X Minta Masyarakat Berikan Informasi Lengkap saat Disensus

SENSUS Ekonomi 2026 merupakan pendataan menyeluruh terhadap seluruh kegiatan ekonomi di luar sektor pertanian. Bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, hasil sensus yang diselenggarakan setiap 10 tahun sekali itu memiliki nilai yang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Masih Bergantung pada Daerah Pemasok, Pemkot Bandung Cari Alternatif

  • June 19, 2026
Masih Bergantung pada Daerah Pemasok, Pemkot Bandung Cari Alternatif

Revisi UU P2SK Bisa Perkuat Ekosistem Keuangan Nasional

  • June 19, 2026
Revisi UU P2SK Bisa Perkuat Ekosistem Keuangan Nasional

Tunggu Izin TVRI dan RRI, Pemkot Bandung Siap Gelar Nobar Piala Dunia

  • June 19, 2026
Tunggu Izin TVRI dan RRI, Pemkot Bandung Siap Gelar Nobar Piala Dunia

Polda Metro Jaya Sebut Penangkapan Roy dan Tifa Murni Proses Hukum

  • June 19, 2026
Polda Metro Jaya Sebut Penangkapan Roy dan Tifa  Murni Proses Hukum

Bekuk Korsel, Meksiko Segel Tiket ke Babak 32 Besar

  • June 19, 2026
Bekuk Korsel, Meksiko Segel Tiket  ke  Babak 32 Besar

Paku Alam X Minta Masyarakat Berikan Informasi Lengkap saat Disensus

  • June 19, 2026
Paku Alam X Minta Masyarakat Berikan Informasi Lengkap saat Disensus