Mafindo Minta Masyarakat tidak Mudah Termakan Hoaks

GELOMBANG disinformasi yang menyasar Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menjadi perhatian publik. Konten tersebut memuat berbagai tudingan, mulai dari klaim bahwa gubernur ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga narasi yang menyebut pemerintah akan menagih paksa pajak kendaraan langsung ke rumah warga.

Video yang beredar di sejumlah akun media sosial diketahui berasal dari potongan video yang dipelintir dari konteks aslinya sehingga membentuk persepsi negatif di masyarakat.

Hal itu menimbulkan disinformasi di masyarakat. Bahkan, terdapat pula gambar dengan desain yang sepenuhnya tidak sesuai dengan fakta.

Fenomena tersebut dinilai memprihatinkan karena sebagian warganet menerima informasi tersebut tanpa proses verifikasi. Konten yang belum jelas kebenarannya bahkan telah ditonton ribuan pengguna media sosial dan dianggap sebagai fakta.

Isu Hoaks Paling Sering Muncul

Berdasarkan penelusuran fakta di lapangan, terdapat dua isu utama yang paling sering digunakan untuk menyerang gubernur. Isu pertama adalah hoaks yang menyebut Ahmad Luthfi ditangkap bersama Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, dalam operasi tangkap tangan oleh KPK.

BACA JUGA  Gubernur Jateng Berangkatkan 14 Ribu Orang Mudik Gratis

Faktanya, penangkapan Fadia tidak berkaitan dengan gubernur. KPK secara resmi telah menyampaikan bahwa saat operasi tangkap tangan dilakukan, Fadia tidak sedang bersama Ahmad Luthfi. Gubernur Jawa Tengah tersebut juga telah membantah tudingan yang menyebut dirinya terlibat dalam kasus tersebut.

Isu kedua berkaitan dengan narasi yang menyebut penunggak pajak kendaraan akan didatangi dan ditagih secara paksa ke rumah oleh pemerintah.

Kegiatan sosialisasi

Informasi tersebut dipastikan tidak benar. Program yang dimaksud sebenarnya merupakan kegiatan sosialisasi dan edukasi untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak kendaraan bermotor.

Narasi yang beredar di media sosial merupakan potongan pernyataan yang keluar dari konteks aslinya sehingga menimbulkan kesan seolah pemerintah akan melakukan penagihan paksa kepada masyarakat.
Meski berbagai klarifikasi telah disampaikan, sejumlah konten serupa masih terus bermunculan di media sosial.

“Padahal narasi-narasi hoaks itu sudah ada klarifikasinya. Namun masih ada saja yang mengabaikan klarifikasi dan tetap memproduksi serta menyebarkan hoaks,” demikian narasi dalam video klarifikasi yang beredar.

BACA JUGA  Bandara Ahmad Yani Buka Penerbangan Perintis ke Karimunjawa dan Blora

Publik Diminta Lebih Kritis

Masifnya penyebaran hoaks ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya motif tertentu di balik serangan disinformasi yang berulang. Sebagian kalangan menilai pola penyebaran yang sistematis patut dicermati secara kritis.

Publik diimbau untuk tidak mudah mempercayai informasi di media sosial tanpa melakukan verifikasi dari sumber resmi.

Kepala Kantor Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Farid Zamroni M, mengatakan masyarakat Indonesia sebenarnya mulai semakin peduli terhadap isu hoaks dan disinformasi di ruang digital.

“Sudah banyak yang mulai sadar pentingnya verifikasi informasi sebelum membagikan atau mempercayai konten online. Tapi masih banyak juga yang terjebak hoaks karena kurangnya literasi digital atau sengaja menyebarkan informasi palsu,” ujarnya.

Langkah bijak hadapi hoaks

Farid menyarankan beberapa langkah bijak untuk menyikapi hoaks di media sosial. Pertama, melakukan verifikasi sumber informasi dengan mengecek kredibilitas situs atau akun yang menyebarkan berita.

Kedua, tidak terburu-buru membentuk opini sebelum membaca berbagai sumber. Ketiga, memanfaatkan situs pengecekan fakta seperti TurnBackHoax dan CekFakta.

BACA JUGA  Gubernur Jateng Berharap Bisa Terus Bersinergi dengan DPRD

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung menyebarkan informasi yang belum terverifikasi serta melaporkan konten hoaks kepada platform media sosial atau pihak berwenang.

“Masyarakat juga perlu meningkatkan literasi digital dan kritis dalam menyikapi hoaks berbasis AI, karena bagi masyarakat awam semakin sulit membedakan mana fakta dan mana manipulasi,” kata Farid.

Sumber tidak jelas

Menurutnya, pengguna media sosial dapat mulai dengan mengenali tanda-tanda hoaks, seperti kualitas gambar atau video yang mencurigakan, sumber yang tidak jelas, serta tidak adanya konfirmasi dari media kredibel.

“Jangan terburu-buru percaya. Luangkan waktu untuk memverifikasi informasi sebelum membagikannya. Bahkan bisa memanfaatkan teknologi atau alat deteksi konten berbasis AI yang kini mulai tersedia,” ujarnya. (Htm/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Jateng Dikepung 162 Bencana Sepanjang 2026, Inilah Upaya Pemprov

PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah mencatat sebanyak 162 kejadian bencana terjadi sejak 1 Januari hingga 12 April 2026. Dari jumlah tersebut, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan cuaca ekstrem masih mendominasi wilayah…

Wabup Sidoarjo Instruksikan Renovasi Total SDN Putat dengan Dana Banpres

WAKIL Bupati Sidoarjo Mimik Idayana menginstruksikan renovasi total terhadap bangunan SDN Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, lantaran kondisi fisik sekolah yang dinilai membahayakan nyawa siswa. Instruksi itu dikeluarkan saat Mimik meninjau langsung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Proyek Tanggul Laut Pantura Berpotensi Rusak Mangrove, Lamun dan Terumbu Karang

  • April 23, 2026

Prof. Armaidy: Indonesia Sebaiknya Tutup Ruang Udara untuk Militer AS

  • April 23, 2026
Prof. Armaidy: Indonesia Sebaiknya Tutup Ruang Udara untuk Militer AS

Tekuk Elctric PLN, Popsivo Segel Podium 3 Proliga

  • April 23, 2026
Tekuk Elctric PLN, Popsivo Segel Podium 3 Proliga

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan 4,9-5,7 Persen

  • April 22, 2026
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan 4,9-5,7 Persen

Iran Skeptis dengan Perpanjangan Gencatan Senjata Trump

  • April 22, 2026
Iran Skeptis dengan Perpanjangan Gencatan Senjata Trump

Pengelolaan Barang KAI Logistik Naik 24 Persen di Triwulan 1

  • April 22, 2026
Pengelolaan Barang KAI Logistik Naik 24 Persen di Triwulan 1