
AWAN panas guguran kembali terjadi di Gunung Merapi (2.968 mdpl) pada Senin pukul 04.40 WIB. Material vulkanik meluncur ke arah barat daya dengan jarak luncur sekitar 1.500 meter ke hulu Sungai Boyong.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyebutkan peristiwa tersebut terekam melalui peralatan pemantauan. Awan panas guguran tercatat berdurasi 133 detik dengan amplitudo 22 milimeter.
Selama periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, tercatat 25 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–29 milimeter. Durasi gempa berkisar antara 74,53 detik hingga 201,42 detik. Selain itu, terjadi 18 kali gempa hybrid dengan amplitudo maksimum 43 milimeter dan durasi 14,57–55,84 detik.
“Teramati lima kali guguran lava ke arah barat daya, yakni ke Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter,” kata Kepala BPPTKG Yogyakarta Agus Budi Santosa, Senin (2/1).
Kondisi cuaca di kawasan puncak terpantau berawan dan hujan, dengan angin bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara tercatat 19,6 derajat Celsius, kelembapan 97,5 persen, tekanan udara 917,2 mmHg, serta curah hujan 8 mm per hari.
BPPTKG menjelaskan, potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya yang meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Adapun lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas di wilayah potensi bahaya serta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi. (AGT/S-01)







