Memaknai Bencana di Tengah Derasnya Arus Informasi

Akhir-akhir ini, berita seputar banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra, wara-wiri di beranda media sosial kita. Beragam opini pun mengalir seiring derasnya laju air yang membawa lumpur pekat dan ratusan kubik kayu gelondongan.

Sebagian menyebut faktor cuaca ekstrem sebagai penyebab, sebagian lagi menuding masifnya praktik penambangan dan illegal logging di hulu perbukitan. Ragam opini ini  menghiasi ruang publik, dari obrolan di warung kopi, kolom komentar di media sosial, hingga perbincangan di ruang siniar dan webinar.

Di era melimpahnya informasi, di mana kediktatoran publik menjadi panglima, kita (selaku pemirsa) seolah ‘dipaksa’ mengonsumsi tanpa henti opini satu ke opini lainnya, tanpa ada jeda untuk betul-betul merenungi sendiri apa makna sesungguhnya dari suatu peristiwa.

BACA JUGA  BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca 24 Jam di Sumatra

Akibatnya, derasnya arus informasi sekadar melewati indera penglihatan, tanpa pernah menyentuh, apalagi mengendap dalam kesadaran. Sama seperti halnya berita-berita penangkapan para koruptor, sebatas diungkap dan dinikmati. Ia sekadar tontonan, belum menjadi tuntunan untuk menata agar negeri ini maupun pribadi, menjadi lebih baik ke depannya.

Begitu pula percakapan dan unggahan tentang banjir bandang yang tiba-tiba memenuhi media sosial, saya khawatir  sepertinya bakal reda dan menghilang dengan sendirinya seiring surutnya debit air.  Lalu kita kembali pada pola kebiasaan lama; membabat hutan secara ugal-ugalan, membuka lahan serampangan, serta membuang sampah dan limbah sembarangan.

Di tengah kebisingan informasi dan kehidupan yang serbapragmatis, keseharian yang banal kini memang telah menjadi kelaziman. Manusia seolah dipaksa berpacu, berkejaran entah dengan siapa dan untuk apa. Ragam informasi diproduksi dan dikonsumsi sekadar supaya tidak ketinggalan tren, bukan untuk sarana edukasi.

BACA JUGA  Pascabencana Banjir, Kasus ISPA Melonjak

Puluhan tahun lalu, di pedalaman Schwarzwald, sebuah desa kecil di Jerman, mendiang Heidegger (lengkapnya Martin Heidegger), filsuf fenomenologi yang juga pengagum kapten tim Panzer, Franz Beckenbauer, telah mengingatkan pentingnya mengambil jeda sejenak untuk merenungi dan memaknai keseharian, termasuk hubungan kita (manusia) dengan alam.

Melalui bukunya Sein und Zeit (Ada dan Waktu), sang murid Edmund Husserl ini mengajarkan kita dalam melihat suatu fenomena secara kontemplatif. Jangan cuma sibuk menyalahkan kondisi alam yang menyebabkan bencana, tetapi lupa pada perilaku kita sendiri yang telah mengeksploitasi mereka. Jangan cuma grasa-grusu berteriak lantang banjir di Sumatra, tapi lupa menengok dan membersihkan selokan/comberan yang tersumbat di depan mata.(Adiyanto/N-1)

BACA JUGA  Basarnas Akhirnya Temukan Korban Terakhir Banjir Bandang

Adiyanto

Wartawan Mimbar Nusantara

Related Posts

260 Warga Kabupaten Bandung Terima Bantuan Becak Listrik dari Presiden 

SEBANYAK 260 warga Kabupaten Bandung Jawa Barat menerima bantuan becak listrik dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Bantuan tersebut diserahkan Bupati Bandung, Dadang Supriatna di Gedung Moh. Toha, Kompleks Pemerintah…

Pemprov Jabar Beri Diskon atas BBN-KB dan Pajak Kendaraan 1 Tahunan

PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat mengapresiasi hadirnya GIIAS Bandung 2026. Menurut Asisten Perekonomian dan Pembangunan Jabar, Sumasna, ajang itu bisa mendorong pertumbuhan otomotif Jabar yang mencatat pertumbuhan ekonomi 5,73 persen pada…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polisi Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

  • September 12, 2026
Polisi  Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

Timnas Indonesia bakal Bertandang ke Yordania dalam Laga Uji Coba

  • September 12, 2026
Timnas Indonesia bakal Bertandang ke Yordania dalam Laga Uji Coba

Bali United Puncaki Klasemen, Borneo Curi Tiga Angka di Jepara

  • September 12, 2026
Bali United Puncaki Klasemen, Borneo Curi Tiga Angka di Jepara

Suhartoyo: Putusan MK Bersifat Final dan Self Excuting

  • September 12, 2026
Suhartoyo: Putusan MK Bersifat Final dan Self Excuting

Permak PSS Sleman, Madura United Masih di Tiga Besar Klasemen

  • September 12, 2026
Permak PSS Sleman, Madura United Masih di Tiga Besar Klasemen

Persija Akhirnya Sukses Bungkam Persib di SUGBK

  • September 12, 2026
Persija Akhirnya Sukses Bungkam Persib di SUGBK