Walhi: Jabar Berisiko Alami Bencana Lebih Parah dari Sumatra

BENCANA banjir bandang, longsor, dan tanah ambles yang melanda Aceh, Sumatra Utara, serta Sumatra Barat dinilai sangat mungkin terjadi di Jawa Barat, bahkan dengan dampak lebih besar. Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Wahyudin Iwang, Selasa (2/12).

Menurutnya, intensitas hujan tinggi bukan satu-satunya pemicu bencana ekologis. Kerusakan lingkungan akibat deforestasi, pembukaan lahan tambang, pembabatan hutan untuk kepentingan tertentu, hingga ekspansi properti dan pariwisata menjadi faktor dominan yang memperparah kerentanan.

“Deforestasi terjadi di banyak titik. Aktivitas tambang, proyek tidak tepat sasaran, hingga pengembangan wisata menjadi pemicu kuat terjadinya bencana,” ujarnya.

Wahyudin menegaskan, Jawa Barat merupakan provinsi dengan ragam ancaman bencana tinggi—mulai dari tsunami, letusan gunung berapi, banjir bandang, longsor, hingga puting beliung. Di sisi lain, kerusakan lingkungan terus meningkat sementara upaya pemulihan dinilai minim.

BACA JUGA  BNPB: 17 Orang Tewas Longsor Pasirlangu, 11 Teridentifikasi

“Pemerintah nyaris tidak melakukan pencegahan dan pemulihan lingkungan. Bahkan dalam banyak kasus, justru terkesan melegitimasi kerusakan,” katanya.

Bencana lebih parah karena penyusutan hutan meningkat

Walhi mencatat 54 izin tambang yang habis masa berlakunya sejak 2023 tidak ditertibkan dan banyak yang tetap beroperasi. Selain itu, pada 2024 ditemukan 176 titik tambang ilegal. Sumedang dan Tasikmalaya tercatat sebagai wilayah terbanyak, masing-masing 48 titik.

Penyusutan tutupan hutan di Jawa Barat juga disebut mengkhawatirkan. Dalam periode 2023–2025, setidaknya 43 persen kawasan hutan mengalami degradasi, baik hutan lindung maupun hutan produksi. Banyak area berubah fungsi menjadi tambang, wisata, properti, hingga lokasi ekspansi geothermal.

Wahyudin juga menyoroti pengelolaan kawasan oleh BBKSDA dan PTPN Regional II yang dinilai turut berperan dalam degradasi lingkungan. Penurunan status kawasan konservasi untuk proyek strategis nasional, pembangunan fasilitas wisata di area konservasi, hingga perjanjian kerja sama lahan yang berujung alih fungsi disebut sebagai penyebab utama.

BACA JUGA  Banjir Tapanuli: 8 Warga Tewas, 2.800 Mengungsi

“Banyak HGU PTPN yang habis dan kemudian berubah menjadi area kondominium atau wisata berkedok ramah lingkungan. Ini bentuk ketidakmampuan dalam mengelola lahan,” tegasnya. (Rava/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Polisi Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

POLDA Metro Jaya masih terus mengusut aktor utama ataupun dalang di balik aksi demo yang berujung ricuh pada 27 Agustus lalu. Diungkapkan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes…

Persija Akhirnya Sukses Bungkam Persib di SUGBK

PERSIJA Jakarta kembali memetik kemenangan  pada laga keduanya dalam lanjutan Super League. Kali ini tim Macan Kemayoran berhasil menaklukan musuh bebuyutannya Persib Bandung  2-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polisi Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

  • September 12, 2026
Polisi  Terus Usut Dalang Aksi Demo Rusuh 27 Agustus

Timnas Indonesia bakal Bertandang ke Yordania dalam Laga Uji Coba

  • September 12, 2026
Timnas Indonesia bakal Bertandang ke Yordania dalam Laga Uji Coba

Bali United Puncaki Klasemen, Borneo Curi Tiga Angka di Jepara

  • September 12, 2026
Bali United Puncaki Klasemen, Borneo Curi Tiga Angka di Jepara

Suhartoyo: Putusan MK Bersifat Final dan Self Excuting

  • September 12, 2026
Suhartoyo: Putusan MK Bersifat Final dan Self Excuting

Permak PSS Sleman, Madura United Masih di Tiga Besar Klasemen

  • September 12, 2026
Permak PSS Sleman, Madura United Masih di Tiga Besar Klasemen

Persija Akhirnya Sukses Bungkam Persib di SUGBK

  • September 12, 2026
Persija Akhirnya Sukses Bungkam Persib di SUGBK