Ritual Labuhan Merapi Berperan Jaga Kelestarian Hutan

MAHASISWA Universitas Gadjah Mada yang masuk dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) melakukan penelitian  bertajuk ‘Labuhan Merapi: Analisis Aspek Ekologi Ritual dalam Upaya Konservasi Hutan dan Relevansinya dalam Perspektif Sains Modern.’

Tim menyoroti ritual Labuhan Merapi. Salah satu tradisi Keraton Yogyakarta yang diadakan di lereng Gunung Merapi yang digelar pada tanggal tertentu menurut Kalender Jawa Sultanagungan.

Labuhan Merapi ini tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga merefleksikan kearifan lokal masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan di sekitar Gunung Merapi.

Nilai-nilai ekologis

Di balik prosesi ritual itu tersimpan nilai-nilai ekologis yang berkontribusi pada konservasi vegetasi di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

Tim PKM yang diketuai Bhara Dewaji (Kehutanan 2023) dengan anggota Vina Indrawati (Kehutanan 2024), Yassa Allaya Annas (Kehutanan 2024), Reina Arkhadia Eka Putri (Vokasi 2024) dan Inoora Putri Haliza (Ilmu Budaya 2024) ini mengkaji keterkaitan ritual dengan konservasi.

BACA JUGA  Ribuan Warga Semarang Ramaikan Dugderan

Penelitian ini menggunakan pendekatan etnoekologi, observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, serta analisis vegetasi untuk mengungkap bagaimana kearifan lokal berperan dalam konservasi hutan.

“Labuhan Merapi bukan sekadar tradisi tetapi memiliki makna dan pesan konservasi. Ada aturan, pantangan, mitos dan folklor mengenai Eyang Sapu Jagad yang membentuk cara masyarakat dalam menghormati alam khususnya alam Merapi. Inilah yang menarik bagi kami untuk dikaji,” tutur Bhara Dewaji selaku ketua tim.

Bukan sekadar ritual

Ia menjelaskan tradisi Labuhan Merapi dilaksanakan di zona adat kawasan TNGM, mulai dari Pos 1 Bedengan hingga Pos 2 Srimanganti. Tradisi ini bukan sekadar ritual spiritual, melainkan juga upaya pelestarian hutan yang secara turun-temurun dan menjaga keterhubungan masyarakat dengan alam.

BACA JUGA  Gowok: Kamasutra Jawa; Film Berbalut Tradisi Budaya dan Sejarah

Melalui prosesi pelarungan sesaji, kirab gunungan, hingga upaya penanaman spesies tesek, menandakan wujud rasa syukur sekaligus komitmen masyarakat dalam menjaga ekosistem Gunung Merapi.

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa Ritual Labuhan Merapi terbukti berperan dalam menjaga kelestarian hutan melalui aturan seperti larangan menebang pohon, membawa pulang tanaman yang ada di lokasi ritual, dan kewajiban menjaga keberadaan vegetasi yang ada.

Cegah erosi

Analisis vegetasi juga menunjukkan adanya tanaman yang berfungsi ganda, selain dipakai dalam ritual juga mencegah erosi dan menjaga ekosistem.

“Penelitian ini menjadi jembatan antara kearifan lokal dan ilmu pengetahuan modern, sehingga Labuhan Merapi tetap relevan sebagai tradisi budaya sekaligus contoh nyata praktik konservasi hutan Merapi,” ungkap Bhara.

BACA JUGA  Kubah Lava Merapi Bertumbuh

Sebagai langkah awal untuk untuk mengintegrasikan nilai budaya ke dalam strategi pengelolaan kawasan konservasi, dilakukan kegiatan pemaparan rencana penelitian oleh tim ke para pihak terkait.

Kegiatan berhasil diselenggarakan di Balai TNGM, yang secara langsung dihadiri Kepala Balai TNGM, Kepala SPTN Wilayah I dan II, Koordinator RPTN Wilayah Lingkup TNGM, Koordinator Urusan Program Data Informasi, Kehumasan, dan Kerjasama, Koordinator PEH, Koordinator Penyuluh, perwakilan Polisi Hutan, serta Tim PKM-RSH UGM Labuhan Merapi. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Lomba Futsal Pakai Sarung Ramaikan Perayaan HUT ke-81 RI

DALAM rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, warga Perumahan Surya Regency Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, menggelar turnamen futsal unik antar-RT dengan mewajibkan para pemain bapak-bapak mengenakan kain sarung…

Gunung Merapi Alami 117 Kali Guguran Lava dan 1.416 Gempa dalam Sepekan

DALAM waktu sepekan dari Jumat (31/7) hingga Kamis (6/8), Gunung  terjadi sekali awan panas guguran dengan jarak luncur yang tidak teramati. Pada periode yang sama, teramati terjadinya guguran lava sebanyak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

  • August 11, 2026
111 Orang Dilaporkan Tewas dalam Gempa di Kolombia

Persib Pinjamkan Al Hamra Hehanussa ke Garudayaksa

  • August 11, 2026
Persib Pinjamkan Al Hamra Hehanussa ke Garudayaksa

Dompet Dhuafa Bantu Renovasi 4 Sarana Sanitasi di RTQ Ali Imron Bogor

  • August 11, 2026
Dompet Dhuafa Bantu Renovasi 4 Sarana Sanitasi di RTQ Ali Imron Bogor

Tim KKN UGM Bersama Masyarakat Inisasi Filter Atasi Krisis Air Musim Kemarau

  • August 11, 2026
Tim KKN UGM Bersama Masyarakat  Inisasi Filter Atasi Krisis Air Musim Kemarau

BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau di DIY Pada Agustus

  • August 11, 2026
BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau di DIY Pada Agustus

Perlu Reorientasi Pendidikan agar Dunia Kerja Bisa Serap para Lulusan

  • August 10, 2026
Perlu Reorientasi Pendidikan agar Dunia Kerja Bisa Serap para Lulusan