
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai mewaspadai potensi penyakit akibat proses pembusukan jenazah memasuki hari ketujuh pencarian korban runtuhnya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur,
Meski jenazah korban bencana tidak menularkan penyakit menular secara langsung, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian serius BNPB dan instansi terkait.
Secara umum, proses pembusukan jenazah menghasilkan cairan dan gas berbau, namun tidak menjadi sumber penularan penyakit seperti HIV, TBC, atau COVID-19. Risiko kesehatan justru muncul bila cairan pembusukan mencemari sumber air bersih, terutama di wilayah padat penduduk atau dengan sanitasi yang kurang baik.
“Kondisi ini dapat memicu penyakit berbasis lingkungan seperti diare, kolera, tifoid, atau hepatitis A, bukan karena kontak langsung dengan jenazah, tetapi akibat air yang terkontaminasi,” jelas Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan, Senin (6/10).
Sebagai langkah mitigasi, BNPB bersama Pusat Krisis Kesehatan RI, Dinas Kesehatan, dan BPBD Jawa Timur akan menambah penyemprotan insektisida dan disinfektan, serta memperkuat pengelolaan lingkungan di area pembersihan puing dan sekitarnya.
“Tujuannya untuk mencegah terjadinya penyakit lanjutan akibat pembusukan jenazah yang sudah memasuki hari ketujuh,” kata Budi. (*/S-01)







