
BALAI Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat Gunung Merapi mengeluarkan dua kali awan panas guguran selama periode pengamatan Jumat (26/9) hingga Kamis (2/10).
Awan panas meluncur ke arah hulu Sungai Sat/Putih sejauh 1.000 meter dan ke hulu Sungai Boyong sejauh 1.500 meter. Selain itu, teramati guguran lava 4 kali ke Kali Bebeng, 59 kali ke Kali Krasak, dan 77 kali ke Kali Sat/Putih dengan jarak maksimum 2.000 meter.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santosa mengatakan aktivitas kegempaan juga meningkat. Tercatat dua kali gempa awan panas guguran, 37 gempa vulkanik dangkal, 753 gempa fase banyak, tiga gempa low frequency, 662 gempa guguran, dan sembilan gempa tektonik. “Intensitas kegempaan kali ini lebih tinggi dibanding minggu sebelumnya,” ujarnya, Sabtu (4/10).
Dari sisi morfologi, teramati sedikit perubahan pada kubah lava barat daya akibat aktivitas guguran. Sedangkan kubah tengah relatif stabil. Analisis foto udara pada 25 Agustus 2025 menunjukkan volume kubah barat daya mencapai 4,17 juta meter kubik dan kubah tengah 2,36 juta meter kubik.
Dengan kondisi tersebut, BPPTKG masih menetapkan status Gunung Merapi di level Siaga (Level III). Suplai magma dinilai masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran di area bahaya. (AGT/S-01)







