
WAKIL Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) menegaskan pentingnya adab dalam dunia pendidikan dan mendorong sejumlah persoalan diselesaikan secara kekeluargaan dan edukatif.
Hal itu dikemukakan Taj Yasin menemui guru madrasah diniyyah (madin) di Kabupaten Demak, Zuhdi yang diminta Rp25 juta oleh orang tua siswa karena dituding telah menampar anaknya.
Taj Yasin mengaku prihatin atas kejadian tersebut. Menurutnya, kasus seperti ini bukan hanya menyangkut individu guru dan murid, melainkan mencerminkan arah pendidikan saat ini. Ia menegaskan guru bukan sosok yang sempurna, namun menegur untuk membimbing adalah bagian dari tanggung jawab mereka.
“Kalau permasalahan kecil dibesarkan, akhirnya anak yang jadi korban. Kasus ini bahkan sempat viral. Anak jadi takut sekolah, guru tertekan, dan nama lembaga pendidikan ikut tercoreng,” ujarnya.
Peran orang tua
Wagub juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam pendidikan karakter anak. Ia menekankan parenting adalah kerja sama antara rumah dan sekolah, bukan saling menyalahkan.
Ia menyampaikan Pemprov Jateng akan memperkuat program ‘Kecamatan Berdaya’ dan menggalakkan edukasi hukum hingga tingkat lokal. Termasuk kolaborasi dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan paralegal, agar masyarakat tak mudah ditekan.
Taj Yasin pun mengajak semua pihak untuk menurunkan ego, saling memaafkan, dan kembali memusatkan perhatian pada misi utama pendidikan, membentuk anak-anak yang beradab dan bermanfaat.
Guru kembali membimbing tanpa beban, murid diberikan pembinaan khusus, dan lembaga pendidikan memperkuat sistem karakter.
Kronologi kejadian
Pada kesempatan sama, Zuhdi mengisahkan kronologi kejadian yang terjadi pada April 2025 lalu. Saat itu, sandal yang dilempar murid dari kelas lain mengenai peci Mbah Zuhdi, yang tengah mengajar. Karena emosi, ia menampar murid yang ditunjuk teman-temannya sebagai pelaku.
Ia mengakui tindakannya itu. Namun ia juga menegaskan tamparan itu tidak dilakukan untuk melukai, melainkan sebagai bentuk teguran. Permintaan maaf pun sudah disampaikan kepada orang tua murid.
Uang damai
Namun, tiga bulan setelah kejadian, Zuhdi didatangi lima pria yang mengaku dari LSM. Mereka mengatasnamakan orang tua siswa meminta uang damai hingga Rp25 juta dengan dalih telah ada laporan ke pihak kepolisian. Namun akhirnya dinego Zuhdi menjadi Rp12.5 juta. Karena tidak punya uang, Zuhdi dibantu teman-temannya.
“Alhamdulillah, Taj Yasin menyampaikan akan mendampingi dan memberi perlindungan. Selain itu kami akan berkoordinasi agar proses hukumnya bisa berjalan supaya guru seperti kami tidak takut ketika mengajar,” ucap Zuhdi.
Zuhdi mengaku, sudah puluhan tahun mengajar di sekolahnya dengan gaji Rp 450 ribu setiap empat bulan. Sehingga merasa berat harus membayar denda. Tetapi akhirnya denda terbayar Rp 12,5 juta setelah dapat bantuan teman-temanya. (Htm/N-01)







