
LONGSOR tambang emas rakyat di Nagari Sungai Abu,Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat akibat penggalian lereng dan curah hujan tinggi.
Hasil analisis ini disampaikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM.
Berdasarkan analisis dari data sekunder yang tersedia di Badan Geologi, secara umum lokasi bencana merupakan perbukitan bergelombang
Dengan kemiringan lereng agak curam. Ketinggian lokasi gerakan tanah diperkirakan berada pada ketinggian 685 meter di atas.
“Gerakan tanah yang terjadi Kamis (26/9) sekitar pukul 17.00 WIB di bekas tambang emas ilegal Nagari Sungai Abu turun hujan dengan intensitas tinggi dan lama,” ujar Kepala PVMBG, Hadi Wijaya di Bandung, Sabtu (28/9).
Berdasarkan Peta Prakiraan Terjadi Gerakan Tanah September 2024, Kabupaten Solok, Provinsi Sumbar termasuk dalam potensi terjadi gerakan tanah Menengah.
“Zona ini dapat diartikan bahwa berpotensi terjadi aliran bahan rombakan dan gerakan tanah/longsoran,” terang Hadi.
Terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.
“Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat,” lanjut Hadi.
Zona Kerentanan Longsor di Solok
Sedangkan berdasarkan peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Provinsi Sumatra Barat, lokasi longsor termasuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah-Rendah.
Hadi menjelaskan wilayah dengan kategori ini mempunyai proporsi kejadian gerakan tanah lebih besar dari 15 persen sampai dengan 30 persen dari total populasi kejadian.
Pada zona ini gerakan menengah tanah dapat terjadi terutama pada wilayah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir/lereng curam.
Juga tebing pemotongan jalan dan lereng yang mengalami gangguan.
Gerakan tanah lama dan baru dapat terjadi atau aktif kembali jika dipicu oleh curah hujan tinggi dan/atau gempabumi.
Penyebab lainnya akibat penggalian lereng dengan sudut yang terlalu curam atau tanpa penopang yang memadai.
“Sehingga ketika hujan deras turun, air meresap ke dalam retakan atau rekahan di lereng, meningkatkan tekanan air pori (pore pressure) menyebabkan tanah kehilangan stabilitas dan longsor,” jelasnya.
Penggaliaan bawah tanah atau batu atau urat maupun pembuataan rongga/ penggalian lereng menyebabkan keruntuhan lereng.
Serta penambangan yang terjadi di area terdampak tidak memliki sistem drainase yang baik.
Sehingga air hujan terkumpul di area galian dan lereng tambang, menyebabkan pelarutan partikel tanah yang mempercepat proses erosi.
“Air yang tertahan di permukaan tanah juga menambah beban pada lereng, yang dapat memicu pergerakan tanah,” pungkasnya. (*/S-01)







