
SEKELOMPOK mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil mengembangkan sebuah platform yang berfungsi memantau karakteristik pernapasan secara non-invasif dan real-time.
Platform wearable berbasis sensor accelerometer ini dinamai RespiraTB.Inovasi tersebut dirancang sebagai alat skrining awal guna membantu masyarakat yang memiliki gejala mencurigakan tuberkulosis (TBC) tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
Mahasiswa tersebut Afwan Aditya Saputra dari Program Studi Informatika, Fakultas Teknologi Industri UII, bersama Isfana Fatimah Darman dari Kedokteran dan Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar dari Manajemen Rekayasa, mengembangkan RespiraTB ini melalui riset kewirausahaan dalam ajang The 12th UTU Awards 2026.
Manfaatkan sensor
Ketua Tim Afwan Aditya Saputra, mahasiswa Program Studi Informatika, Program Sarjana FTI UII (2025) di Yogyakarta, Sabtu menjelaskan RespiraTB memanfaatkan sensor accelerometer/IMU untuk membaca perubahan gerakan mekanis dinding dada dan aktivitas otot bantu pernapasan.
Data, lanjutnya diproses menggunakan ESP32, algoritma filtering dan sistem skoring berbasis ambang statistik sebelum dikirim secara nirkabel ke aplikasi mobile melalui platform Firebase.
“Sistem dirancang untuk memantau respiratory rate (RR) dan work of breathing (WoB),” jelasnya.
Menurut dia hasil pengujian menunjukkan Respira memiliki tingkat akurasi pembacaan respiratory rate sebesar 98,28% yang berarti lebih baik dibandingnan dengan penghitugan secara manual.
Empat skenario
Dikatakan deviasi maksimal yang ditemukan sebesar satu napas per menit. Sementara itu, sensor accelerometer MPU6050 memperoleh akurasi rata-rata 92,08% dalam pengujian terhadap metode Esophageal Pressure Catheter.
Dikatakan, sistem juga diuji melalui empat skenario, yakni sensor terhubung, kondisi normal, perlu pemantauan dan segera diperiksa. Seluruh skenario, ujarnya, menunjukkan keberhasilan klasifikasi 100% sesuai kategori yang ditetapkan.
“Pengiriman data dari ESP32 ke Firebase mencapai tingkat keberhasilan 100% dengan waktu transmisi rata-rata 2,2 detik,” imbuhnya.
Indeks pernapasan
Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman dan Kealumnian FTI UII dan Ir Ali Parkhan MT yang juga pembimbing tim mengatakan, dalam rancangan aplikasinya, RespiraTB menampilkan Indeks Pernapasan dalam skala 0–100 yang dikategorikan menjadi Normal, Perlu Pemantauan dan Segera Periksa.
Dikatakan aplikasi ini juga menampilkan laju napas, aktivitas otot aksesori, pola napas, serta gejala subjektif. Jika skor meningkat secara konsisten, sistem memberikan notifikasi dan rekomendasi untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
Dari sisi model bisnis, tim memproyeksikan pasar RespiraTB melalui pendekatan business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C).
Pendekatan B2B diarahkan melalui kemitraan dengan Dinas Kesehatan, dana BOK puskesmas, serta mitra seperti Stop TB Partnership Indonesia dan Global Fund. Sementara pendekatan B2C dilakukan melalui kanal digital, edukasi komunitas, dan kolaborasi dengan organisasi kesehatan masyarakat.
Target penjualan
Riset tersebut memproyeksikan Total Addressable Market (TAM) sebesar Rp1,035 triliun per tahun. Fokus awal diarahkan ke Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah dengan estimasi Serviceable Available Market (SAM) Rp436,2 miliar per tahun.
Pada tahun pertama, tim menargetkan penjualan 1.380 unit dengan harga Rp950.000 per unit atau sekitar Rp1,31 miliar. (AGT/M-01)









