
ANAK MUDA dengan rentang usia 15 hingga 24 tahun khususnya perempuan banyak yang mengalami depresi. Hal itu karena terjadi pada saat mereka berada pada masa quarter-life crisis.
Namun yang disayangkan layanan profesional belum merata di seluruh wilayah Indonesia sehinngga banyak individu tidak ditangani dengan baik. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dari survei 54 juta penduduk terdapat 20% yang emosional mereka terganggu. Namun hanya 8% diantaranya yang mendapatkan bantuan secara profesional.
Gangguan kesehatan mental terjadi ketika stimulus dari luar masuk ke dalam diri manusia melalui panca indra. Cara individu mempersepsikan stimulus tersebut menentukan apakah hal tersebut akan menjadi masalah atau tidak untuk dirinya.
Individu akan dikatakan sehat jika dirinya bahagia, mampu mengatasi tekanan yang dihadapi sehingga dapat bekerja secara produktif dan dapat memberikan manfaat bagi yang lain.
Mampu atasi tekanan
“Seseorang dikatakan sehat secara mental apabila bahagia hatinya, mampu mengatasi tekanan, produktif kinerjanya, dan bermanfaat bagi sesama,” kata Dr. Moordiningsih, M.Si, Psikolog., alumnus Fakultas Psikologi UGM dalam seminar “Kebijakan dan Implementasi Layanan Kesehatan Mental bagi Masyarakat” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kependudukan dan kebijakan (PSKK) UGM.
Dikatakan persebaran dan keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) psikolog juga menjadi tantangan bagi dunia kesehatan. Banyak individu menimba ilmu di pusat kota tetapi enggan untuk kembali ke daerahnya mengakibatkan kurang meratanya layanan tersebut.
Ia merekomendasikan strategi dalam memenuhi kebutuhan psikolog klinis dengan prinsip merata dan bermutu. Di antaranya, meratanya layanan kesehatan mental di Indonesia, ketersediaan SDM tenaga kesehatan kompeten, jumlah psikolog klinis di puskesmas, sistem pendidikan bagi nakes untuk layanan kesehatan jiwa, sistem layanan rujukan dan pembiayaan, dukungan keluarga, komunitas, dan kebijakan pemerintah setempat.
Optimalkan peran dan fungsi
“Kesehatan mental bukan masalah pengobatan saja tapi butuh dukungan layanan yang tepat pada tingkat yang tepat. Hal ini membutuhkan regulasi pengambil kebijakan,” tuturnya.
Moordiningsih mengingatkan setiap manusia dilahirkan dengan peran yang berbeda-beda di berbagai bidang ilmu. Oleh karena itu, Ia mengajak masyarakat untuk dapat mengoptimalkan peran dan fungsi masing-masing untuk membantu kesehatan diri dan manusia yang lain.
“Dengan peran kita masing-masing, mari optimalkan untuk membantu kesehatan diri kita dan kesehatan sesama manusia,” pungkasnya. (AGT/M-01)








