Perguruan Tinggi Didorong Raih Reputasi Global

PERGURUAN TINGGI didorong untuk melakukan transformasi organisasi untuk mengejar reputasi global tanpa harus kehilangan jati diri. Hal itu disampaikan Menko PMK Pratikno saat mengisi pelatihan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) secara daring di hadapan para pimpinan dan calon pemimpin perguruan tinggi yang berlangsung di Balai Senat UGM, Kamis (24/9)

Transformasi, jelasnya, sebagai proses yang membutuhkan arah strategis sekaligus kemampuan menyesuaikan diri dengan konteks masing-masing institusi. Pada akhirnya, kemajuan perguruan tinggi ditempatkan dalam kaitannya dengan manfaat yang lebih luas bagi manusia dan masyarakat.

“Mari kita gunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan. Mari kita mengejar reputasi global tanpa kehilangan jati diri. Mari kita menggunakan otonomi untuk memperbesar manfaat publik,” kata Pratikno.

Visi, statuta, renstra dan rencana induk

Untuk mendorong transformasi organisasi, Pratino mengingatkan pimpinan perguruan tinggi untuk menetapkan visi, statuta, rencana strategis, rencana induk, dan anggaran tahunan berjalan dalam satu garis, sekaligus melakukan evaluasi secara berkala agar strategi dapat disesuaikan ketika kondisi berubah.

Didukung ketersediaan data yang akurat menjadi bagian penting dalam proses tersebut, termasuk untuk membantu pimpinan mengambil keputusan secara lebih tepat.

“Semaunya dievaluasi secara berkelanjutan tapi harus tetap mempertahankan arah. Dashboard pimpinan ini sangat penting untuk memonitor data live dan membuat keputusan secara presisi,” tutur Pratikno.

BACA JUGA  Panitia Pemilihan Calon Rektor UNS Resmi Tutup Pendaftaran

Dalam kerangka transformasi tersebut, bidang pendidikan, riset, sumber daya manusia, digitalisasi dan kecerdasan artifisial, keuangan, tata kelola, hingga internasionalisasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem yang saling berkaitan.

Mandat utama perguruan tinggi

Adapun dalam hal pemanfaatan teknologi, perlu disertai perhatian pada privasi, keamanan, integritas akademik, dan kesenjangan akses, sementara kemandirian keuangan diarahkan untuk menjaga mutu pendidikan, keberlanjutan riset, fasilitas, serta kesejahteraan sivitas akademika.

Menurutnya, arah pengelolaan tersebut pada akhirnya tetap perlu berpijak pada mandat utama perguruan tinggi untuk menghasilkan manusia dan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kemandirian keuangan bukan berarti universitas harus menjadi entitas komersial. Kemandirian keuangan berarti universitas mampu menjaga mutu, keterjangkauan, menjaga riset, menjaga fasilitas dan menjamin kesejahteraan secara berkelanjutan,” jelas Pratikno.

Tingkatkan kinerja organisasi

Sementara Ketua Dewan Guru Besar (DGB) UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., menuturkan penyusunan rencana strategis atau renstra merupakan bagian penting dalam tahapan perjalanan kepemimpinan organisasi di sebuah perguruan tinggi.

Renstra bahkan perlu disusun dengan melihat capaian kepemimpinan sebelumnya, kondisi organisasi saat ini, serta tantangan yang akan dihadapi dalam beberapa tahun ke depan. Dari pijakan tersebut, perguruan tinggi dapat menentukan target sekaligus langkah untuk membawa organisasi menuju kondisi yang diharapkan.

BACA JUGA  Dekan Fakultas Peternakan UGM Dipercaya Pimpin AAACU

“Fungsi utama dari Renstra itu sebetulnya meningkatkan kinerja organisasi, lalu menyusun rencana kerja dan penganggaran serta mengevaluasi dan memantau kinerjanya,” jelas

Transformasi tata kelola organisasi perguruan tinggi, menurut Panut perlu dilihat dari sisi manfaat yang dihasilkan bagi sivitas akademika dan masyarakat.

Peningkatkan kesejahteraan dosen

Perubahan yang dilakukan dapat menghasilkan dampak berantai, misalnya ketika peningkatan kesejahteraan dosen mendorong kualitas pembelajaran dan pada akhirnya berpengaruh terhadap kualitas lulusan.

Dengan demikian, capaian transformasi perlu dibaca dari kemanfaatan yang muncul bagi berbagai pihak, bukan semata dari perubahan kelembagaan yang dilakukan.

“Kalau kita bisa membuat transformasi perguruan tinggi, dosen-dosennya menjadi lebih bahagia, lebih sejahtera. Kemudian nanti dampak lanjutannya mengajarnya baik, kemudian lulusannya dididik dengan baik,” jelas Panut.

Pintu masuk diskusi

Perspektif mengenai dampak tersebut kemudian menjadi pintu masuk diskusi peserta. Salah satu pertanyaan yang muncul berkaitan dengan posisi inovasi ketika perguruan tinggi harus berjalan dalam kerangka regulasi dan memiliki sumber daya yang terbatas.

BACA JUGA  Alumni 2024 Kampus UPI Cibiru Raih Beasiswa di NDHU Taiwan

Peserta juga membagikan pengalaman bahwa perubahan kultur organisasi membutuhkan waktu, bahkan ketika visi dan Renstra telah disusun, sehingga implementasi menjadi tantangan tersendiri bagi pimpinan.

Menanggapi persoalan tersebut, Panut menilai perguruan tinggi memang masih menghadapi keterbatasan dalam menjalankan otonomi, terutama ketika inovasi berhadapan dengan mekanisme pertanggungjawaban yang berlaku.

Diskusi juga berkembang pada persoalan pendanaan inovasi. Panut menjelaskan bahwa perguruan tinggi perlu memiliki kemampuan mengembangkan sumber daya untuk mendukung gagasan dan program yang ingin dijalankan, termasuk melalui pemanfaatan hasil riset dan pengelolaan aset secara tepat.

Teaching university

Pada saat yang sama, capaian sebuah universitas tidak dapat dilepaskan dari konteks dan tahap perkembangannya. Perguruan tinggi yang masih berorientasi pada teaching university, misalnya, tetap dapat menghasilkan dampak melalui lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki karakter yang baik.

“Dampak itu tidak seragam ukurannya. Jadi bagi universitas yang masih menyatakan diri sebagai teaching university, menghasilkan lulusan-lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat itu juga berdampak,” paparnya. (AGT/M-01)

Related Posts

Mahasiswa RPL Unisa Raih Predikat Terbaik Uji Kompetensi Keperawatan

FAKULTAS Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta sukses menggelar Upacara Sumpah Profesi untuk 667 lulusan tenaga kesehatan professional di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan Unisa Yogyakarta pada Jumat, (2/10).…

Bantu Mahasiswa UTS, Fapet UGM Bagikan 2.577 Butir Telur Rebus Gratis

UNTUK membantu mahasiswa yang akan menjalani Ujian Tengah Semester (UTS), Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada membagikan 2.577 butir telur rebus. Telur rebus itu dibagikan pada periode UTS 5-14 Oktober.Telur dibagikan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Juarai FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Akhiri Penantian Panjang

  • October 6, 2026
Juarai FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Akhiri Penantian Panjang

Mahasiswa RPL Unisa Raih Predikat Terbaik Uji Kompetensi Keperawatan

  • October 5, 2026
Mahasiswa RPL Unisa Raih Predikat Terbaik Uji Kompetensi Keperawatan

Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

  • October 5, 2026
Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

PSI Cianjur Bidik Enam Kursi DPRD pada Pileg 2029

  • October 5, 2026
PSI Cianjur Bidik Enam Kursi DPRD pada Pileg 2029

Bawa Suara Petani, Film Dokumenter Karya Mahasiswa UGM Tembus Semifinal Inspiring Asia

  • October 5, 2026
Bawa Suara Petani, Film Dokumenter Karya Mahasiswa UGM Tembus Semifinal Inspiring Asia

Bantu Mahasiswa UTS, Fapet UGM Bagikan 2.577 Butir Telur Rebus Gratis

  • October 5, 2026
Bantu Mahasiswa UTS,  Fapet UGM Bagikan 2.577 Butir Telur Rebus Gratis